Paudfip's Blog

EFEKTIFITAS METODE PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Subhanallah, maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an melalui Nabi Muhammad Rosulullah SAW, sebagai sumber ilmu dan penenang sekaligus sebagai obat bagi jiwa yang hampa ini.
Anak adalah amanah Allah kepada orangtua, dan sebagai orangtua kita dituntut memberikan pendidikan yang semaksimal mungkin, tentunya sebagai umat muslim kita memberikan pendidikan itu berusaha sejalan dengan pedoman dasar yang bersifat hakiki yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Mencermati arus modern dewasa ini yang melanda seluruh masyarakat dunia, akibat pengaruh dari kemajuan teknologi dan informasi, tidak kecuali masyarakat muslim tentunya, diperlukan beberapa strategi untuk menyikapi kemajuan-kemajuan itu agar meminimalisir efek negatif dan memaksimalkan keuntungan positif sebagai instrumen untuk membekali anak didik menjadi pemimpin-pemimpin yang akan menguasai kecanggihan teknologi dan membekali dengan ketauhidan yang berakhir pada kualitas iman Islam.
Sebagai pendidik dan orangtua yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya, maka diperlukan beberapa metode-metode pengembangan pembelajaran agama Islam yang harus dimiliki oleh pendidik agar dalam proses pendidikan itu menghasilkan generasi muslim yang mencerminkan nilai-nilai Islami baik sisi spiritual maupun mentalnya.

B. Analisis Permasalahan
Dengan pemahaman dan perenungan yang disampaikan di atas, maka timbullah beberapa pertanyaan yang hendak kami coba untuk menguraikan semampunya :
1. Apa pengertian dari metode ?
2. Macam-macam metode pembelajaran agama Islam pada anak usia dini ?
3. Bagaimana relevansi metode dengan tujuan pendidikan agama Islam pada anak usia dini ?

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Sesuai dengan kesepakatan para tokoh atau pakar pendidikan Islam, pendidikan anak dalam Islam adalah usaha yang dilakukan secara sadar dalam misi untuk mengarahkan, membina spiritual dan jasmani anak didik secara menyeluruh kearah yang lebih optimal dengan metode pengembangan pembelajaran agama Islam menuju terbentuknya pribadi muslim yang berakhlak mulia.

B. Landasan Religius
Anak terlahir membawa fitrahnya masing-masing dengan berbagai potensi yang dimilikinya (fisik, psikomotorik, intelegence, kemampuan bahasa, dll). Semua itu akan berkembang optimal apabila mendapat pengaruh atau stimulasi dari luar dirinya yang perlu ditumbuh kembangkan atau didikkan.
Rasulullah SAW bersabda : “Setiap bayi yang terlahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam) maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya seseorang Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhori)
Melalui pendekatan metodologi pengembangan pembelajaran agama Islam pada anak usia dini akan menciptakan anak-anak yang mempunyai mental dan spiritual sesuai ajaran Islam untuk bekal kehidupannya yang mandiri dan berakhlak mulia, hal ini sesuai dengan misi kerasullan Nabi Muhammad SAW yaitu diutus Allah ke muka bumi tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia (Lii Utammimma Makarim Al Akhlak)

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode
Metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan Jadi fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa atau usaha-usaha yang terencana dalam proses belajar mengajar.
Wajib bagi seorang pendidik untuk menguasai sejumlah metode-metode dalam mengembangkan pembelajaran pada anak usia dini terutama tentang konsep ajaran agama Islam.

B. Macam-macam Metode
1. Metode Cerita
Mendidik anak dengan menggunakan metode bercerita (At Tarbiyah bi al-Qishah) adalah merupakan cirri khas yang dimiliki oleh Al Quran yaitu saat memaparkan cerita-cerita para Nabi dan orang-orang terdahulu dengan maksud untuk dijadikan sebagai peringatan atau pelajaran.
Sebagai ulama terdahulu berpendapat bahwa cerita merupakan salah satu senjata Allah SWT yang dapat meneguhkan hati para walinya ’’Dan semua kisah dari Rasul-rasul kami ceritakan kepada kamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu’’ (QS Huud:120)

Metode ini mempunyai pengaruh yang besar bagi jiwa dan akal, dan meningkatkan kecerdasan berfikir seorang anak sebab cerita tersebut memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri.

Beberapa cara dalam memaparkan cerita
1. Secara lisan dengan memperhatikan gerakan setiap tokoh dalam sebuah cerita tersebut. Cara ini dianjurkan untuk kalangan anak usia dibawah 4tahun.
2. Dengan memgunakan kaset seperti kaset-kaset cerita anak shaleh Dll. Cara ini cocok untuk kalangan usia 5-13 tahun.
3. Dengan menggunakan video seperti film Ar Risalah yang menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW. Cara ini cocok untuk kalangan usia diatas 8 tahun.
4. Cerita-cerita dalam bentuk tulisan dan gambar, cara ini hanya untuk anak-anak yang bisa membaca.

Cerita sebelum tidur sangat penting bagi anak karena kehidupannya yang dipenuhi dengan khayalan, cerita tersebut akan melekat dalam ingatan anak sehingga tidak mudah dilupakan dan telah membaur atau menetap dalam pusat ingatan ketika tertidur. Dan seluruh cerita serta pesan moral yang diberikan akan tertanam kuat untuk sepanjang hayatnya. Karena orang tua hendaknya hati-hati dalam memilih cerita untuk anak.

2. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah caa guru mentransformasikan materi pelajaran melalui tanya jawab. Menurut teori Taksonomi Bloom ada 6 macam pertanyaan yang baik untuk dijadikan pedoman tanya-jawab yaitu :
a. Pertanyaan mengenai ingatan, memori, atau hafalan
b. Pertanyaan untuk mengecek pemahaman
c. Pertanyaan mengenai penerapan
d. Pertanyaan analisis
e. Pertanyaan kemampuan berfikir kreatif atau sintesis
f. Pertanyaan bersifat penilaian atau evaluatif yang dilakukan di akhir proses belajar, atau dengan istilah Post test.
Kelebihan dari metode tanya jawab adalah :
a. Situasi kelas akan hidup karena para siswa aktif dengan berbicara / mejawab pertanyaan
b. Melatih para siswa untuk berani mengungkapkan pendapat lisan secara teratur
c. Merangsang para siswa untuk melatih dan mengembangkan daya ingatan

3. Pemberian Tugas (Resitasi)
Metode ini merupakan suatu cara dalam proses belajar mengajar, dimana guru memberi tugas tertentu dan siswa mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru
Syarat-syarat pemberian tugas adalah sebagai berikut :
a. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah mereka pelajari
b. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa akan dapat dilaksanakannya sesuai dengan kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya
c. Guru harus menanamkan kepada siswa bahwa tugas yang diberikan kepada mereka akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang timbul dari hati sanubarinya
d. Jenis tugas yang diberikan kepada siswa harus dimengerti benar-benar, sehingga murid tidak ada keraguan dalam melaksanakannya
Metode ini bertujuan untuk :
a. Melatih para siswa untuk bertanggung jawab terhadap tugasnya
b. Menanamkan rasa responsibility terhadap proses pembelajaran
c. Melatih psikometer dan keterampilan tertentu
d. Menanamkan kebiasaan belajar tanpa diberi tugas, tekun dan semangat belajar untuk masa depan
4. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan sesuatu di hadapan siswa untuk memperjelas pengertian, misalnya cara salat, tayammum, dan lain-lain. Secara psikhodegagogis manfaat metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Dapat mempertinggi perhatian dan kekhusukan peserta
b. Keaktifan mereka termotivasi karena seluruh panca indera berfungsi dan mempercepat penguasaan ilmu dan keterampilan yang diajarkan
c. Memperkecil verbalisme pada diri para siswa

Kelebihan dari metode demonstrasi yakni :
a. Perhatian siswa akan dapat terpusat sepenuhnya pada apa yang didemonstrasikan.
b. Memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan keterampilan dalam berbuat.
c. Hal-hal yang menjadi teka-teki siswa dapat terjawab melalui demonstrasi.
Kelemahan metode demonstrasi yaitu :
a. Persiapan dan pelaksanaan memakan waktu yang lama.
b. Metode ini akan tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.
c. Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuannya dalam melaksanakan .

5. Metode Bermain Peran
Metode ini dapat merangsang jiwa belajar peserta didik dan melihat atau mereka langsung aktif dalam kelas, misalnya tentang salat berjamaah; ada muadzin, jamaah, imam, dalam hal ini, guru tinggal mengawasi dan mengoreksinya
Dampak psikologis dan pedagogis dari metode ini adalah sebagai berikut :
a. Menimbulkan rasa tanggung jawab masing-masing untuk berhasilnya peran mereka
b. Mempererat kedekatan diantara mereka
c. Guru dan para siswa dapat bekerjasama dalam membicarakan pokok bahasan yang disepakati untuk diperankan
Dalam metode ini, guru sangat dituntut untuk menguasai kompetensi pembelajaran, yaitu :
a. Menguasai materi
b. Mampu mengelola program belajar mengajar
c. Mampu mengelola kelas
d. Mampu menggunakan media dan sumber belajar
e. Mampu menggunakan landasan kependidikan
f. Mampu mengelola intraksi belajar mengajar
g. Mampu menilai prestasi peserta didik
h. Mampu mengenali fungsi program bimbingan dan penyuluhan
i. Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah
j. Mampu menguasai prinsip-prinsip penelitian
Untuk dapat melakukan 10 point tersebut, guru dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas diri dengan cara meningkatkan; kompetensi akademik, kepribadian dan kompetensi sosial

6. Metode Lagu
Metode lagu adalah metode yang sangat efektif untuk diterapkan dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada anak usia prasekolah khususnya di TK Islam.
Metode lagu diterapkan menggunakan dua cara yaitu :
a. Secara lisan
b. Menggunakan kaset dan diiringi dengan gerakan tari
Manfaat lagu di TK antara lain : kaset dan tape recorder, guru yang ahli dalam menyanyi dan menari, dan suara merdu dari guru. Sedangkan faktor yang menghambat antara lain : kondisi anak, kondisi guru dan kondisi lingkungan.
Media yang digunakan dalam penerapan metode lagu adalah kaset dan tape recorder. Adapun manfaat metode lagu dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam di TK antara lain :
a. Mengenai ajaran Agama Islam sejak usia dini
b. Mampu menghafal materi PAI dengan cepat dan mudah
c. Menanamkan jiwa keberagaman pada anak
d. Anak lebih cepat menyerap dan memahami makna agama
e. Menggugah perasaan dan emosi anak dalam belajar tanpa harus ada unsur paksaan
f. Mampu mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

7. Metode Disiplin
Metode disiplin merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pada prilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu. Terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral (Sukadji 1988) di dalam keluarga pendidikan disiplin dapat diartikan sebagai metode bimbingan orangtua agar anaknya mematuhi bimbingan tersebut. Setiap orangtua pasti berusaha untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya dengan menanamkan prilaku yang dianggap baik dan menghindari prilaku yang dianggap tidak baik
8. Metode Keteladanan
Metode keteladanan adalah satu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Al-Qur’an secara utuh, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab 133:21.
Orangtua atau pendidik adalah figur yang terbaik dalam pandangan anak yang segala tingkah lakunya sadar atau tidak sadar ditiru oleh mereka atau akan tertanam dalam pribadi mereka, maka dari itu kita sebagai pendidik atau orangtua pada khususnya mencontohkanlah yang baik bagi anak-anak kita baik di rumah maupun di sekolah, selain mencontoh prilaku kita tanamkan juga teladan bagi anak-anak teladan yang baik seperti Rasulullah dan orang alim lainnya.
Rasulullah SAW mempresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakannya dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Allah SWT, bagaimana duduk dalam salat dan doa, bagaimana makan, bagaimana tertawa dan lain sebagainya menjadi acuan bagi para sahabat.

C. RELEVANSI METODE DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN
Islam merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada umat manusia dimuika bumi agar mereka beribadah kepada-Nya. Tujuan pelaksanaan syariat ini menuntut adanya pendidikan manusia. Pendidikan disini adalah pendidikan Islam. Syariat Islam hanya dapat dilaksanakan dengan mendidik diri, generasi dan masyarakat supaya beriman dan Islam juga merupakan petunjuk jalan yang benar dan lurus bagi manusia, untuk mencapai ridho Allah dan bukan jalan yang dimurka-Nya. Dengan demikian berarti Islam memberikan pelajaran kepada manusia mengenai cara menjalani dan menjalankan hidup dan kehidupan yang baik dan benar untuk mencapai keberuntungan di dunia dan akhirat.
Oleh sebab itu, pendidikan Islam menjadi kewajiban orangtua dan guru untuk disampaikan ke generasi berikutnya dengan metode-metode pengembangan pembelajaran melalui pendekatan ajaran agama yang sangat relevan sekali dengan tujuan pendidikan dalam Islam karena pendidikan Islam merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk pendagogis yang dididik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi.
Pengajaran melalui metode-metode kepada anak usia dini juga disesuaikan dengan perkembangan aspek-aspek psikologisnya, yang diantaranya adalah perkembangan kemampuan berfikir (kognisinya) karena anak usia dini merupakan masa pertumbuhan yang paling peka dan sekaligus paling sibuk.
Pentingnya pendidikan yang diberikan menurut pendekatan yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang memusatkan perhatian pada anak. Sebab anak merupakan dambaan bagi setiap orangtua atau pendidik yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara dan terciptanya muslim hakiki. Melihat peran yang begitu vital, maka penerapan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan agar tujuan pendidikan dapat tercapai, dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode adalah cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Macam-macam metode :
• Metode cerita
• Metode tanya jawab
• Metode pemberian tugas
• Metode demonstrasi
• Metode bermain peran
• Metode lagu
• Metode disiplin
• Metode ketaladan

Relefansi metode dengan tujuan pendidikan sesuai dengan tujuan syariat Islam supaya beriman kepada Allah SWT untuk mencapai keberuntungan di dunia dan akhirat.
Pemberian metode itu disesuaikan dengan perkembangan aspek-aspek psikologisnya. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan.

B. Saran
Sebagai seorang guru kita dituntut agar dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk lebih berkembang. Oleh karena itu sebagai seorang pendidik harus menguasai kemampuannya dalam mengelola kelas. Dengan demikian ia harus mempunyai strategi pembelajarannya. Dan alat pembelajaran dimaksud adalah metode-metode terutama tentang pendidikan agama Islam untuk anak usia dini
Sebelum memberikan metode-metode tersebut terlebih dahulu guru / pendidik menguasainya dengan belajar keagamaan, perkembangan anak agar metode yang diberikan tidak terlalu sulit sesuai dengan tahap usianya dan mencoba mempraktekkan metode-metode yang dikuasainya, serta ikhlas dalam mengajarkannya demi kemajuan anak didik.

DAFTAR PUSTAKA

- Prof. Dr. H. Aminuddin Rasyad
Judul Buku : Teori Belajar dan Pembelajaran
Penerbit : UHAMKA Press & Yayasan PEP EX8

- Hj. Masyitoh Ch, dkk
Judul Buku : Paradigma Baru Dalam Pendidikan
Penerbit : Zikrul Hakim

- http://mail.geogle.com/maiL

by, students from UMJ , PG-PAUD, smester III

B A B I
P E N D A H U L U A N
1.1. LATAR BELAKANG
Kisah seorang raja yang hendak mendidik warganya agar dapat mendidik anaknya dengan baik, yaitu dengan cara menjanjikan akan mengadopsi dua orang anak (putera dan putri) yang akan dijadikan pangeran dan puteri raja kelak dari kalangan suatu desa terpencil, dengan memberi tenggang waktu satu tahun untuk mempersiapkan anak-anak tersebut. Dengan harapan akan bahwa anak mereka akan terpilih menjadi pangeran/puteri yang di janjikan sang raja, semua warga desa sibuk mempersiapkan anaknya dan serentak berlomba, lebih memperhatikan pendidikan, kesehatan dan penampilan anak-anak mereka. Yang jelas, sejak saat itu anak-anak di desa itu mendapatkan yang terbaik untuk kebutuhan mereka.
Satu tahun berlalu ketika sang raja kembali ke desa tersebut, Ketika semua rakyat berharap akan mendapatkan anaknya terpilih sebagai puteri/pangeran, Sang Raja berkata “Apa yang kalian lakukan selama setahun ini adalah memang selayaknya kalian lakukan sebagai orang tua….., Kalian memberikan yang terbaik bagi anak-anak kalian …Karena memang sebenarnya setiap anak adalah pangeran dan puteri yang berhak mendapat semua yang terbaik bagi kebutuhan mereka…! Selamat dan terima kasih aku ucapkan atas yang telah kalian lakukan bagi anak-anak kalian.Sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak-anak terbaik dan harapan terbaik bagi Negara ini.
Melihat kisah di atas, sebagai orang tua memang harus bersedia untuk selalu berbuat yang terbaik, dengan terus memperkaya diri kita demi anak-anak. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan mendorong perkembangan moral anak-anak kita agar bergerak kearah yang lebih baik.
Hubungan orang tua dengan anak, semestinya adalah sebuah hubungan yang manis, indah dan menyenangkan, sesuatu yang mampu membuat dada terasa lega dan senyum cerah tersungging dibibir saat megingatnya. Hubungan yang seharusnya mampu menyenangkan kedua belah pihak, baik orang tua maupun anak. Karena hubungan orang tua dan anak adalah hubungan kasih sayang, hubungan yang tidak terbatas.
Akan tetapi seringkali terjadi adalah kebalikan dari hal itu. Hubungan, kemudian seringkali diartikan sebagai ‘permasalahan’ orang tua dan anak. Adalah hubungan yang kenyataannya lebih sering memusingkan kepala, menambah beban yang ada, dan membuat orang tua seolah tidak berdaya karena ketidak mampuan orangtua untuk menyiasatinya.
Satu hal terberat saat menghadapi anak-anak adalah, seolah orang tua dihadapkan pada dirinya sendiri, karena anak-anak secara sederhana adalah merupakan cermin dari orang tua. Dengan segala pertanyaan besar di benak setiap orang tua, akan berhasilkah mereka mendidik anak-anaknya? Apakah hasil dari didikan mereka nantinya? Apalagi jika berpikir tentang pendidikan moral bagi anak-anak, seperti apakah yang terbaik?
Benar memang, tidak pernah ada sekolah khusus bagi untuk mendidik orang menjadi orang tua. Semuanya mesti dipelajari dengan berada ditengah- tengahnya( mengalami menjadi orang tua), dengan ditambah sedikit bekal dari pengalaman yang diberikan orang tua dulu. Oleh karena itu sudah selayaknya jika setiap orang tua selalu berupaya untuk belajar, belajar, dan belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

1.2. PERUMUSAN MASALAH
Melihat latar belakang permasalahan, bahwa setiap orang tua diharapkan banyak belajar demi keberhasilannya dalam mendidik putera-puterinya terutama dalam hal pendidikan moral bagi anak, maka, setiap orang tua hendaklah memahami hal hal seperti;
• Bagaimana anak belajar membedakan yang benar dan yang salah?
• Bagaimana cara mengajar anak menjadi manusia yang lebih enhance (meningkatkan kualitas kehidupan) daripada disminish (menurunkan) kualitas kehidupan dalam masyarakat?
• Bagaimanakah cara orang tua menyampaikan kepada mereka sebuah kepekaan moralitas, nilai, tanggung jawab social?
Untuk mejawab semua pertanyaan diatas, maka makalah ini akan mengawalinya dengan memahami makna moral terlebih dulu, yang akan di bahas dalam kajian teori, serta lebih lengkapnya akan dibahas dalam bab pembahasan masalah.

B A B I I
K A J I A N T E O R I
2.1. DEFINISI MORAL
Jika istilah moral didefinisikan akan berbunyi,” moral berkenaan dengan norma-norma umum, mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang.”
Ketika orang berbicara tentang nilai-nilai moral, pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain. Pada anak-anak, nilai-nilai moral akan terlihat dari mampu tidaknya seorang anak membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Jujur, baik hati, dapat dipercaya, ramah, setia kawan, dermawan, berempati, bersahabat, lembut, penuh kasih, ceria, menghargai orang lain, hanyalah beberapa ciri-ciri yang dapat ditemui pada orang-orang yang dianggap memiliki nilai-nilai moral yang baik.
2.3. TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL MANUSIA
Dan anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral ini secara perlahan dan melalui beberapa tahapan tertentu. Dibutuhkan kesabaran orangtua untuk memahami perkembangan moral sebagai proses panjang dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seorang manusia. Salah satu tokoh yang menekuni masalah perkembangan moral adalah Kohlberg. Menurut teorinya, ada (3) tingkatan perkembangan moral anak, dan masing-masing tingkatan memiliki (2) tahapan, yaitu;
• Tingkat pertama dikenal dengan Preconventional Morality
Tahap 1: Obedience and Punishment orientation
Dalam tingkat ini anak cenderung menghindari hukuman, maka anak akan terlihat sangat patuh dan berbuat baik untuk menghindari hukuman. Misalnya tidak akan bermain jauh karena akan dimarahi orang tua.
Tahap 2: Naïve Hedonistic and Instrumental Orientation
Dalam tahap ini, anak akan mulai dapat membedakan akibat fisik (Jika hukuman fisik terpaksa dilakukan orang tua, misal memukul pantatnya). Disini pemikiran anak mengenai benar atau salah belum jelas, tergantung apakah itu memuaskan keinginannya atau tidak. Misalnya, anak berkata,” Saya akan mengerjakan PR kalau nanti malam boleh nonton TV”. Biasanya tingkat dan tahapan ini ditemui pada usia anak dibawah 10 tahun.
• Tingkat kedua dikenal dengan Conventional
Tahap 3: Good Boy Nice Girl Morality
Dalam tingkat ini anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh orang lain (keluarga atau kelompok lain seperti sekolah). Dan dalam tahap ke 3 ini, anak akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan social yang ada di sekitarnya. Anak akan bertindak tertentu karena menganggap prilaku itu baik untuk keluaga atau kelompoknya. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak egosentris lagi.
Tahap 4: Authority and Morality
Dalam tahap ini, anak menganggap nilai moral baik atau buruk merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban masyarakat.
Tingkat dan tahapan ini terjadi pada anak usia 10-21 tahun.
• Tingkat ketiga disebut dengan Post Conventional
Dalam Tingkat ini anak sudah mengerti aturan social yang ada.
Tahap 5: Social Legality
Dalam tahapan ini, anak akan menentukan apakah aturan tersebut sesuai dengan moral atau tidak, jika sesuai ia akan mengikuti aturan tersebut dan sebaliknya.
Tahap 6: Morality of individual principles and Conscience
Dalam tahap terakhir ini, penalaran moral sudah merupakan kata hati/ rilekunya sehari hari. Tindakan dalam tahapan ini sebagai keputusan kata hatinya .
Namun teori Kohlberg diatas tentu bersifat dinamis, tidak statis dan tergantung pada banyak faktor. Dan peranan orang tua dalam setiap perkembangan moral anak tentu sangat penting karena anak akan selalu butuh bimbingan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Namun yang menjadi masalah adalah tidak setiap orang tua mampu atau mengetahui/memahami bagaimana cara mengkomunikasikan moral kepada anak. Maka berdasarkan teori perkembangan moral anak, dalam pembahasan akan dibahas mengenai bagaimana orang tua dapat mendidik anak dan dapat mengembangkan moral anak dengan baik.

B A B III
P E M B A H A S A N
3.1. PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG MORAL
Sebelum sampai pada cara-cara bagaimana mengajarkan moral kepada anak, terlebih dahulu yang harus dipahami adalah beberapa prinsip dasar tentang moral,yaitu;
3.1.1. Moralitas Adalah Penghargaan
Orang tua perlu menghargai anak dan mengharapkkan penghargaan yang serupa dari anak. Disiplin harus benar benar mendapat penghargaan dan merupakan contoh bentuk pengendalian, kelembutan, dan keadilan yang orang tua harapkan dari anak. Anak mengembangkan moralitas secara gradual dan bertahap. Tahap-tahap ini adalah perasaan yang baik dan buruk yang terus ada sejak masa anak-anak hingga dewasa. Masing-masing tahap membawa anak menjadi lebih dekat dengan kematangan perkembangan moralnya.
3.1.2. Menghargai Anak Dan Mengharapkan Penghargaan yang Serupa Dari Mereka.
Memperlakukan anak dengan penghargaan, berarti memperlakukan mereka sebagai seorang manusia, berlaku adil dengan anak. Dan menciptakan sejumlah penghargaan bagi tercapainya kematangan tahap perkembangan anak, ini berarti memberikan anak sebuah perasaan bahwa orang tua mempertimbangkan sudut pandang anak. Karena moralitas adalah jalan dua arah, jika orang tua mengharapkan penghargaan dari anak, maka orang tua harus sangat berhati-hati dalam menjalani kegiatan mereka sehari hari, karena anak selalu dapat belajar dari apapun yang orang tua lakukan.

3.1.3. Mengajarkan Dengan Contoh
Sebuah cara paling pasti untuk membantu anak mengubah pemikiran moral mereka ke arah prilaku moral yang positif adalah mengajari mereka dengan contoh. Orang tua mengajarkan penghargaan bagi semua orang dengan contoh-contoh langsung (dalam menghargai orang) yang orang tua berikan. Tidak ada hal lain yang lebih terpatri dan menggores lebih dalam di dalam benak anak-anak selain contoh perilaku orang tua atau orang dewasa lain disekelilingnya.
Mendengarkan pun adalah sebuah contohsalah satu cara menyampaikan nilai-nilai kepada anak-anak adalah dengan mendengarkan mereka. Maka anak-anak akan belajar mendengarkan pula.
3.1.4. Mengajarkan Dengan mengatakan
Meski penting mengajar anak dengan contoh, namun hal itu tidak cukup. Karena anak di kelilingi dengan contoh yang buruk juga, maka anak-anak membutuhkan kata-kata orang tua seperti halnya anak membutuhkan contoh dari orangtua.
Sempatkan waktu membacakan cerita-cerita rakyat yang dapat dijadikan ilustrasi suatu nilai moral. Bagi anak yang terpenting bukan ceritanya, namun kedekatan dengan orang tua. Hal ini akan sangat membantu anak untuk memahami prinsip-prinsip yang diajarkan melalui sikap-sikap dalam tokoh cerita. Jangan biarkan anak menonton film sendirian tanpa ada interaksi bertukar nilai-nilai, karena anak hanya akan menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa nilai.
3.1.5. Membantu Anak Belajar Berpikir.
Yaitu berpikir untuk mereka sendiri. Orang tua dapat membantu perkembangan moral anak dengan member mereka dorongan yang konstan untuk berhenti sejenak dan berpikir, dan untuk mengambil keadaan/kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan. Anak-anak yang lebih banyak berpikir akan lebih banyak mendiskusikan isu-isu moral, menciptakan jalan yang lebih baik melalui tahap-tahap pemikiran moral daripada anak-anak yang tidak banyak berpikir. Caranya, mintalah pada anak untuk berpikir dan merefleksikan diri. Tanyakan padanya bagaimana kalau hal ini terjadi padanya? Berikan anak wakt untuk merefleksikan diri atas perilakunya.
3.1.6. Membantu Anak Memikul Tanggung Jawab Nyata
Upayakan agar anak ikut memikul tanggung jawab tugas di rumah dan dorong mereka agar dapat menyelesaikanya. Biarkan mereka kerjakan sendiri tugas-tugas sekolahnya, atau menjaga adik, atau memelihara hewan peliharaan.
3.1.7. Seimbangkan Antara Kemandirian Dan Kontrol Yang di Berikan
Anak-anak membutuhkan batasan dalam kemandirian, antara tetap berpegang dengan sayap yang mereka miliki. Hal ini cukup rumit. Terlalu banyak kontrol dari orang tua menyebabkan anak berontak dan akan melakukan apa saja untuk mendapat sedikit kebebasan. Namun dengan kebabasan yang melimpah , membuat anak menjadi tidak disiplin.Jika orang tua bersikap lebih demokratis maka perkembangan moral anak akan terkontrol dengan lebih baik.
3.1.7. Cintailah Anak Dan Bantu Mereka Mengembangkan Konsep Diri Positif
Cinta dan kasih sayang orang tua membantu anak menangkap nilai-nilai dan peraturan orang tua. Orang tua yang melewatkan waktu bersama anak secara kuantitatif dan kualitatif sebaik mereka mencintai anak-anak mereka, akan memiliki anak-anak yang mempunyai level perkembangan moral yang tinggi. Membuat variasi kebersamaan dengan anak, atau menciptakan sesuatu yang membahagiakan keluarga, akan membuat anak-anak selalu teringat bahwa kebersamaan adalah bentuk cinta kasih. Mencintai anak-anak bukan berarti memanjakan mereka dan merusak konsep diri yang positif dari anak.
3.1.8. Memupuk Perkembangan Moral dan Menciptakan Keluarga Yang Bahagia
Membantu anak tumbuh dengan moral yang baik dan menciptakan keluarga yang baik adalah benar-benar hal yang sama. JIka orang tua melakukan salah satunya, berarti orang tua melakukan hal yang lainnya. Salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk anak, membuka mata hati dan telinga untuk anak, akan membuat anak mempercayai orang tua serta menjadikan orang tua sebagai satu-satunya tempat anak mencurahkan segalanya. Jika anak-anak merasa ‘terhubung’ dengan keluarga, mereka akan mendapatkan kemudi yang membantu mereka bertahan pada sebuah jalur yang bertanggung jawab dalam menghadapi tekanan dalam kehidupannya, misalnya dari teman sebaya.
3.2. KOMUNIKASI MORAL SEBAGAI PROSES MENGEMBANGKAN MORAL ANAK
Berbicara mengenai moral, pasti akan berpikir bagaiman cara menerangkannya pada anak-anak. Nilai-nilai moral untuk tingkatan anak-anak adalah membedakan baik dan buruk. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang abstrak utnuk dikatakan dengan cara apapun, dan anak biasanya belum mampu menterjemahkan kata-kata verbal.
Anak-anak melihat dan kemudian membuat imajinasi dalam pikirannya. Imajinasi dalam pikiran anak, bahwa suatu tindakan itu benar atau salah memerlukan suatu pengalaman langsung yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung, sehingga membantu proses kemampuan anak untuk mampu merenungkan dan mengolah sesuai dengan kemampuan penangkapannya.
Mengutip Robert Coles tentang kecerdasan moral “Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengingat kaidah dan aturan, hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau di dapur. Moral akan tumbuh dengan mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain, bagaimana berperilaku di dunia ini, pelajaran apa yang ditimbulkan oleh tindakan yang kita lihat dan kita dengar, dan diolah dalam hati mengenai baik buruknya”
Orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam member pemahaman kepada anak. Perlu diingat pembentukan watak memrlukan waktu bertahun-tahun. Dalam waktu tak terbatas orang akan selalu mengkomunikasikan moral, tidak melalui kata-kata namun dengan seluruh pengalaman hidupnya.
3.2.I. Memahami Makna Komunikasi
Komunikasi pada dasarnya adalah suatu proses saling berbagi informasi antar semua mahluk di dunia. Proses terjadi sejak pada linkungan terkecil, yaitu keluarga maupun lingkungan luas di sekitar. Interaksi atau hubungan timbale balik satu sama lain adalah kebutuhan hakiki manusia, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk social. Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya untuk mengisi dan melanjutkan hidupnya. Diperlukan tata cara hidup yang diperlukan agar tidak saling merugikan satu sama lain, tatacara ini diwujudakan dalam bentuk nilai-nilai yang disepakati bersama, yaitu nilai-nilai moral.
3.2.2. komunikasi Yang efektif
Komunikasi adalah kunci semua aspek dalam keluarga, termasuk dalam membangun moral. Ada beberapa hal mengenai cara berkomunikasi secara efektif dengan anak:
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang jelas
Orang tua terlebih dulu perlu untuk mendefinisikan harapan-harapan orang tua bagi anak anak. Dengan menetapkan hal-hal rutin atau prosedur spesifik bagi perilaku tertentu seperti mengerjakan tugas-tugas di rumah atau bersiap-siap untuk pergi tidur, akan membantu anak untuk mengingat perilaku yang orang tua harapkan. Selain itu menyusun sebuah aturan tentang perilaku yang diharapkan dan yang dilarang juga akan membantu anak. Hal-hal diatas merupakan komunikasi yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Dan orang tua harus selalu ingat tingkat perkembangan anak agar tidak mengharapkan lebih dari kemampuan yang dimiliki anak atau membanjiri anak dengan daftar aturan yang panjang.
Komunikasi yang efektif adalah kooperatif
Lebih dari sekedar mendiktekan harapan yang ada kepada anak, aau menuntut hal-hal tertentu. Komunikasi efektif berarti Berbicara kepada anak, komunikasi yang bersifat dua arah adalah dengan membiarkan anak mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Misalnya menyusun tugas- tugas di rumah atau membuat aturan di rumah.
Komunikasi yang efektif harus konkret
Sampai menginjak masa remaja, anak sangat konkre dalam pemikiran. Mereka kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Oleh karena itu Orang tua harus menggunakan contoh konkret untuk memperjelas harapan orang tua kepada anak.
Komunikasi efektif harus lengkap
Lengkap dalam arti anak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukannya, akan tetapi juga alasan mengapa mereka melakukannya. Hal terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah pengkomunikasian alasan tentang perilaku yang diharapkan. Hal ini berarti orang tua tidak hanya mengatakan kepada anak tentang perilaku yang diharapkan akan tetapi juga mengapa perilaku tersebut penting.
3.2.3. Komunikasi Moral Yang Manusiawi
Setelah memahami makna komunikasi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah menggunakan pendekatan komunikasi yang manusiawi? Karena pada dasarnya orang tua dan anak mempunyai kedekatan yang sangat manusiawi.
Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya saling memberi informasi atau sekedar menceramahi nilai-nilai moral denga kata-kata. Sebenarnya proses komunikasi adalah proses berbagi nilai-nilai, sehingga makna yang dimiliki dapat dimaknai bersama. Ada umpan balik didalamnya yang saling berinteraksi antara orang tua dan anak.
Salah satu kegagalan dalam membagikan nilai-nilai moral adalah orang tua tidak memperhatikan unsur-unsur komunikasi, Yaitu orang tua mampu merendahkan hatinya untuk memahami pikiran anak? Pikiran anak kadang berbeda dengan apa yang orang tua bayangkan karena rentang usia dan pengalaman hidup. Orang tua harus meluangkan waktu untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari bersama anak.
Mengemas pesan moral dalam kalimat sederhana dan menarik perhatian anak, menggunakan media yang tepat, diantaranya adalah bahasa tubuh dan tatapan mata orang tua adalah media yang menarik perhatian anak, serta mencari media lain yang bervariasi, orang tua akan dapat menjadi komunikator yang baik, bersahabat tidak berjarak, seakan-akan orangtua adalah bagian dari pesan itu.
“Anak anak merupakan saksi; anak-anak adalah saksi yang selalu memperhatikan moralitas orang dewasa atau tiadanya moralitas orang dewasa; anak-anak melihat dan mencari isyarat bagaimana orang orang berperilaku” (Robert Coles)
3.2.4. Anak Bukan Obyek Tetapi Subyek
Anak bukan obyek sasaran yang dapat dicekoki dengan berbagai nasihat moral, dia adalah subyek yang sedang mencoba menghayati nilai-nilai, malaksanakannya dan meyakini hal itu sebagai hal yang baik dalam hidupnya. Dan dalam ini kebaikan hati orang dewasa cukup menentukan nasib mereka selanjutnya.
Komunikasi dua arah tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proses transformasi nilai apabila tidak terjadi proses dialog yang setara antara anak dengan orang tua. Moral tidak cukup hanya diinformasikan, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut didialogkan secara horizhontal seperti halnya dua teman yang saling berbagi. Bukan seperti hubungan yang atas dengan bawah atau vertical, tapi horizhontal dalam bentuk berbagi tentang suatu pengalaman hidup.
3.2.5. Mempertimbangkan Proses Menangkap Pesan Moral
Pada dasarnya suatu proses komunikasi moral bertujuan mengembangkan perilaku anak menjadi manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakatnya. Tujuan utama membentuk perilaku inilah yang paling sulit, karena pada dasarnya anak harus mengetahui terlebih dahulu atau berwawasan mengenai nilai-nilai moral. Wawasan ini akan masuk dalam pikirannya dan akhirnya menggerakan kesadaran dalam dirinya dan meyakini sebagai sikap yang benar. Setelah menyadari anak akan melakukan perbuatan tersebut. Lambat laun perilaku tersebut akan berubah menjadi adat kebiasaan. Proses ini berlangsung dalam kesatuan waktu dan saling melengkapi satu sama lain.
Perilaku yang terbentuk pada diri manusia mempunyai tahapan yang seharusnya mempertimbangkan aspek intelektual dan emosional anak secara utuh. Orang tua perlu mempertimbangkan tahapan dimana proses komunikasi moral sedang berlangsung. Komunikasi yang terjadi akan sekaligus mengarah pada proses penyadaran dalam diri anak. Pada tahapan dimana anak memahami nilai-nilai moral, apakah baru sampai tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku yang diharapkan.
• Pengetahuan
Pemahaman seseorang biasanya dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai sesuatu hal. Misal dalam nilai-nilai moral, anak biasanya mengetahui dari apa yang dia lihat dan dia dengar.
Sejak usia dini harus ditanamkan wawasan ini melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dan anak akan tertarik untuk mengembangkannya sejak mereka belajar bicara. Dengan tetap mempertimbangkan tingkatan usia anak. Mengembangkan wawasan kepada anak bukan hal yang mudah, perlu kehati-hatian dan kesabaran orang tua untuk mengembangkan wawasan mengenai anak dan pengembangan moralnya.
• Sikap
Setelah anak mempunyai wawasan yang cukup, maka akan berproses untuk mengolahnya sampai pada tahap menyadari dan meyakini sehingga membentuk suatu sikap. Pada awalnya anak baru sampai tahap meniru atau imitasi. Apabila orang tua menunjukkan sikap yang konsisten, anak-anak akan meyakininya bahwa tindakan itu baik dan pantas ditiru.
Pembentukan sikap ke arah nilai-nilai moral perlu melihat kecenderungan pada umur umur tertentu. Ada saat anak sangat bersifat egois, ada masa anak sangat ingin berinteraksi dan mulai bersikap social.
• Perilaku
Beranjak dari proses kesadaran, anak akan tergerak untuk melakukannya. Pada saat yang tepat hendaknya anak diajak melaksanakan nilai moral. Anak cenderung cepat frustasi bila merasa tidak bisa, maka orang tua harus sabar dalam mendampingi agar anak dapat melakukannya. Contoh-contoh konkret dari orang tua cara melakukannya untuk ditiru pada awalnya , akan sangat mempermudah. Lambat laun anak akan mampu membuat keputusan dan melakukan dengan caranya sendiri.
3.3. ACTION DO SPEAK LOUDER THAN WORDS
Memilih bagaimana harus berperilaku, sebagai orang tua, benar-benar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar jika kita mengucapkannya dalam kata-kata. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus disadari oleh orang tua:
Orang tua Adalah Guru Moral Pertama Bagi Anak
Keluarga adalah kunci pendidikan dasar bagi anak, terutama dalam mengembangkan nilai-nila moral yang menjadi penopang dalam keutuhan pribadinya. Pada awal kehidupannya anak telah dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Anak telah belajar banyak sejak awal, bahkan sebelum dilahirkan, tanpa disadari orang tua sudah mengungkapkan nilai mereka dengan cara mempengaruhi orang lain. Roberts Cole mengatakan bahwa “kehidupan moral anak mendahului kemampuan berbahasanya” Saat anak belum mempunyai kosakata untuk berbicara, ia telah belajar mengungkapkan lewat tindak-tanduknya.semua itu menunjukan ia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan terdekatnya.
Kekasaran dan pertengkaran yang terjadi di depan anak yang sedang belajar mengenai moral akan menjadi trauma negative yang akan merusak perkembangan jiwanya. Oleh karena itu orang tua harus dapat memastikan perilaku moral yang akan diambil oleh anak adalah perilaku moral terbaik yang diharapakan oleh orang tua dan orang tua inginkan sebagai contoh untuk anak.
Orang Tua Mencoba Menemukan Isu-isu Moral Untuk Dibicarakan (pada saat isu-isu itu timbul), Sehingga Anak Dapat Mendengar Keyakinan Moral Yang Orang tua Miliki
Bahan pembicaran yang menarik bagi banyak orang biasanya menarik perhatian anak. Lewat perbincangan dalam keluarga , Orang tua dapat menyimak pemikiran moral anak dan “menarik” anak ke tingkatan moral yang lebih tinggi.
Satu hal yang penting dari metode ini adalah anak belajar mengangkat pelajaran tentang nilai empati terhadap suatu peristiwa, (misalnya, kasus pemboman Bali) bagaimana ia berdoa agar orang yang jahat terhadap orang lain ditangkap. Orang tua harus menunjukan bahwa orang tua sependapat dengannya bahwa mencelakakan orang lain itu SALAH.
Ambilah Sikap Aktif Melawan “racun” Perkembangan Moral Anak
Banyak racun yang sering bertentangan dengan nilai moral seperti acara televisi tertentu, film,music,video game, dan situs internet. Orang tua harus mencoba menjelaskan tentang kekhawatiran tersebut kepada anak, dan menetapkan standar, serta bertahan pada apa yang telah ditetapkan.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa hampir semua orang tertarik pada televisi dan multi media. Terutama anak-anak, tayangan visual ini sangat berpengaruh pada jiwa anak, jika anak sudah menyukainya akan sulit orang tua memberitahu salah dan benar melalui kata-kata verbal, karena yang dapat merangsang pengaruh pada perasaan dan pikiran adalah image visual . Dan orang yang telah terbiasa hidup didalam image visual (kebudayaan citra dan virtual)akan sangat sulit tergerak oleh kata-kata.
Oleh karena itu orang tua haruslah bersikap tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan moral yang terlihat oleh anak di televisi atau dimanapun.Dengan kata-kata yang sederhana dan sikap konsisten yang meyakinkan bahwa semua penyimpangan itu bukanlah prinsip orang tuanya.
Mengunakan Pertanyaan Untuk Memperluas Kemampuan Anak dengan Menggambarkan perspektif Orang Lain
Menggunakan pertanyaan jauh lebih baik daripada sekedar pernyataan. Misalkan anak menyakiti adiknya, Sebaik tidak hanya sekedar mnenghardiknya dan mengatakanitu tidak baik, tetapi dengan mengembangkan pertanyaan yang harus dijawab oleh anak. Contoh,”Apa yang kamu rasakan jika orang lain memperlakukanmu seperti itu?.
Memperhatikan Anak dan “tangkap” Mereka ketika bertindak secara Moral yang Baik
Dengan memberitahukan kepada anak perilakunya yang baik, dengan menggambarkan apa yang telah dilakukannya dengan baik dan bagaimana orang tua menghargai hal itu.

B A B I V
P E N U T U P
4.1. KESIMPULAN
ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPAN YANG DIJALANINYA
Anak-anak kadang seperti tape perekam atau burung beo. Mereka mencontoh dan mengulang apa yang mereka dengar, dan lebih-lebih apa yang mereka lihat atau mereka amati. Hal ini benar untuk perilaku, sikap, dan pembentukan moral serta pilihan hidup. Ada sebuah tulisan yang dapat dijadikan pegangan oleh orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak agar perkembangan moral anak terjaga dengan baik, karenannya orang tua harus selalu menyadari bahwa mengajarkan sesuatu pada anak tidaklah cukup hanya secara verbal, namun juga non-verbal.
Jika anak hidup dengan kecaman, maka ia akan belajar untuk menyalahkan.
Jika anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar untuk berkelahi
Jika anak hidup dengan ejekan, ia akan belajar untuk selalu merasa malu
Jika anak hidup dengan rasa malu, ia akan belajar untuk merasa bersalah
Jika anak hidup dengan toleransi, ia akan belajar untuk bersabar
Jika anak hidup dalam dorongan dan semangat, ia akan belajar untuk percaya diri
Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai.
Jika anak hidup dengan kejujuran, ia akan belajar keadilan
Jika anak hidup dengan rasa aman. Ia akan belajar untuk memiliki keyakinan
Jika anak hidup dengan restu dan persetujuan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri
Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, mereka belajar untuk menemukan cinta di dunia ini.
Orang tua perlu membuktikan kepada anak bahwa dengan presepsi diri yang positif mereka akan mampu menghadapi apapun, baik keberhasilan maupunkekecewaan, tanpa harus merasa terlalu ‘tinggi’ atau terlalu ‘rendah’.
Serta perlu juga mengajarkan kepada anak dan menunjukkan kepada mereka, bahwa sekacau atau sejahat apapun dunia ini, masih selalu akan ada orang-orang yang berpikir positif, yang berhati baik. Masih selalu aka nada cinta dan sayang di dunia mereka.
4.2. SARAN-SARAN
SEPULUH TIPS YANG HARUS DIPEGANG TEGUH OLEH ORANG TUA MENGENAI PERKEMBANGAN MORAL ANAK
1. Membuat komitmen untuk meningkatkan moral anak
Jika orang tua benar-benar menginginkan untuk mningkatkan moral seorang anak, buatlah komitmen pribadi untuk mewujudkannya, dan jangan berhenti sampai itu terwujud. Komitmen membutuhkan semangat dari kedua orang tua. Meningkatkan moral anak adalah bagian dari suatu proses perkembangan orang tua juga.
2. Jadilah sebuah contoh moral yang kuat
Orang tua adalah guru pertama dan yang terkuat, karena itu pastikan perilaku moral yang diambil anak dari orang tua adalah perilaku yang orang tua pikirkan untuk mereka contoh.
3. Ketahui keyakinan sebagai orang tua dan bagilah pada anak-anak
Sediakan waktu untuk berpikir tentang nilai-nilai yang dimiliki. Selanjutnya bagilah kepada anak dengan teratur dan menjelaskan apa yang orang tua rasakan. Anak akan mendengarkan pesan-pesan tanpa akhir tentang keyakinan orang tuanya, oleh karena itu penting bagi anak untuk mendapatkan standar moral orang tua.
4. Menggunakan momen-momen untuk mengajarkan sesuatu/tindakan moral
Momen ini bukanlah suatu momen yang direncanakan, tetapi momen yang muncul secara tidak terduga. Dengan mengambil keuntungan dari momen tersebut, karena kesempatan seperti ini membantu anak untuk mengembangkan keyakinan yang solid dan akan membantu anak, membimbing perilakunya sepanjang hidup.
Prinsipnya adalah kepekaan dan kreativitas orang tua, bahwa apapun yang dialami setiap saat adalah momen bermakna bagi anak. Atau dengan menjadikan anak sebagai teman berbagi pendapat ketika melihat kejadian atau momen menarik yang ditemui.
5. Menggunakan disiplin sebagai pelajaran moral
Disiplin yang efektif memastikan bahwa anak tidak hanya mengenali mengapa perilakunya salah, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya pada lain waktu. Tegas dan konsisten adalah cara yang paling mudah untuk dipahami anak.
6. Miliki harapan perilaku moral
Penelitian menunjukan bahwa anak yang bertindak secara moral mempunyai orang tua yang memiliki harapan bagi mereka untuk melakukan hal tersebut. Hal ini mnyiapkan sebuah standar bagi perilaku anak.dan membuat mereka mengetahui dengan jelas nilai yang orang tua miliki.
Berikan standar moral di rumah, kemudian secara konsisten berikan dorongan sampai anak menginternalisasi hingga menjadi aturan mereka. Buat standar tersebut bersama dengan anak, dan sepakati aturan mainnya.
7. Refleksikan efek perilaku
Salah satu latihan pembentukan moral terbaik adalah dengan menunjukkan pengaruh perilaku anak terhadap orang lain. Cara ini meningkatkan pertumbuhan moral anak, membantu anak benar-benar membayangkan seperti apa berada di posisi korban, sehingga akan lebih sensitive terhadap bagaimana pengaruh perilakunya terhadap orang lain. Tunjukan dengan jelas akibat dari apa yang dilakukannya dan ajak anak untuk memperbaiki situasi.
8. Berilah dorongan/ penguatan pada perilaku moral
Salah satu cara paling sederhana untuk membantu anak mempelajari perilaku baru adalah dengan memberikan dorongan/penguatan pada perilaku tersebut begitu perilaku timbul. Jadi dengan sengaja ‘Tangkap’ saat anak bertindak secara morala dan beritahulah anak tentang perilaku baiknya tersebut dengan menggambarkan apa hal yang baik yang telah dilakukannya dan mengapa orang tua menghargainya.
9. Prioritaskan moral setiap hari
Anak tidak mempelajari bagaimana berperilaku moral dari membaca hal tersebut, namun dari melakukan hal-hal yang baik. Doronglah anak untuk melakukan suatu perubahan pada dunianya, dan bantu anak untuk mengenali efek positif pada ekspresi wajah orang yang ditujunya. Latihlah anak untuk peka terhadap bahasa tubuh orang lain. Bagaimana jika orang lain marah, kecewa, atau takut kalau anak berlaku tidak sopan. Kemudian tanyakan kepada anak bagaimana seharusnya ia bersikap pada orang lain. Anak akan semakin tidak tergantung pada bimbingan orang dewasa dengan memasukan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari hingga teradopsi menjadi perilaku mereka sendiri. Hal ini baru terjadi jika orang tua menekankan pada pentingnya kebajikan terus menerus kepada anak, berlatih berulang-ulang perilaku-perilaku moral tersebut.
10. The Golden Rule
Ajari anak aturan-aturan universal yang telah membimbing berbagai peradaban selama berabad-abad. Misalnya,”perlakukan orang lain seperti orang lain seperti kau ingin diperlakukan”. Ingatkan anak untuk bertanya pada dirinya sebelum ia bertindak. Hal ini membantu anak untuk berpikira tentang perilakunya dan konsekuensinya pada orang lain. Jadikan aturan aturan tersebut sebagai prinsip moral keluarga.
Perkembangan moral adalah sebuah proses yang berjalan secara bertahap dan perlahan, namun terus berlanjut untuk tumbuh. Kita hanya memastikan anak-anak tumbuh dijalur yang benar.
Apabila kita mau menyadari bahwa anak-anak sangat bergantung pada kita, bagaimana mereka melihat kita, tanggung jawab dipundak orang tua memanglah sangat besar. Kita berproses dan belajar bersama anak-anak, maka tidak ada salahnya kita mencoba banyak hal kreatif yang bisa kita lakukan sejak dini, sejak sekarang melalui kehidupan sehari-hari secara wajar dan menyenangkan.
By : erie siti syarah
(paudfip.umj cireundeu)

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan adalah sebuah nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal manusia itu sendiri. Dalam bahasa Arab, pendidikan disebut “Tarbiyah” (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan, berakar dari satu kata “Rabb”(Tuhan).
Menurut Al-Quran, manusia terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan, yaitu jasad, ruh, dan intelektualitas. Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan kea lam dunia ini dengan dasar penciptaan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam Hadits berikut ini ”setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majusi.”
Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat antara lain Q.S. Luqman:12-19 dan Q.S. As-Shafaat:102 serta berbagai hadits Rasulullah SAW. Kisah Luqman mengajarkan bahwa “sifat bijak” bagi seorang pendidik termasuk orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang secara khusus dikaruniakan nikmat “hikmah” oleh Allah itu, menyadari sepenuhnya bahwa anak, bagian dari kenikmatan Illahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu, menanamkan pendidikan pada anak-anak adalah manifestasi kesyukurannya terhadap Allah SWT (Q.S. Luqman :12).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Siapa Luqmanul Hakim?
Luqman adalah nama dari seorang yang selalu mendekatkan hatinya kepada Allah SWT. Dan merenungkan alam yang ada di sekelilingnya, sehingga ia mendapat kesan yang mendalam. Demikian juga renungannya terhadap kehidupan ini, sehingga terbukanya rahasi hidup ini dengan memperoleh hikmah.
Yang dimaksud dengan hikmah ialah kesan yang tinggi (mendalam) dalam jiwa manusia dalam melihat pergantian diantara suka dan duka hidup, melihat kebahagian yanb dicapai sesudah perjuangan melawan hawa nafsu, dan cela yang di hadapi orang-orang ynang melanggar garis-garis kebenaran yang mereka tempuh. orang yang ahli hikma disebut “Alhakim”. Sebab itu dikenal juga Luqman dengan sebutan “Luqman Alhakim” dan (Luqman ahli hikmah)
Hikmah yang Allah berikan kepadanya antara lain berupa ilmu, agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata bijaknya cukup banyak lagi telah dima’tsur. Dia memberi fatwa sebelum Dau a.s diutus dan sempat menjumpai masanya, lalu menimba ilmu darinya dan meninggalkan fatwanya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang sikapnya itu, dia menjawab: ”Tidakkah lebih baik bagiku berhenti memberi fatwa bila telah ada yang menanganinya?”.
Ketika ditanyakan kepadanya: “Siapa orang jahat itu?” Luqman menjawab: “Orang yang tidak peduli bila orang lain melihatnya berbuat jahat. “
Banyak perbedaan pendapat tentang asal usul Luqman tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ia seorang bangsa Negro Sudan, Mesir hulu atau Habsyi yang warna kulitnya hitam, hidup selama beribu tahun dan berjumpa dengan nabi Daud sehingga nabi Daud banyak menimba ilmu darinya. Ada yang berpendapat bahwa dia seorang nabi, dan adapun yang membantah pendapat itu dengan mengatakan bahwa ia hanyalah seorang ahli hikmah.
Namun dalam Al-Quran diungkapkan bahwa dia dianugrahi berupa “ Hikmah “ oleh Allah SWT. Tentang pekerjaannya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan sebagai qadhi kaum bani Israil, ada yang mengatakan sebagai tukang jahit, ada yang mengatakan sebagai penggembala ternak, atau sebagai tukang kayu. Namun semua itu tidak penting, dan mungkin saja kesemua pekerjaan itu pernah dilakukannya, karena mengingat usianya yang mencapai 1000 tahun.
Al-Qurthubimengatakan bahwa menurut suatu pendapat, LUqman adalah nak laki-laki saeudara perempuan bai ayub yang kawin dengan anak laki-laki adik perempuan ibunya.
Pernah ada seorang lelaki memandanginya, maka luqman berkata: “Jika engkau lihat aku mempunyai sepasang bibir yang tebal lagi kasar, maka sesungguhnya diantara keduanya keluar kata-kaat yang lembut: dan Jika engkau melihat rupakuku hitam, maka ssungguhnya Qalbbuku putih.”

B. Wasiat Luqmanul Hakim

Wasiat Luqman Pertama

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Q.S. Luqman:13).
Pengarahan Luqman terhadap anaknya dengan nasihat, yaitu nasihat seorang yang bijaksana pada anaknya. Ia adalah nasihat yang membebaskan orang dari segala aib. Pemilik dan pemberi nasihat itu pasti telah dianugrahkan hikmah kepadanya. Ia adalah sebuah nasihat yang tidak mengandung tuduhan, karena tidak mungkin nasihat seorang ayah kepada anaknya mengandung tuduhan.
Nasihat itu mengandung pengikraran terhadap persoalan tauhuid yang telah ditetapkan pada penelusuran pertama. Dan, penyinggungan tentang persoalan akhirat disebutkan pula dengan disertai pengaruh-pengaruh dalam jiwa dan pengruh-pengaruh yang baru.
Luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan Nya dengan sesuatu pun seraya memperingatkan kepadanya.
Yakni syirik adalah dosa yang paling besar, syirik disini di ungkapkan dengan perbuatan zhalim . mereka mencampuradukan iman mereka dengan kezhaliman , yakni dengan kemusyrikan . selanjutnya, lukman mengiringinya dengan pesan lain , yaitu agar anaknya menyembah Allah semata dan berbakti kepada kedua orang tua .( Qs. Al – Israa: 23)

Wasiat Luqman kedua

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(Q.S.Luqman:14)

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
Surat selanjutnya yaitu hubungan antara seorang anak dengan ayah dan ibunya, dengan gaya bahasa yang penuh dengan kasih sayang dan rahmat. Juga menghubungkan antara kesyukuran kepada Allah dengan kesyukuran dan berterima kasih kepada kedua orangtua, hanya saja kesyukuran kepada Allah harus di kedepankan.
Menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya sebagai wujud rasa syukur atas pemeliharaan keduanya, terutama ibu.Dia telah mengandungnya sejak janin dalam kandungan setiap bertambah usia dan besar janin, semakin bertambah lemahlah dia dan semakin bertambah sulit pula ( untuk bergerak). Demikian pula ketika melahirkan seorang ibu dengan susah payah mengeluarkan bayinya dari rahimnya. Setelah itu , ibu menyusui bayinya selama dua tahun .

Wasiat Luqman ketiga

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(Q.S. Luqman:15)
Luqman mewasiatkan kepada anaknya bahwa bila orangtua mengajak kepada perbuatan kekufuran atau perbuatan syirik, maka tidak perlu diikuti.karena tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Allah . Hanya saja, sekalipun demikian, engkau tetap menggauli mereka dengan baik serta senantiasa berlaku sopan dan hormat kepada mereka.
Ikatan aqidah merupakan ikatan pertama, sebagi pengantar pembuka, pemberi rekomendasi, dan mukodimah bagi ikatan nasab dan dara. Walaupun dalam ikatan nasab dan darah terdapat kekuatan cinta dan kasih saying yang kuat, namun ia berada dalam urutan berikutnya setelah ikatan akidah yang pertama itu, dan ditetapkanlah bersamaan dengan itu tentang perkara akhirat.
Yang harus diikuti adalah jalan orang – orang yang kembali kepadaku dengan iman ( tauhid) , taat , dan amal saleh . tempat kembali semua mahluk adalah Allah . Allahlah yang membalas segala perbuatan hambanya .
Wasiat Luqman keempat

(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.(Q. S Al-luqman :16)

[1181] Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.
Perkara akhirat diikuti dengan pengaruh yang dahsyat. Yaitu, gambaran tentang luasnya ilmu Allah, ketelitiannya, kecakupan ilmunya dan peliputannya. Sebuah gambaran yang menggetarkan nurani manusia ketika ia mengikutinya dalam alam semesta yang luas ini.
Luqman mengajarkan kepada putranya bahwa jika ada perbuatan (dosa dan maksiat) walau seberat dan sekecil biji sawi pun dan berada di tempat yang tersembunyi di dalam batu, di langit, atau di bumi kelak Allah akan mendatangkan balasannya pada hari kiamat.Sebab, Allah Maha Halus dan Maha Tahu. IlmuNya meliputi segala sesuatu, bagaimanapun kecilnya, sehingga seekor semut yang melata dimalam gelap gulitapun tidak akan luput dari pengetahuanNya.

Wasiat Luqman Kelima

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(Q.S. Luqman:17)
Luqman memberikan nasihatnya kepada anakanya dengan beban-beban akidah, dengan perintah beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar atas segala konsekuensinya. Semua itu adalah resiko yang harus dihadapi oleh pemegang akidah ketika ia melangkah dengan langkah-langkah yang merupakan tabiat dari akidah tersebut. Sehingga dia dapat melampaui dirinya sendiri kepada selain dirinya.
Luqman memerintahkan kepada putranya tentang tiga kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan. Yaitu: mendirikan sholat, dengan melaksanakannya tepat waktu dan sesuai dengan ketentuan – ketentuan , syarat – syarat, dan rukun – rukunnya. Sedangkan ash – Shabuni menambahkan , yaitu dengan memeliahara kekhusyukannya.
Kewajiban kedua : amar ma’ruf nahi mungkar , yakni memerintahkan kepada manusia untuk melakukan setiap kebaikan dan keutamaan serta melarang mereka dari setiap perbuatan buruk . maka hendaknya anak – anak diajari fiqih amar ma’ruf nahi munkar: bagaimana seharusnya beramar ma’ruf nahi mungkar. Anak –anak harus mengerti, apakah amar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan akan memicu kemungkaran yang jauh lebih besar, ataukah tidak ? jika amar ma’ruf dan nahi mungkar kelihatannya akan memicu kemungkaran yang lebih besar , maka amar ma’ruf dan nahi mungkar ini harus kita tunda sampai waktu yang tepat.
Kewajiban yang ketiga : bersabar, selain perintah melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Nasihat luqman di atas juga menganjurkan untuk sabar . tidak jarang , pelaksaan amar ma’ruf nahi mungkar di ikti dengan ujian dan cobaan . maka dari itu hendaknya kita bersabar dalam menghadapinya.

Wasiat Luqman Keenam

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Q.S. Luqman:18)
Bersamaan dengan perintah amar ma’ruf dan nahi mungkar, bersabar atas segala konsekuensinya, dan semua resiko yang harus dihadapi dan yang menimpa diri, maka seorang dai harus beradab dengan adab seorang dai yang merupakan penyeru kepada Allah. Yaitu, agar tidak sombong terhadap manusia sehingga dengan perilaku tersebut dia merusak perkataan baik yang telah ia serukan dengan contoh buruk yang dilakukannya.
Pengajaran Luqman yang berikutnya berupa larangan berakhlak buruk, yakni larangan berpaling dari manusia karena sombong dan menganggap rendah yang lain, serta larangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
Yakni jangan sombong dan menyepelekan orang lain . janganlah engkau memalingkan muka ketika engkau berbicara kepada seseorang, karena engkau merasa lebih mulia darinya . Tapi hadapkanlah mukamu kepadanya. Karena itu, ajrilah anak – anak anda sikap rendah hati dan antusias terhadap siapapun . dan janganlah engkau berjalan dengan angkuh dan merasa paling hebat. Jika engkau lakukan itu , maka sesungguhnya Allah membencimu.

Wasiat Luqman ketujuh

“19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”
[1182] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.
Luqman mewasiatkan kepada putranya “ Berjalanlah dengan wajar jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Artinya berjalanlah secara wajar dengan penuh ketenangan dan kesopanan, tidak terlampau cepat dan terburu – buru ; tidak juga terlampau lambat dan bermalas – malasan. Dan luqman mewasiatkan pula pada putranya ” Kurangilah suaramu dari suara yang keras.”
Karena itu akan mengganggu orang sekitar yang mendengarnya. Dan dengan berteriak, seseorang akan di samakan dengan keledai. Karena kedua-duanya memiliki suara buruk yang memekakkan telinga.

C. Pokok-pokok kandungan surat Lukman dalam Al-Qur’an

1. Menanamkan nilai tauhid dengan benar.
2. Mengajarkan taat kepada orang tua, dalam batas-batas ketaatan kepada pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran kepada Allah.
3. Mengajarkan pergaulan yang benar, serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan.
4. Menanamkan nilai-nilai taqwa kepada Allah.
5. Menanamkan nilai kepribadian yang kuat
6. Menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian social yang tinggi”
7. Membentuk kejiwaan yang kokoh
8. Menumbuhkan sifat rendah hati dan menjauhkan sifat sombong
9. Mengajarkan kesopanan dalam sikap dan ucapannya

BAB III
PENUTUP

 Luqman adalah nama dari seorang yang selalu mendekatkan hatinya kepada Allah SWT. Dan merenungkan alam yang ada di sekelilingnya, sehingga ia mendapat kesan yang mendalam. Demikian juga renungannya terhadap kehidupan ini, sehingga terbukanya rahasi hidup ini dengan memperoleh hikmah.
 Pokok-pokok kandungan surat Lukman dalam Al-Qur’an: Menanamkan nilai tauhid dengan benar, Mengajarkan taat kepada orang tua, dalam batas-batas ketaatan kepada pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran kepada Allah, mengajarkan pergaulan yang benar, serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, menanamkan nilai-nilai taqwa kepada Allah, Menanamkan nilai kepribadian yang kuat, menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian social yang tinggi”, Membentuk kejiwaan yang kokoh, menumbuhkan sifat rendah hati dan menjauhkan sifat sombong, mengajarkan kesopanan dalam sikap dan ucapannya

DAFTAR PUSTAKA

Abdur Rahman, Jamal. 2005. Tahapan mendidik anak. Bandung: Insan Bina Mandiri
Al – Adawy, Mustafa,. 2006. Fikih pendidikan anak, Jakarta: Qisthi Press
Arief, Armai, Prof. Dr. 2007. Reformulasi Pendidikan Islam. Tangerang: Ciputat Press Group 2007
Asmawati, Luluk, S.S. M.Pd, 2008. Dasar-dasar PAUD secara Islami, Jakarta: Insida Darul Qalam Press
Buletin Yasmin. Edisi 9/Tahun I, Rabiuts Tsani 1428 H
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fizhilalil Qur’an. Depok: Gema Insani Press

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar (7 tahun) ternyata tidak benar. Bahkan pendidikan yang dimulai pertama pada tingkat usia Taman Kanak-Kanak (4-6 tahun) ini pun sudah terlambat menurut hasil penelitian dibidang neurologi (Osbom, White dan Bloom), pada usia 4 tahun pertama separuh kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk, artinya kalau pada usia tersebut otak anak tidak akan berkembang secara optimal sampai usia 8 tahun 80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk, artinya kapasitas kecerdasan anak hanya bertambah 30% setelah usia 4 tahun sampai usia 8 tahun. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut mencapai 100% setelah berusia sekitar 18 tahun.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan sejak anak usia dini telah mendorong pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional untuk Membentuk Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) guna memfasilitasi masyarakat dibidang layanan pendidikan Anak Usia Dini (0-6 tahun) terutama bagi mereka yang karena keadaan terpaksa tidak memungkinkan untuk dapat memberikan layanan pendidikan dini bagi putra-putrinya.
Layanan pendidikan bagi anak usia dini merupakan bagian dari pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Agar pelayanan hak-hak anak dioptimalkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Maka dibuatlah Kurikulum Pendidikan anak Usia Dini yang kemudian dikembangkan menjadi Menu Pembelajaran Generik pada Pendidikan Anak Usia Dini.
II. Rumusan Masalah
Pada makalah ini akan dilakukan pembahasan tentang:
1) Apa pengertian acuan menu pembelajaran generik?
2) Apa fungsi acuan menu pembelajaran generik?
3) Hal apa saja yang menjadi arah kegiatan pendidikan?
4) Bagaimana materi pendidikan yang diberikan pada anak usia dini?
5) Bagaimana Struktur menu pembelajaran generik?

BAB II
PEMBAHASAN
1) Pengertian Menu Pembelajaran Generik
Menu pembelajaran generik adalah program pendidikan anak dini usia (lahir- 6 tahun) secara holistik yang dapat dipergunakan dalam memberikan layanan kegiatan pengembangan dan pendidikan pada semua jenis program yang ditujukan bagi anak dini usia.
Menu Pembelajaran generik, artinya sebagai menu pembelajaran yang tidak bersifat paten (tidak harus diikuti secara kaku). Setidaknya sudah dapat dijadikan acuan bagi siapa saja baik yang ingin mengetahui lebih jauh tentang lingkup isi atau menu pembelajaran pada program PAUD, ataupun mereka yang ingin berpartisipasi dalam penyelenggaraan program PAUD. Sebaliknya menu tersebut harus dikembangkan lebih lanjut oleh para penyelenggara PAUD di lapangan, apapun nama program PAUD yang diselenggarakannya.
Acuan ini akan digunakan sampai ada pedoman yang baku, oleh karena itu akan terus disempurnakan berdasarkan pengalaman lapangan dan hasil-hasil penelitian terbaru di bidang tumbuh-kembang anak.

2) Fungsi Menu Pembelajaran Generik
Satuan Menu Pembelajaran berfungsi sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan PAUD pada berbagai jenis lembaga pengembangan anak usia dini.

3) Arah Kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Dalam menyusun rencana kegiatan pendidikan diarahkan pada tiga peran pendidikan yaitu:
a) Pendidikan sebagai proses belajar dalam diri anak. Anak harus diberikan kesempatan untuk belajar secara optimal, kapan saja dan di mana saja inplementasinya terwujud dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk melihat, mengamati dan menyentuh benda-benda di sekitarnya.
b) Pendidikan sebagai proses sosialisasi pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan dan membuat anak terampil, tetapi juga membuat anak menjadi manusia yang bertaggung jawab, bermoral dan beretika. Pendidikan yang mempersiapkan anak untuk mampu hidup sesuai dengan tuntutan zaman di masa depan.
c) Pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kerjasama peran. Dengan demikian anak dapat mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling melengkapi. Manusia membutuhkan orang lain karena secara individual mempunyai kekurangan dan disisi lain memiliki kelebihan yang dapat memberikan nilai tambah bagi orang lain.
Agar dapat menjalankan peranannya Program Kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini didasarkan atas 9 kemampuan belajar anak yang meliputi :
1. Kecerdasan linguistik (linguistic intellgence) yang dapat berkembang bila dirangsang melalui berbicara, mendengarkan, membaca, menulis dengan buku, berdiskusi dan bercerita.
2. Kecerdasan logika matematika (logoco mathematical intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data dan bermain dengan benda-benda.
3. Kecerdasan visual spasial (Visual-spatial intellgence) yaitu kemampuan ruang yang dapat dirangsang melalui bermain balok-balok dan bentuk-bentuk geometri melengkapi puzzel, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi).
4. Kecerdasan musical (musical rhytmmic intellgence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada, birama berbagai bunyi.
5. Kecerdasan kinestetik (bodily kinesthetic intellgence) yang dapat dirangsang melalui gerakan tarian olahraga dan terutama gerakan tubuh.
6. Kecerdasan naturalis (naturalist intellgence) yaitu mencintai keindahan alam. Dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memeihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, pelangi, siang, malam, panas, dingin, bulan, bintang, matahari.
7. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intellgence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerjasama, bermain peran dan memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.
8. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intellgence) yaitu kemampuan memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri termasuk control diri dan disipilin.
9. Kecerdasan spiritual (spiritual intellgence) yaitu kemampuan mengenal dan mencitai ciptaan Tuhan. Dapat dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.
Dimana kemampuan-kemampuan belajar anak pada tulisan di atas masih dapat diuraikan lagi pada tulisan lain, merupakan dasar perumusan kompetensi dan hasil belajar dalam menyusun rencana.
4) Materi Pendidikan Anak Usia Dini
Materi yang diberikan pada PAUD diantaranya: Pendidikan budi pekerti; Membaca, menulis dan berhitung; kesehatan dan gizi; sikap dan ketrampilan.
Pendidikan budi pekerti
Piaget pernah mengatakan bahwa pendidkan moral sebaiknya diberikan kepada anak sejak usia dini, karena hasilnya sangat berguna bagi proses pembentukan pribadi. Ki Hajar Dewantara selalu menganjurkan agar pendidikan moral sudah mulai diberikan sejak Taman Indria dan Taman Kanak-Kanak. Islam pun menganjurkan untuk menanamkan ahlakul karimah dari sejak dini, seperti yang dilakukan Lukmanul Hakim pada putranya (Q.S Lukman:12-19).
Materi yang paling penting yang diberikan kepada anak usia dini adalah pendidikan budi pekerti. Bentuknya bukan mata pelajaran Budi Pekerti, tetapi menanamkan nilai, harkat dan martabat kemanusiaan, nilai moral, watak, dan pada akhirnya pembentukkan manusia yang berkepribadian. Budi pekerti sama dengan moralitas yang berisi adat istiadat, sopan santun, dan perilaku yang dapat membentuk sikap terhadap manusia, Tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan alam sekitarnya. Jika kelima sikap dan perilaku tersebut sudah dapat ditanamkan, maka seseorang akan menjadi manusia yang utuh, baik dan terhormat.
Cara membentuk kelima unsur itu disesuaikan dengan perkembangan dan usia anak didik. Pendekatan yang baik dan tepat adalah apabila anak tidak merasa bahwa sikapnya sedang dibentuk. Contoh teladan, cerita/dongeng, dan permainan dapat dipergunakan untuk membentuk sikap itu. Di sekolah dapat diintegrasikan bidang studi atau pelajaran yang diajarkan. Kreativitas dan inovasi guru dituntut dalam proses pembelajaran untuk mendidik. Khususnya pembentukkan sikap melalui pelajaran yang sedang diberikan. Porgram ini tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada contoh dari orangtua.
Membaca, menulis dan berhitung
Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung sangat menentukan keberhasilan anak untuk belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya. Ketiga mata pelajaran ini sering disebut “3R” yaitu singkatan dari “Read, Write dan Arithmatic” atau sering disebut pula dengan “Calistung” (baca, tulis dan hitung). Ketiganya diefektifkan pelaksanaannya ketika di sekolah dasar. Sebab pelajaran ini merupakan dasar bagi seseorang untuk mengenyam pendidikan di kemudian hari.
Pada pendidikan pra sekolah, ketiga pelajaran ini merupakan pengenalan sesungguhnya. Aturan ini dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Mengingat tuntutan masyarakat (orangtua) yang m,enginginkan agar ketiga pelajaran tersebut sudah boleh diberikan di Taman Kanak Kanak secara nyat (bukan pengenalan). Hal ini harus diperhatikan oleh perancanaan kurikulum. Keinginan orangtua itu mungkin disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih.
Pelajaran menulis dimulai dengan bagaimana cara membangkitkan minat anak agar mau menulis. Pertama kali orangtua atau guru mengenalkan huruf, angka dan gambar benda yang di bawahnya tertulis namanya. Anak yang sudah masuk masa peka menulis dan mengggambar akan memiliki minat serta dorongan yang kuat untuk menulis. Sehingga benda yang terdapat di sekelilingnya ditulis (dicoret), misalnya dikertas, ubin, tembok, meja, dan di mana saja. Kalau sudah timbul masa peka ini jangan disia-siakan, perlu diberi lingkungan kondusif yang antara lain diberi alat tulis menulis, kertas dan penghapus. Lama-kelamaan kesadaran menulis akan timbul. Sebab apa yang diinginkannya dapat dimanifestasikan dalam bentuk tulisan bahkan gambar.
Berhitung juga tidak kalah penting dibandingkan dengan dua pelajaran di atas. Berhitung dapat melatih orang untuk merencanakan kegiatan sesuai dengan waktu, ruang, dan tenaga yang dimiliki. Kegiatan sesuai dengan waktu, ruang, dan tenaga yang dimiliki. Meliputi kompentasi terkait sseperti mengukur, memperkirakan dan meramalkan atas dasar data yang tepat. Berhitung dapat melatih belahan otak kiri yang mengolah kemampuan berpikir teratur dan mengutamakan pemanfaatan nalar.
Mengingat manfaat pelajaran berhitung, maka sejak dini sudah harus diperkenalkan, misalnya mengenal angka. Disebabkan cara berpikir anak mulai dari berpikir konkrit, maka sebelum menulis angka tertentu anak wajib menghitung benda itu sejumlah angka tersebut. Contohnya anak disuruh membuat angka empat, maka ia perlu menghitung sesuatu, misalnya pensil yang bejumlah empat. Lama-kelamaan anak mampu berpikir secara abstrak, sesaui dengan tingkat kematangannya. Anak mampu mengerjakan soal berhitung dari tingkat sederhana menjadi tingkat yang kompleks.
Kesehatan dan Gizi
Sejak masih di dalam kandungan bayi perlu diberi makanan yang bergizi melalui ibunya, sebab yang dimakan ibu, sari-sarinya juga dimakan bayinya. Sayuran dan buah-buahanpun perlu dikonsumsi ibu. Umur 0-4 bulan, bayi sebaiknya hanya memberikan ASI. ASI merupakan makanan pokok bayi, sedangkan lainnya sebagai pelengkap apabila bayi telah berumur 4 bulan. Sepeti buah-buahan, biskuit, bubur bayi, nasi tim atan makanan lain yang sejenis.
Pengaturan makanan untuk anak di atas usia 1 tahun dapat digolongkan menjadi golongan umur 1-3 tahun, 4-6 tahun, 6-12 tahun dan 12-18 tahun. Makanan hidangan yang dianjurkan adalah:
Makanan pokok, yaitu sumber kalori, misalnya roti, nasi jagung, ketela dan ubi jalar.
Lauk pauk, yaitu terdiri dari:
 Sumber protein hewani, misalnya telur, daging, ikan
 Sumber protein nabati, misalnya kacang-kacangan, sayuran hijau atau berwarna, bahan makanana yang telah diproses (tahu dan tempe)
 Buah-buahan misalnya jeruk, pisang, pepaya
 Tambahan susu 2 kali sehari yaitu 250 ml setiap kali minum.
Sikap dan Ketrampilan
Setelah anak memilki pengetahuan, pendidik diharapakan melatih dan membimbing agar anak mempunyai sikap dan terampil dalam segala hal. Pada awalnya dapat melakukan sesuatu, anak hanya berdasarkan kebiasaan. Seiring dengan waktu ia harus didik agar kebiasaan tanpa pengertian itu berubah menjadi perbuatan yang sangat bemakna. Akhirnya pada saat tertentu, ia berbuat sesuatu selalu dipikirkan alasan dan tujuannya. Contoh: kalau menerima atau memberikan sesuatu harus menggunakan tangan manis (kanan). Kalau sudah sering melakukannya akhirnya anak akan terampil, mesti dengan tangan kanan, biarpun di sampingnya tidak ada ibunya, bapaknya, atau kakaknya.
Pembentukkan sikap pada Taman Kanak-Kanak tersirat dalam program kegiatan belajar yang bertujuan:
 Mengembangkan daya cipta dan daya pikir
 Mengembangkan bahasa
 Mengembangkan perilaku dan ketrampilan
 Menbgembangkan jasmani
 Mengembangkan moral, emosi, social dan disiplin.
Khusus mengembangkan perilaku dan ketrampilan sudah tepat jika pendidikan pra sekolah baik Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Penitipan anak, bahkan sekolah Dasar Kelas Awal harus memperhatikan pengembangan perilaku dan ketrampilan ini mengingat pada umumnya anak mempunyai sifat selalu ingin tahu, selalu bergerak, berlari, ingin mencoba, mempunyai inovasi dan kreatif, maka sifat tersebut kalau disertai dengan pembentukkan sikap dan ketrampilan akan terbentuk kepribadian yang baik.
5) Stuktur Menu Pembelajaran
a. Kelompok Usia
Menurut pembelajaran di arahkan pada pencapaian kompetensi sesuai dengan tingkatan pertumbuhan dan perkembangan anak dalam hal ini tingkatan pertumbuhan dan perkembangan anak dibagi dalam kelompok umur sebagai acuan normative tingkatan normal.
b. Aspek Pengembangan
Aspek pengembangan pada masing-masing kelompok usia anak usia dini mencakup 6 aspek pengembangan.
 Pengembangan moral dan nilai-nilai agama
 Pengembangan fisik
 Pengembangan bahasa
 Pengembangan kognitif
 Pengembangan social emosional
 Pengembangan seni
c. Kompetensi dan hasil Belajar.
Kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai pada masing-masing aspek pengembangan adalah :
o Pada aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.
o Pada aspek pengembangan fisik kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengelola dan keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (panca indera)
o Pada aspek pengembangan kemampuan berbahasa, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang akan bermanfaat untuk berfikir dan belajar.
o Pada aspek pengembangan kemampuan kognitif kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan berfikir logis, kritis.
o Pada aspek pengembangan sosial emosional kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat dan mengharggai keragaman sosial dan budaya. Serta mampu mengembangkan konsep diri sikap positif terhadap belajar, control diri dan rasa mandiri.
o Pada aspek pengembangan seni kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan kepekaan terhadap irama, nada birama berbagai bunyi.

d. Indikator Kemampuan.
Indikator kemampuan merupakan hasil belajar yang lebih spesifik dan terukur dalam satu kempetensi dasar, indikator-indikator kemampuan dalam Program kegiatan Pendidikan ini merupakan indikator kemampuan minimal yang disusun betdasarkan gradasi tingkat kemampuan.

BAB III
PENUTUP

 Menu pembelajaran generik adalah program pendidikan anak dini usia (lahir- 6 tahun) secara holistik yang dapat dipergunakan dalam memberikan layanan kegiatan pengembangan dan pendidikan pada semua jenis program yang ditujukan bagi anak dini usia.
 Satuan Menu Pembelajaran berfungsi sebagai pedomandalam menyelenggarakan kegiatan PAUD pada berbagai jenis lembaga pengembangan anak usia dini.
 Dalam menyusun rencana kegiatan pendidikan diarahkan pada tiga peran pendidikan yaitu: Pendidikan sebagai proses belajar dalam diri anak, Pendidikan sebagai proses sosialisasi pendidikan, Pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kerjasama peran.
 Materi yang diberikan pada PAUD diantaranya: Pendidikan budi pekerti; Membaca, menulis dan berhitung; kesehatan dan gizi; sikap dan ketrampilan.
 Stuktur Menu Pembelajaran: Kelompok Usia, 6 aspek pengembangan, Kompetensi dan hasil Belajar dan Indikator Kemapuan

Daftar Pustaka

Gutama, Dr, dkk. 2002. Acuan Menu Pembelajaran Pada anak Dini Usia (Menu Pembelaajaran Generik). DEPDIKNAS: Jakarta
Santoso, soegeng, M. Pd. 2002. Pendidikan Anak Usia Dini. Citra Pendidikan: Jakarta
Suyanto, slamet, M. Ed. 2005. Konsep Dasar PAUD. DEPDIKNAS: Jakarta
http://www.Sugimansingadilaga.blogspot.Com. 5/6/2009. Pukul 10.09

BAB I
PENDAHULUAN

Selama 5000 tahun sejarah yang tercatat, pendidikan di rumah, gereja, atau sekolah telah merupakan cara penting untuk menyebarkan tradisi-tradisi dan pengetahuan praktis kepada generasi-generasi yang berikutnya. Hal ini dapat dicontohkan oleh binatang yang mengajarkan kebiasaan-kebiasaan dan ketrampilan-ketrampilan kepada anak-anak mereka melalui peniruan dan disiplin karena belajar adalah perlu bagi kelangsungan hidup dalam satu lingkungan yang bermusuhan. Akan tetapi hanya manusia yang telah menemukan berbagai sistem pendidikan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sangat penting dan mencapai tujuan pribadi maupun tujuan sosial.
Perkembangan bahasa telah memungkinkan manusia dalam masyarat yang paling primitif sekalipun untuk menambah peniruan dan disiplin dengan pelajaran-pelajaran lisan tentang keselamatan dan tugas-tugas ekonomi. Akan tetapi bagi para penguasa yang terdorong oleh ambisi politik mereka menggunakan program-program pendidikan untuk memajukan kepentingan-kepentingan kebangsaan mereka. Para pemimpin agama dan para ahli filsafat yang megabdi kepada cita-cita moral telah berusaha untuk menuntun masyarakat mereka ke arah standar-standar hidup dan kebudayaan yang tinggi melalui pendidikan.
Bangsa Romawi adalah bangsa yang praktis. Perkembangan kerajaan itu mula-mula menghendaki pejuang-pejuang. Kemudian mereka pandai pula membentuk kerajaan yang kuat. Jadi pada mulanya bangsa Romawi itu belum memperhatikan pendidikan mereka, mereka hanya memperhatikan tentang kenegaraan yang sifatnya perjuang dan kerajaan yang kuat untuk mempertahankan negara
Pada zaman Romawi, pendidikan juga merupakan salah satu sumber dalam meningkatkan derajat peradaban yang telah ada pada zaman sebelumnya, yaitu pada zaman Yunani. Orang-orang Romawi mampu meningkatkan derajat peradaban bangsanya melalui pemikiran yang pragmatis.
Pada zaman Romawi kuno, ilmu pendidikan itu lebih difokuskan pada keahlian dalam berbicara atau berpidato (Orator), retorika, karya-karya satra, teknik perang dan administrasi pemerintahan. Tokoh-tokoh pendidikan pada zaman romawi kuno diantaranya:
1. Alexander Agung, Helenisme (334-323 SM),
2. Cicero (106-43 SM)
3. Quitilian (35-95 TM).

BAB II
PEMBAHASAN

Pada masa peradaban tua tekanan utama pendidikan kepada manusia ialah bagaimana cara berusaha agar manusia itu tidak lupa akan segala norma yang berlaku secara lisan di tengah-tengah masyarakat. Ini berlaku untuk semua peradaban tradisional manusia mengenal alfabeth. Dan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kelupaan ialah melalui cerita lisan yang diteruskan kepada anak dan cucu, tentang segala aturan dan norma hidup tang juga diterapkan secara lisan. Begitulah dari generasi ke generasi, manusia mendidik generasi berikutnya dengan cara bercerita.
Pada pendidikan Romawi lama, pendidikan dimulai pada usia anak-anak tujuh tahun. Kebiasaan anak laki-laki dan perempuan didik di rumah, untuk kebiasaan baik dalam pembicaraan dan perbuatan. Setelah bertambah umurnya, mereka diajarkan berburu, berlari, melompat, melempar bola dan tombak kuda serta menunggang kuda dan berenang. Jadi yang penting bagi pendidikan anak Romawi adalah yang berguna, yang menguntungkan negara, menjaga agama dan kesusilaan. Yang menjadi tempat pendidikan adalah rumah tangga sendiri dan yang menjadi pendidik adalah orang tua mereka sendiri. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membentuk manusia yang selalu siap sedia berkorban membela kepentingan tanah airnya. Yang diutamakan benar-benar adalah pembentukan warga Negara yang cukup sebagai tentara. Adapun pendidikan tidak menjadi tugas negara, yang dipentingkan adalah jasmani dan kesusilaan.

1. Pendidikan pada Peradaban Helenistik
Di bawah pemerintahan Alexander agung, kebudayaan yunani telah menyebar keseluruh penjuru dunia. Berkembanglah corak kebudayaan baru yang dinamakan kebudayaan Hellenisme, yakni perpaduan unsur –unsur budaya Yunani dengan Romawi. Sekitar abad ke-4 SM, dimulailah periode Hellenis, di mana kebudayaan Romawi mulai masuk ke Yunani. Pertemuan kedua kebudayaan ini kemudian mempengaruhi juga pendidikan di Yunani. Idealisme manusia tidak hanya ditemukan dalam individu (Yunani) : dalam pemeliharaan jiwa Sokrates, dalam keterlibatan ala Plato manusia yang memiliki arete adalah manusia yang berada dalam sebuah dunia yang tergabung secara global melalui berbagai macam kebudayaan dunia. Pemahaman ini membuka kepada kepada ide humanitas. Akhirnya pendidikan pada masa ini bergeser kepada pendidikan yang berciri humanitas.
Inilah paideianya ala Romawi. Pada masa ini juga muncul berbagai displin ilmu seperi matematika (Euklides), fisika (Archimedes), astronomi (Aristrakus), geografi (Erastisfene), dan lain-lain. Lewat kebudayaan helenis, paideia Yunani berubah menjadi humanitas yang sedalam-dalamnya.
2. Pendidikan pada Peradaban Romawi dan abad pertama dari Republik Romawi
Pada masa ini paideia Yunani mulai berkembang dan mempengaruhi pendidikan di Romawi. Tekanan utama pada paideia Romawi yang baru (yang tidak ada sebelumnya) ialah : peranan penting tradisi dan keluarga dalam pendidikan. Pendidikan di Roma pada abad-abad sebelum masehi ialah dibentuk melalui keluarga dengan cara menghormati apa yang disebut dengan mos maiorum dan sistem pater familias.
Materi dasar bagi pendidikan adalah seperti mengutamakan kebaikan tanah air, la pietas (devosi), la fides (kesetiaan), la grafitas (kualitas hidup) dan la constantia (stabilitas). Semua orang yang didik harus diarahkan kepada manusia yang mempunyai keutamaan seperti 4 hal tersebut, dan ini harus dibentuk sejak orang berada di dalam keluarga.

3. Pendidikan pada Peradaban Cicero
Pendidikan pada peradaban ini berkisar 106-43 SM. Cicero telah mencapai ketenaran dalam berbagai bidang. Ia dikenal sebagai seorang yang ahli pidato besar, seorang ahli filsafat, seorang pengacara yang sangat cakap, seorang penulis yang sangat ulung dalam latin, seorang penulis surat-surat yang mempesonakan, dan seorang pendidik. Karena kepandaiannya yang beraneka ragam dan pengetahuannya mengenai bidang-bidang praktis dan kruktural, maka ia sangat dihormati oleh para cendikiawannya sendiri.
Cicero dan keluarganya tinggal di suatu kota di Italia. Sebagai seorang pemuda, Cicero belajar baik dengan guru pribadi maupun sekolah-sekolah romawi. Pada usia tujuh belas tahun, ia menerima latihan militer dalam tahun 89 SM, ia secara terpuji berdinas dalam tentara Romawi. Selama usia dua puluhan ia berpraktek sebagai ahli hukum untuk beberapa waktu, tetapi kemudian karena alasan kesehatan berpergian ke Athena Rhodes dan Asia Kecil, dan selama itu pula ia mempelajari retorika dan filsafat di bawah bimbingan guru-guru terkemuka.
Dalam karir sebagai pejabat negara Cicero secara terus menerus terlibat dalam konflik-konflik dan kekerasan politik Romawi. Ia pernah menduduki jabatan-jabatan tinggi, menuntut para pejabat yang korup, sehingga ia mempunyai banyak musuh dan dalam tahun 43 SM, ia dijatuhkan hukuman mati.
Karya dan pengaruh Cicero dalam dunia pendidikan telah banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada pendidikan dan filsafat demi kemajuan rakyatnya. Pada abab ke empat belas dan lima belas, gagasan dan pemikiran Cicero tentang pendidikan banyak sekali tertuang dalam hasil-hasil karyanya dan kumpulan pidato-pidatonya digunakan sebagai contoh untuk mengajarkan pemakaian bahasa secara efektif dan filsafat oleh para cendikiawan di seluruh Eropa. Cicero juga telah memberikan dorongan yang hebat untuk mempelajari tulisan-tulisan Yunani dan Romawi kuno terhadap unsur-unsur kebudayaan Renaisance. Renaisance itu sendiri adalah salah satu akibat yang dibawa oleh perang Salib, yang memungkinkan berpindahnya kembali kekayaan intelektual kuno ke tanah Eropa.
Cicero bukanlah seorang ekstrimis tetapi ia lebih menyerupai seorang tokoh yang yang ingin melestarikan cita-cita dan nilai-nilai tradisional yang berasal dari ahli-ahli filsafat Yunani.

4. Pendidikan Pada Peradaban Quintilian
Peradaban ini berkisar dari tahun 35-95 M. Tujuan dari pendidikan pada peradaban ini adalah menjadi pembicara atau orator. Aspek pedagogi sudah harus dimulai pada tahun pertama masa kanak-kanak, ada keyakinan dalam semua diri manusia, menekankan juga pada kualitas pendidikan keluarga, pendidikan sebelum sekolah formal, nasihat didaktik kepada bacaan dan tulisan, telah adanya sekolah privat dan publik, guru retorik, mengembangkan talenta dan bakat natural dan menjadi seorang orator sempurna. Sudah terdapat tiga tingkat pendidikan yang ditawarkan oleh Quintiliano, yaitu Primaria, Secondaria, dan Superiore.
Quintilian adalah seorang pendukung yang bersemangat bagi pendidikan sekolah umum. Warga-warga yang mampu mempunyai pilihan antara mempekerjakan guru-guru pribadi di rumah atau mengirimkan putra-putra mereka ke sekolah-sekolah dengan membayar uang sekolah. Pada suatu waktu ketika korupsi merajalela di antar pegawai-pegawai negeri dan profesi lainnya, orang tua mungkin lebih menyukai mendidik anak-anak mereka di rumah daripada mengambil resiko pergi sekolah teman-teman yang tidak diinginkan. Quintilian memperdebatkan bahwa kelakuan yang jahat dapat dipelajari dengan mudah di rumah, sedangkan suatu sekolah dapat mempekerjakan seorang guru terbaik bagi kelompok besar siswa dan dengan demikian mencegah atau mengoreksi kebiasaan-kebiasaan yang buruk, sementara mengajarkan hal yang pokok secara lebih efisien daripada guru-guru di rumah.
Quintilian menentang hukuman badan berdasarkan alasan bahwa seorang guru yang efisien dapat mendisiplinkan para pemuda secara lebih baik. Memukul seorang pemuda hanya akan memperkerasnya saja, membuat benci dan kejam, dan menciptakan ketidakhormatan daripada menghormati gurunya. Para pemuda secara jujur diberi pujian bagi prestasi-prestasi mereka dan dikritik untuk tingkah laku mereka yang tak baik dan kesalahan-kesalahan mereka. Seorang guru harus memperlihatkan itikad baik dan perhatian kesulitan-kesulitan dan kemajuan para siswa.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada makalah ini, kesimpulan yang kami ambil adalah :
 Pendidikan pada zaman Romawi lama sangat dipengaruhi oleh hasil pemikiran beberapa tokoh pendidikan dan filsafat pada zaman tersebut.antara lain, zaman hellenisme yang dipelopori oleh Alexander Agung, Cicero, dan Mario Fabio Quintiliano.

 Paham hellenis ini memfokuskan pada pada tekanan utama pada kultur dan ilmu pengetahuan. Ciri khas pendidikan hellenis adalah Paidea Humanitas ( semua manusia dididik untuk memenuhi sikap prikemanusiaan kepada sesamanya).

 Pendidikan pada zaman hellenisme dimulai pada usia 7 – 19 atau 20 tahun. Ilmu yang dipelajari antara lain: matematika, geografi, botani, medis, dan stroriografi. Selain itu telah ada pembagian tingkatan sekolah: sekolah dasar, menengah, dan lapangan gymnasium tempat untuk pertandungan olahraga.

 Pendidikan pada zaman Cicero memfokuskan pada keahlian berbicara didepan umum atau berpidato ,yang menitik beratkan pada pemakaian bahasa secara efektif yang menjadi dasar kurikulum tersebut.

 Pendidikan pada zaman Quintillian, harus dimulai pada tahun pertama masa kanak-kanak, yang lebih menekankan pada kualitas pendidikan keluarga, pendidikan prasekolah formal, nasehat didaktik pada bacaan dan tulisan, telah adanya sekolah privat dan publik, guru retorik, mengembangkan talenta dan bakat natural dan menjadi orator utama.

B. Saran
Dengan mempelajari pendidikan pada zaman Romawi lama ini, kami menyarankan agar pendidikan anak pada saat ini dimulai dari keluarga dan dilakukan oleh kedua orang tua. Sehingga pada usia tujuh tahun sampai dua puluh tahun, anak-anak lebih siap dalam psikis maupun fisik untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Selain mempelajari ilmu matematika, botani, medis, geografi, storiografi, filologi dan astronomi, anak-anak juga diarahkan untuk mengoptimalkan kemampuannya dalam berkomunikasi di depan umum.

B A B I
P E N D A H U L U A N

1.1. LATAR BELAKANG
Manusia sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yakni, keluarga, sekolah, dan masyarakat dan ketiganya biasa disebut dengan tripusat pendidikan. Iingkungan yang pertama kali dikenal oleh anak, tapi merupakan hal yang terpenting adalah keluarga.
Pada masyarakat yang masih sederhana, keluarga mempunyai dua fungsi; fungsi konsumsi dan fungsi produksi. Kedua fungsi ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi anak. Kehidupan masa depan anak pada masyarakat tradisional tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang tuannya. Pada masyarakat semacam ini, orang tua yang mengajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup. Orang tua pula yang melatih dan memberi petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan. Sampai anak menjadi dewasa dan berdiri sendiri.
Tetapi pada masyarakat modern, maka pendidikan yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Pada tingkat permulaan fungsi ibu sebagian sudah diambil alih oleh pendidikan prasekolah. Bahkan fungsi pembentukan watak dan sikap mental pada masyarakat modern berangsur-angsur diambil alih oleh sekolah dan organisasi sosial lainnya.
Meskipun keluarga kehilangan sejumlah fungsi yang semula menjadi tanggung jawabnya, namun keluarga masih tetap merupakan lembaga yang paling penting dalam proses sosialisasi anak, karena keluarga yang memberikan tuntunan dan contoh-contoh semenjak masa anak sampai dewasa dan berdiri sendiri. Namun dalam masyarakat modern orangtua harus membagi otoritas dengan orang lain terutama guru dan pemuka masyarakat, bahkan dengan anak mereka sendiri yang memperolah pengetahuan baru dari luar keluarga. Perubahan sifat hubungan orang tua dengan anaknya itu, akan diiringi pula dengan perubahan hubungan guru siswa serta didukung iklim keterbukaan yang demokratis dalam masyarakat. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara ketiga pusat pendidikan itu.
1.2. PERUMUSAN MASALAH
Ada hal yang perlu menjadi perhatian setiap kalangan dalam melaksanakan pendidikan bagi anak, atau generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa kelak, dan juga ada beberapa hal yang perlu dikaji secara mendalam agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan bergerak menuju cita-cita bersama yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Oleh karena itu setiap pihak harus memahami betul peran yang akan dijalankannya berkaitan dengan tugas pendidikan yang sandangnya,
• Yaitu bahwa bagaimana orang tua dapat melaksanakan perannya dalam, pendidikan anak dengan baik?
• Bagaimana pula peran sekolah dlam membina cikal bakal tulang punggung Negara ini?
• Dan yang terakhir, yaitu sejauh mana masyarakat dapat berperan dalam pendidikan ini, agar terwujud masyarakat yang ideal?
Dengan demikian dalam bab pembahasan, semua hal yang tercantum dalam perumusan ini akan mencoba dikaji kembali.

B A B I I
K A J I A N T E O R I

Sebelum memasuki bab pembahasan, bahwa semua yang akan kita kaji ke depan adalah berdasarkan beberapa teori yang telah dikemukakan beberapa tokoh pendidikan. Bahwa dalam garis besarnya, ada tiga pusat yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak-anak didik .
Antara lain adalah menurut Dr M.J. Langeveld yang mendasarkan pendidikan pada filsafat antropologi dan fenomenologi, yaitu ;
Beliau mengemukakan tiga macam lembaga pendidikan ;
a. Keluarga
b. Negara
c. Gereja
Dasar yang digunakan oleh Langeveld dalam pembagian tersebut adalah wewenang dan wibawa
• Wewenang keluarga bersifat kodrati
• Wewenang Negara berdasarkan undang-undang
• Wewenang Gereja berasal dari Tuhan
Selanjutnya Langeveld mengemukakan bahwa, pendidikan merupakan salah satu kewajiban pertama bagi orang tua. Dan Negara menyediakan alat yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban orang tua terhadap anak.
Kemudian teori yang dikemukakan oleh Ki hajar dewantara. Ki Hajar ini yang mempunyai nama asli, R.M. Soewardi Soerjaningrat, mengemukakan Sistem Tricentra dengan menyatakan, “Didalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam – keluarga, alam – pergururan, dan alam – pergerakan pemuda”
Tricebtra atau Tri Pusat, semula dikemukakan Ki Hajar Dewantara pada Brosur Seri “Wasita” th. Ke 1 No.4, Juni 1935 yang isinya meliputi;
• Alam keluarga
• Alam perguruan
• Alam pemuda
Namun kini dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan yang meliputi :
• Keluarga
• Sekolah
• Mesyarakat
Berangkat dari beberapa teoro ini maka dipembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai peran dari ketiga Tri Pusat pendidikan itu dalam pendidikan

B A B I I I
P E M B A H A S A N

3.1. PENTINGNYA PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah sebagi pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah dalam keluarganya.
Peranan orang tua bagi pendidikan anak menurut Idris dan Jamal (1992), adalah memberikan dasar pendidikan , sikap dan keterampilan dasar seperti, pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan-peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan.
3.1.1. Pembinaan karakter anak yang dilakukan oleh keluarga
Secara etimologi pengasuhan berasal dari kata “asuh” yang artinya, pemimpin, pengelola, membimbing. Oleh kerena itu mengasuh disini adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya dan keberhasilannya dari periode awal hingga dewasa.
Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini.
Berbagai pola asuh orang tua dapat mempengaruhi kreativitas anak antara lain, lingkungan fisik, lingkungan sosial pendidikan internal dan eksternal. Intensitas kebutuhan anak untuk mendapatkan bantuan dari orang tua bagi kepemilikan dan pengembangan dasar-dasar kreatuvitas diri, menunjukan adanya kebutuhan internal yaitu manakala anak masih membutuhkan banyak bantuan dari orang tua untuk memiiliki dan mengembangkan dasar-dasar kreativitas diri ( berdasarkan naluri), berdasarkan nalar dan berdasarkan kata hati.
Dari hasil penelitian bahwa bila orang tua berperan dalam pendidikan, anak akan menunjukan peningkatan prestasi belajar, diikuti dengan perbaikan sikap, stabilitas sosio-emosional, kedisiplinan, serta aspirasi anak untuk belajar sampai ke jenjang paling tinggi, bahkan akan membantu anak ketika ia telah bekerja dan berkeluarga.
3.1.2. Keluarga sebagai wahana pertama dan utama pendidikan
Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat, Oleh karena itu para sosiolog yakin, segala macam kebobrokan masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga.
Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat pertama dan iutama bagi pertunbuhan dan perkembangnnya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB, fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta, memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”.
Keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi departemen kesehatan , pendidikan adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal untuk megajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan menguasai kemampuan- kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi lain untuk memperbaiki kegagalannya. Karena kagagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang berkarakter buruk atau tidak berkarakter. Oleh karena itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.
3.1.3. Pola asuh menentukan keberhasilan pendidikan anak dalam keluarga
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai- nilai kebijakan pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, serta norma-norma yang berlaku di masyarakat.agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.
Beberapa macam contoh pola asuh :
• Pola asuh otoriter , yaitu mempunyai ciri, kekuasan orang tua dominan, anak tidak diakui sebagai pribadi, control terhadap tingkah laku anak sangat ketat, orang tua menghukum anak juka tidak patuh.
• Pola asuh demokratis, kerjasama antara orang tua- anak, anak diakui sebgai pribadi, ada bimbingan dan penngarahan dari orang tua, control orang tua tidak kaku.
• Pola asuh permisif, mempunyai ciri, dominasi oleh anak, sikap longgar atau kebebasan dari orangt tua, control dan perhatian orang tua sangat kurang
Melalui pola asuh yang dilakukan orang tua anak akan belajar banyak hal, termasuk karakter. Artinya jenis pola asuh yang ditetapkan orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.

3.1.4. Kesalahan keluarga dalam mendidik anak mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak
Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak, diantaranya adalah,
• Orang tua kurang menunjukan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik
• Kurang meluangkan waktu untuk anak
• Orang tua bersikap kasar secara verbal, misalnya, menyindir anak, mengecilkan anak dan berkata kata kasar
• Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit atau memberikan hukuman badan lainnya.
• Orang tua terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini
• Orang tua tidak menanamkan karakter yang baik pada anak
Dampak salah asuh diatas akan menimbulkan anak yang mempunyai kepribadian yang bermasalah atau kecedasan emosi yang rendah, seperti:
• Anak menjadi tak acuh, tidak menerima persahabatan, rasa tidak percaya pada orang lain dll
• Secara emosionil tidak responsif
• Berprilaku agresif
• Menjadi minder
• Selalu berpandangan negatif
• Emosi tiodak stabil
• Emosional dan intelektual tidak seimbang dll

3.2. PERANAN SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN
Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Karena kamajuan zaman, maka keluarga tidak mungkin l;agi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi anak terhadap iptek. Semakin maju suatu masyarakat, semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat itu.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan sekolah dalam perannya sebagai lembaga pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah, antara lain

3.2.1. Pengajaran yang mendidik
Yaitu pengajaran yang serentak memberi peluang pencapaian tujuan intruksional bidang studi dan tujuan-tujuan umum pendidikan lainnya. Dalam upaya mewujudkan pengajaran yang mendidik, perlu dikemukakan bahwa setiap keputusan dan tindakan guru dalam rangka kegiatan belajar mengajar akan membawa berbagai dampak atau efek kepada siswa,
Pemilihan kegiatan belajar yang etpat, akan memberikan pengalaman belajar siswa yang efisien dan efekti untuk mewujudkan pembangunan manusia seutuhya. Hal ini dapat dilaksanakan dengan konsisten apabila guru memiliki wawasan kependidikan yang tepat serta menguasai berbagai strategi belajar mengajar sehingga mampu dan mau merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar mengajar yang kaya dan bermakna bagi peserta didik.
Selain itu, pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkin kepada anak dalam kegiatan belajar mengajar akan memupuk kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri yang terus menerus. Dengan demikian diharapkan peran sekolah dapat mewujudkan suatu masyarakat yang cerdas.

3.2.2. Peningkatan dan pemantapan program bimbingan dan penyuluhan (BP) di sekolah
Seperti diketahui, bidang garapan program BP adalah perkembangan pribadi peserta didik, khususnya aspek sikap dan perilaku atau kawasan afektif.
Dalam pedoman kurikulum disebutkan bahwa,
Pelaksanaan kegiatan BP di sekolah menitikberatkan kepada bimbingan terhadap perkembangan pribadi melalui pendekatan perseorangan dan kelompok. Siswa yang menghadapi masalah mendapat bantuan khusus agar mampu mengatasi masalahnya. Semua siswa tetap mendapatkan bimbingan karier.
Pendidikan afektif dapat diawali dengan kajian tentang nilai dan sikap yang seharusnya dikejar lebih jauh dalam perwujudannya melalui perilaku sehari-hari.

3.2.3. Pengembangan perpustakaan sekolah
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu pusat sumber belajar, yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga berbagai sumber belajar lainnya. Perpustakan diharapkan peranannya bisa lebih aktif dalam mendukung program pendidikan. Dengan penyediaan berbagai perangkat lunak yang didukung perangkat keras yang memadai maka perpustakaan dapat menjadi “mitra kelas” dalam proses belajar mengajar dan tempat pengkajian berbagai pengembangan system instruksional.
Suatu perpustakaan sekolah yang memadai akan dapat mendorong siswa atau anak untuk belajar mandiri.

3.2.4. Peningkatan Program pengelolaan sekolah
Khususnya yang terkait dengan peserta didik, pengelola sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan reflexi dari suatu masyarakat yang beradab yang dicita-citakan oleh tujuan nasional. Gaya kerja pengelola umumnya, akan berpengaruh bukan hanya melalui kebijakannya tetapi juga aspek keteladanannya.
Demikianlah beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan.

3.3. PERANAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
Peran serta Masyarakat (PSM) dalam pendidikan memang sangat erat sekali berkait dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan . ini tentu saja bukan hal yang ,mudah untuk dilakukan. Akan tetapi apabila tidak dimulai dan dilakukan dari sekarang, kapan rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimaldapat diperolah dunia pendidikan.

3.3.1. Norma –norma Sosial Budaya
Masyarakat sebagai pusat paendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
Masalah pendidikan di keluarga dan Sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat, dimanapun berada pasti punya karakteristik sendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang berbeda dengan masyarakat yang lain.
Di Masyarakat terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh warganya dan norma-norma itu berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warganya dalam bertindak dan bersikap. Dan norma-norma tersebut merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi berikutnya. Penularan-penularan itu dilakukan dengan sadar dan bertujuan, hal ini merupakan proses dan peran pendidikan dalam masyarakat.

3.3.2. Jenis jenis peran serta masyarakat dalam pendidikan
Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Yang biasa diklasifikasikan dalam, dimulai dari tingkat terendah ke tingkat lebih tinggi,yaitu;
• Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis ini adalah jenis tingkatan yang paling umum, pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk pendidikan anak.
• Peran serta secara fasif. Artinya, menyetujui dan menerima apa yang diputuskan lembaga pendidikan lain , kemudian menerima keputusan lembaga tersebut dan mematuhinya.
• Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada jenis ini, masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sarana dan prasaranan pendidikan dengan menyumbangkan dana, barang atau tenaga
• Peran serta dalam pelayanan. Masyarakat terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya membantu sekolah dalam bidang studi tertentu.
• Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. Misalnya, sekolah meminta masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, dll.
• Peran serta dalam pengambilan keputusan. Masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan anak , baik akademis maupun non akademis. Dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan pendidikan.

B A B I V
P E N U T U P

4.1. KESIMPULAN
Disamping peningkatan kontribusi dalam perannya masing masing, Keluarga , sekolah, dan masyarakat terhadap perkembangan peserta didik, diprasyaratkan pula keserasian kontribusi ini, serta kerjasama yang erat dan harmonis antar ketiga pusat pendidikan anak tersebut. Berbagai upaya harus dilakukan, program pendidikan dari setiap unsur sumber pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat diharapkan dapat saling mendukung dan memperkuat antara satu dengan yang lainnya.
Misalnya, dilingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, penanaman ahlak baik dan sebagainya) yang menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekola dan masyarakat. Dilingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa ( seperti membuat organisasi orang tua dan guru). Selanjutnya sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat sekitar. (Contoh, nara sumber dari masyarakat).
Dengan masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat itu , akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.

4.2. SARAN-SARAN
Mengharapkan setiap pihak yang terlibat dalam pendidikan agar lebih menguatkan tekad untuk berperan aktif dalam pendidikan, agar jalan menuju tujuan pendidikan yang dicita-cita setiap insan manusia dapat segera terwujud. Dan berusaha memulai hal hal positif yang dapat membantu proses pendidikan sedini mungkin atau secepat mungkin. Serta tidak perlu menunggu yang lain sebaik nya dari unsur terkecil yaitu individu, Dan setiap individu inilah diharapkan menjadi sekumpulan orang yang peduli pada pendidikan, sekumpulan kecil ini diharapkan dapat mewarnai seluruh rakyat yang besar ini terhadap kesadarannya akan peran masing- masing dalam pendidikan.

BY: Erie siti syarah

B A B I
P E N D A H U L U A N
1.1. LATAR BELAKANG
Hingga hari ini pun masih banyak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) diatas level normal (100). Syukur – syukur kalau bisa jadi anak superior dengan IQ diatas 130. Skor Tes IQ sering dilihat sebagai ukuran kecerdasan seorang anak . Padahal skor tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan pola asuh, hubungan anak dengan orang tua, kebiasaan belajar, dan factor lingkungan lainnya
Intelligence adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Dalam arti yang lebih luas, para ahli mengartikan intelligence sebagai suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berdikir secara rasional. Bukan semata- mata mencerminkan kecerdasan terbaik seseorang.
Harapan ini tentu syah-syah saja. Namun, dalam perjalanan berikutnya orang mengamati, dan pengalaman memperlihatkan, tidak sedikit orang dengan IQ tinggi , yang sukses dalam studi, tetapi kurang berhasil dalam karier dan pekerjaan. Dan dari realitas itu, lalu ada yang menyimpulkan, IQ penting untuk mendapatkan pekerjaan, namun tidak untuk peningkatan dalam karier.
Karena untuk menapaki tangga karier, ada sejumlah unsur lain yang lebih berperan. Misalnya saja yang terwujud dalam seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa bisa ia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes ia berkomunikasi dan menangkap bahsa tubuh orang lain.
Sebelumnya , para ahli juga telah memahami bahwa kecerdasan tidak semata-mata ada pada kemampuan dalam menjawab soal matematika atau fisika. Kecerdasan bisa ditemukan ketika seseorang mudah sekali mempelajari music dan alat-alatnya, bahkan juga pada seseorang yang pintar sekali memainkan raket atau menendang bola. Pertanyaan seputar ini kemudian terjawab keti Daniel Goleman menerbitkan buku Emotinal intelligence : Whay it can matter more than IQ (1995). Dan kemudian Howard Gardner yang mengemukakan teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence) dalam bukunya Frames of mind : The Theory of Multiple Intelligences (Baisc Book, 1983)
Buku Gardner tamp[ak berpengaruh besar karena setelah itu banyak pendidik yang mengubah cara mengajarnya. Teori Gardner juga mengubah cara orang memandang IQ, dan juga persepsi tentang “Menjadi Pintar”. Mungkin perubahan paling penting adalah pada caera pandang guru terhadap murid. Setelah mempelajari ini guru memberikan perhatian lebih besar terhadap apa yang bisa dikerjakan lebih baik oleh murid., dan bukan pada apa yang tidak bisa mereka kerjakan.
Walaupun istilah kecerdasan atau ketrampilan emotional relatif baru, namun haruslah disadari, bahwa saat ini mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi sama pentingnya dengan mempunyai IQ yang tingi. Pengkajian demi pengkajian telah menunjukan bahwa anak denga kecerdasan emosional yang baik, lebih berbahagia, lebih percaya diri, dan lebih sukses di sekolah. Yang penting juga, keterampilan ini menjadi fondasi bagi anak anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli kepada orang lain, dan produktif.
Dalam meningkatkan kecerdasan emosional, bisa dikatakan bahwa hal itu sama saja dengan mengubah struktur kimia otak anak. Atau tepatnya, mengajri mereka cara mengendalikan fungsi otak mereka. Mengapa? Karena emosi bukanlah gagasan abstrak yang telah diciptakan oleh para psikolog, melainkan sesuatu yang sangat nyata. Emosi tampil dalam wujud senyawa-senyawa biokimia khusus yang dihasilkanoleh otak dan menyebabkan tubuh bereaksi.
Contohnya adalah, makanan yang ‘terasa enak’ seperti coklat dan es krim memicu otak untuk melepaskan serotonin dan endorphin, denyawa biokimia yang oleh otak dihubungkan dengan perasaan sejahtera. Dengan ini kita dapat mengajari anak bagaimana cara mengubah biokimia emosi mereka, membantu mereka agar lebih adaptif, lebih mampu mengendalikan diri, dan merasakan kebahagiaan yang murni.
Namun selain kecerdasan emosi, ternyata masih ada satu intelligence atau kecerdasan yang harus dimiliki oleh manusia, jika ingin mencapai kebahagiaan, yaitu kecerdasan spiritual, yang pada kenyataannya bagi orang yang tidak mempercayai ada Hal yang lebih besar diluar dirinya, tak akan mempunyai kemampuan untuk mencerdaskan spiritualnya. Walaupun sesungguhnya spiritualitas tidaklah identik dengan religiusitas, sekalipun keduanya sangat berdekatan dan saling menopang.
Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, dan moral. Spiritual memberi arah dan arti pada kehidupan. H akan hidup menjadi indah karena diri manusia tidak dikurung oleh batas-batas fisik. Karena itu apakah makna sesungguhnya dari kecerdasan emosi dan spiritual itu ? akan kita temui dalam bab pembahasan, namun sebelumnya, didalan perumusan masalah kita melihat rincian apa sajakah yang akan kita bahas bersama.
1.1. PERUMUSAN MASALAH
Sebelum masuk kedalam bab pembahasan yang akan mengupas hal – hal yang berkaitan dengan kedua macam kecedasan yang akan berpengaruh bagi budi pekerti dan perilaku. Maka hal-hal berikut dibawah ini adalah yang jawabannya terdapat dalam bab pembahasan masalah, yaitu,
Pertama kali kita akan mencoba untuk mengenal makna dari kecerdasan emosi mudah dapat dan spiritual yang sudah barang tentu adalah hal yang berbeda. Kemudian bagaimana pula peran kecerdasan emosi dalam proses belajar mengajar, dan bagaimana mengajarkan kecerdasan emosi atau spiritual kepada anak sejak usia dini. Dan yang terakhir akan ditutup dengan kesimpulan dan saran –saran yang mudah dan dapat bermanfaat bagi semua orang.

B A B I I
K A J I A N T E O R I
2.1. PENTINGNYA PENDIDIKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Sejak kecil biasanya siswa diharapkan untuk mempunyai nilai yang bagus di sekolah. Setelah siswa lulus sekolah, mereka diharapkan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat membantunya meraih ‘masa depan yang cerah’ dan gaji yang tinggi. Banyak orang tua, bahkan para guru, berpikir bahwa nilai yang tinggi dan lulusan sekolah merupakan jaminan untuk mendaptakan pekerjaan dan kesuksesan dalam karier.
Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal. Kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu kesuksesan bagi seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajarmengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis, membuat tidak seorang individu atau institusi manapun yang dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus bekerja sama dalam tim karena setiap orang terpaksa harus dapat bekeja sama dengan orang lain.
George Lucas, chairman PBS Foundation, mencontohkan pekerjaannya dibidang film membutuhkan orang , selain berbakat dan berketerampilan teknis yang kuat , juga harus mampu berkomunikasi dengan dengan baik dan bekerjasama. Karena itu “salah satu hal yang perlu diajarkan di sekolah dalam mempersiakan anak didiknya ke dunia nyata adalah dengan mengajarkan kecerdasan emosi”
Lalu apakah kecerdasan emotional? Dapat dikenali melalui lima komponen dasar yaitu :
1. Self-awareness (pengenanalan diri)
2. Self-regulation (penguasaan diri)
3. Self-motivation (motivasi diri)
4. Empathy (empati)
5. Effective Relationship (hubungan yang efektif)
2.2. TEORI MENGENAI KECERDASAN SPIRITUAL
Pembicaraan mengenai SQ atau kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep filosofis yang menjadilatar belakangnya. Konsep mengenai SQ itu sendiri sebenarnya sudah lama diperbincangkan, hanya saja dengan kemasan yang berbeda.
Dalam aliran psikolog dikenal tiga aliran yang menjadi inspirasi bagi banyak aliran yang berkembang, adalah behaviourism, psikoanalisis, dan humanistis. Kecerdasan spiritual banyak mengembangkan konsep dari aliran humanistis. Aliarn humabistis ini mengembangkan sayapnya nmembentuk psikologi transpersonal, dengan landasan “keagamaan” sebagai peak experience, plateau dan fartherst of human nature. Menurut Maslow psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal .
SQ adalah pengetahuan dasar yang perlu difahami, tidak mesti berhubungan dengan agama.karena kecerdasan iniadalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang yang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya dan nilai. Tidak mengikuti nilai apa-apa, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai
Hidayah Nataatmadja memberikan elaborasi yang sangat menarik berkenaan dengan intelligence spiritual ini. Menurutnya intelligence manusia berlangsung melalui jalur iqra. QS Al Alaq :1-5. Teori ini diungkapkan pertama kali oleh Marsha Sinetar (thn 2000), Yang menemukan pentingnya peran kecerdasan Spiritual.
Menurut Dr Seto Mulyadi kecerdasan spiritual adalah bagaimana manusia dapat berhubunngan dengan Sang Pencipta. Dengan kata lain ‘Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk mengenal potensi fitrah dalam dirinya, serta kemampuan seseorang mengenali Tuhannnya, yang telah menciptakannya, sehingga dimanapun berada merasa dalam pengawasan Tuhannya

B A B III
P E M B A H A S A N
3.1. MAKNA KECERDASAN EMOSI ( EQ))
Akar kata dari emosi adalah Movere, kata kerja bahasa Latin yang berarti ‘menggerakan, bergerak’, ditambah awalan ‘e’ untuk member arti ‘bergerak jauh’, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Bahwasanya emosi memancing tindakan yang tidak rasional baik positif maupun negative.
“Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharan-Nya, ditaburi rahmat-Nya dan dimasukan ke dalam surge-Nya, yaitu apabila diberi, ia berterimakasih, apabila berkuasa ia memaafkan dan apabila marah ia menahan diri (mampu menguasai diri)” HR. Hakim dan Ibnu Hiban
Mencoba mengambil pemahaman dari hadits di atas, bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada proiduktifutas dan bukan konflik .
Ternyata hasil penelitian menyebutkan bahwa untuk sukses dalam hidup, peran IQ ternyata hanya 20 %. Selebihnya adalah kecerdasan emosi (EI/EQ). Di dunia IQ rata-rata meningkat menjadi lebih baik sebanyak 20 % . Namun kenaikan ini berbanding terbalik dengan moral manusia. Tanpa cinta, atensi, dan apresiasi dalam hidup, sebagaimana lazimnya dalam pola asuh yang keliru, melahirkan anak yang tidak cerdas emosinya, cebderung merusak diri dan lingkungannya.
Anak dengan kecerdasan emosi yang tinggi memiliki cirri-ciri :
• Mantap secara sosial, mudah bergaul
• Tidak lekas takut atau gelisah
• Mudah melibatkan diri dengan orang lain atau masalah
• Bersedia memikul tanggung jawab
• Kehidupan emosinya kaya
• Merasa nyaman dengan diri sendiri, oramng lain dan dunia pergaulannya
Dan seorang anak yang tidak cerdas memiliki cirri-ciri yang berlawanan dengan hal yang telah disebutkan di atas. Elemen emosi ini dapat ditingkatkan pada berbagai tingkat usia melalui pola asuh yang tepat . dan prinsip dasarnya adalah;
• Memotivasi diri
• Ketahanan menghadapi masalah
• Mengendalikan emosi
• Menunda kepuasan
• Mengatur kondisi jiwa
Untuk menungkatkan hal hal tersebut , sedikitnya perlu waktu satu jam penuh setiap hari ibu berdekatan dengan batitanya. Tidak kurang pentingnya peran ayah. Bermain dengan ayah merupakan kebutuhan yang tak tergantikan dengan cara apapun (Fatherhood project). Basic secure anak akan tumbuh bila pada waktu kecil anak memiliki pengalaman bermain dengan ayah .
3.1.1. Peranan Kecerdasan Emosi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar
Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran pikiran khasnya ( keadaan biologis atau psikisnya), serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ada ratusan emosi beragan campurannya, misalnya, Amarah; beringas mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung, bermusuhan dll. Rasa takut; cemas, gugup, khawatir, fobia, tidak tenang dll. Kenikmatan ; bahagia gembira, puas, bangga, terpesona dan senang. Cinta; kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat kasmaran dll.
Lima aspek kecerdasan emotional dapat mengahruskan guru yang ingin menjadi seorang profesionalisme tidak boleh mengabaikan kelima aspeh di atas untuk menjadi modal dalam membantu anak didik meraih kebahagiaan dan masa depan yang baik. Yaitu :
• Mengenali emosi diri , inti dan kecerdasan emosional adalah kesadaran akan perasaan diri sendiri yang timbul dalam diri sehingga dapat memahami dan menyikapinya dengan baik/positif
• Mengelola emosi , Emosi bukan untuk ditekan, karena setiap perasaan mempunyai nilai dan makna. Sebagaimana yang diamati Ariestoteles yang dikehendaki adalah ekspresi yang wajar, yakni adanya keselarasan antara perasaan dan lingkungan, sehingga dapat mengendalikan diri.
• Memotivasi diri sendiri, Kecerdasan emotional dapat menjadi kecerdasan yang utama apabila pengelolaan tingkat emosi dengan jalan mempertinggi kemampuan lainnya
• Mengenali emosi orang lain, akar permasalahan disini adalah empati yang artinya adalah ikut merasakan perasaan orang lain. Dan hal ini tumbuh sejak usia balita.
• Membina hubungan sosial , Salah satu kunci kecakapan sosial adalah seberapak baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaanya sendiri. Dalam bersosialisasi hendaknya kita mempunyai tampilan emosi yang baik.Karena kecerdasan emosi menyangkut dalam menangani hubungan sosial dan dapat menularkan emosi positif .
Sebagai pendidik yang terampil secara emosional dapat sangat membantu anak didik dengan memberikan ketrampilan emosional di sekolah. Dan hasil dari anak yang telah mendapatklan pendidikan EQ dengan baik mempunyai karakter sebagai berikut Lebih pintar menangani emosi dan lebih stabil, sehingga disukai banyak anak didik yang lain juga guru.
• Lebih dapat berkonsentrasi dalan kegiatan belajar Mengajar
• Lebih bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan dan lebih tegas (dalam menjauhi kecurangan-kecurangan dalan proses belajar mengajar)
• Lebih memahami orang lain
• Lebih terampil dalam menyeleseikan konflik (cerdas dalam pemecahan masalah)
• Berfikir dahulu sebelum bertindak, kematangan emosi membuat tenang alam bertindak dan mengambil keputusan.
• Lebih memahami akibat dari tindak tanduk mereka.
3.1.2. Macam Macam Stimulasi atau Optimalisasi Kecerdasan Emosi sejak usia dini
William Damon, seorang professor di Browrn University, pakar dalam perkembangan moralk anak, menyatkan bahwa anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional dan sosial sebagai berikut:
• Mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan anata perilaku ‘baik’ dan yang ‘buruk’ dan mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsistendengan sesuatu yang dianggap baik.
• Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian, dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain yang diungkapkan memlaui sikap peduli, dermawan, ramah, dan pemaaf.
• Mereka harus merasakan reaksi emosi negative seperti, malu, rasa bersalah, tajut, dan rendah bila menlanggar aturan moral.
Untuk menanamkan nilai-nilai di atas pada anak, (yang berupa kecerdaan emosi) maka orang tua sudah sepatutnya berusaha mencoba cara- cara menstimulasi atau mengembangkan potensi kecerdasan itu. Dimulai dari :
• Mengajarkan empati atau mengajari mereka peduli pada orang lain, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman, hal ini tidak cukup bila hanya dibicarakan, keterampilan EQ tertentu khususnya hubungan anak dengan orang lain, hanya dapat diajarkan dengan efektif me;lelui bagian otak emosional.
• Ajarkan nilai kejujuran pada anak sejak mereka masig muda dan konsisten dengan pesan anda pada waktu usia mereka bertambah. Pemahaman anak mengenai kejujuran bisa beruibah, tetapi pemahan orang tua tidak boleh berubah.
• Rasa malu dan rasa bersalah bukanlah aspek emosi yang harus dijauhi. Apabila digunakan dengan tepat, emosi-emosi ini penting bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anak.
• Berpikir realistis adalah lawan membohongi diri sendiri. Kisah-kisah keteladan bisa menjadi cara yang paling baik untuk mengajarkan keterampilan ini, entah dibacakan atau yang dikarang sendiri. Anak pada akhirnya akan berpikir realistis jika orang tua berbuat halyang serupa. Tidak boleh menyembunyikan kebenaran pada anak, walaupun itu menyakitkan
• Anak dapat diajari bersikap leboih optimis sebagai salah satu cara untuk bertahan terhadap depresi dan ancaman gangguan mental serta fisik. Dan optimism ini bersumber dari cara berfikir yang realistis serta dari kesempatan-kesempatan menghadapi tantangan yang sesuai dengan usia, kemudian menguasai cara-cara menghadapi tantangan itu.
• Anak yang masih kecil belajar menjadi pemecah masalah melalui penaglaman. Buat tantangan untuk mereka, alih alih campur tangan dan memecahkan masalah mereka.
• Keterampilan sosial dapat dan harus diajarkan. Ketrampilan bercakap-cakap membantuanak masuk kedalam pergaulan dengan seseorang atau kelompok.keterampilan ini meliputi informasi pribadi, mengajukan pertanyaan, mengekspresikan minat, dan mengekspresikan penerimaan.
• Humor juga termasuk salah satu keterampilan sosial yang penting. Juga termasuk bakat yang patut disyukur. Humor mempunyai tujuan yang berbeda pada usia yang berbeda pula,tetapi sepanjang hidup seseorang, hal ini dapat membantunya dalam berhubungan dengan orang laindan dalam mengatasi berbagai masalah.
• Mempunyai “teman yang akrab” adalah fase pertumbuhan yang penting yang dapat mempengaruhi cara anak menjalin hubungan saat mereka remaja atau dewasa.. Pastikan anak memperoleh kesempatan yang sesuai dengan usia untuk mendapatkan keterampilan mencari teman.
• Sopan santun adalah salah satu keterampilan emosi yang paling mudah diajarkan, tetapi pengaruhnya luar biasa pada keberhasilan mereka dalam pergaulan di kemudian hari.
• Keterampilan manajemen waktu merupakan kecerdasan emosi penting yang akan bermanfaat sampai seumur hidup anak. Tidak ada istilah terlalu diniuntuk mengajarkan keterampilan ini.
• Mempunyai hobi, adalah cara unik untuk mengajari anak menghargai usaha karena didalamnya tedapat unsur unsur baik dari bermain maupun bekerja.
• Ajarkan kepada anak bahwa keberhasilan sering dibangun diatas kegagalan. Dan bantu anak merasakan ganjaran dari suatu keberhasilan kerja sama yang tidak mungkin dicapai oleh satu orang saja.
• Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui kata-kata sebagai upaya untuk mengatasi konflik, dan kesusahan mereka, dan agar kebutuhan ,mereka terpenuhi.
• Ajari pula anak klemampuan mendengarkan aktif untuk membantu mereka mengembangkan hubungan yang secara emosional saling memberi saat sekarang dan kemudian hari.
• Juga orang tua harus memberikan pengajran terhadap pengendalian emosi, selain dengan teladan dari oarng tua, atau dengan keterampilan problem solving dan mencari solusi, juga banyak tehnik yang bermunculan dalam rangka mengajarkan anak mengendalikan emosinya.

3.2. MAKNA KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)
Kecerdasan Spiritual (SQ) metupakan kelanjutan mata rantai keilmuan dalam bidang psikologi, setelah keberadaan pengukuran kecerdasan melalui metode IQ dan EQ, semakin dpertanyakan. Dalam buku Menjadi Jenius seperti Leonardo davinci (2001) misalnya, diungklapkan kelemahan dasar dari konsep IQ dan skor IQ ternyata dapat ditingkatkan secara significant melalui pelatihan yang tepat.
Menurut Michal Kevin dalam Spiritual Intelligence, Awekening the power of your spirituality and intuition (2000) menyatakan bahwa pengetahuan spiritual perlu ditancapkan ke ranah kesadaran. Karena spiritualitas sebatas pengetahuan menjadi tidak bermakna. Orang yang cerdas secara spiritual bukan berarti kaya dengan pengetahuan spiritual, melainkan sudah merambah ke dalam kesadaram spiritual. Kesadaran ini terefleksikan ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sikap hidup yang arif dan bijak secara spiritual, toleran, terbuka, jujur, cinta kasih dan lain-lain.
Kgalil A khawari mengungkapkan perspektif kecerdasan spiritual adalah sebagai pembimbing untuk meraih kebahagiaan spiritual. Sebagai mahluk spiritual, kebahagiaan manusia tidak bisa lagi diukur dengan uang, kesuksessan, kepuasan seksual dan lain- lain, tetapi kebahagiaan yang diletakam pada wilayah spiritual .
Dengan demikian jika kecerdasan IQ bersandarkan pada nalar, rasio intelektual, sementara kecerdasan emosi (EQ) bersandar pada emosi, maka hakikat kecerdasan spiritual (SQ) disandarkan kepada kecerdasan jiwa, ruhani dan spiritual. SQ adalah kecerdasan generasi ketiga yang diyakini mampu melahirkan kembali manusia setelah sekian lama mengalami alienasi dan dioreientasi hidup.
Dan makna kecerdasan spiritual pada anak adalah, bukan berarti anak mampu melakukan ritual keagamaandengan baik, tetapi anak percaya ada kekuatan non fisikyang melebihi kekuatan manusia. Sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Tuhan lewat hati nurani.
Menurut prof. DR Komarudin Hidayat, Dirut eksekutif Pendidikan Madania, hakikat spiritual anak-anak tercermin dalam sikap spontan, imajinasi, dan kretifitas yang tidak terbatas, dan semua ini dilakukan dengan terbuka dan ceria.
Sesungguhnya kecerdasan spiritual tidak identik dengan religiusitas, sekalipun keduanya sangat berdekatan dan saling menopang. Spiritualitas adalah, dasar bagi tumbuhnya harga diri,nilai-nilai dan moral. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan.
3.2. 1. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini
Anak dilahirkan dengan kecerdasan spiritual yang tinggi, tetapi perlakuan orang tua dan lingkungan yang menyebabkan mereka kehilangan potensi spiritual tersebut. Padahal pengembangan kecerdasan spiritual sejak dini akan memberi dasar bagi terbentuknya kecerdasan kecerdasan intelektual dan emosional pada usia selanjutnya .
Krisis ahklak yang menimpa Indonesia, contohnya, berawal dari lemahnya penanaman nilai terhadap anak usia dini. Pembentukan akhlak terkait erat dengan emosi namun kecerdasan ini tidak berarti jika tidak ditopang oleh kecerdasan spiritual.
Pra sekolah atau balita adalah awal yang apling tepat untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anak di sekolah. Sementara itu, lingkungan keluarga dan masyarakat kurang memberikan dukungan terhadap pertumbuhan kecerdasan spiritual pada anak. Usia dini adalah usia emas pembentukan akhlak. Orang tua dan lembaga pendidikan tempat untuk mewujudkan anak yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi.
Dr Arief Rahman menggambarkan bahwa kecerdasan spiritual yang meyakini Tuhan sebagai penguasa, penentu, pelindung, pemaaf dan kita percaya atas keadilanNya. Cerdas tidaknya anak tergantung orang tua dan keluarga sebagai tempat belajar pertama, sekolah dan lingkungan adalah yang kedua.
A. Tingkatan spiritual pada anak :
• Pertama, spiritual yang hidup, untuk hal ini anak harus diajarkan mengenal Tuhannya.
• Kedua, spiritual yang sehat, orang tua harus mengajarkan anak cara untuk berkomunikasi yangbaik dengan Pencipta.misal dengan melatih mengerjakan ibadah wajib.
• Ketiga, bahagia secara spiritual , untuk hal ini anak harus dilatih mengerjakan sebagai tambahan (sunnah Rosul) .
• Keempat Damai secara spiritual, yaitu bentuk kecintaan yang ada di dunia tidak melebihi terhadap bentuk kecintan kepada Allah SWT.
• Kelima, arif secara spiritual. Seseorang aan membingkai segala aktrivitasnya adalah sebagai bagian ibadah kepada Allah.
Berdasarkan penelitian anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi , maka semakin tinggi pula rasa ingin tahunya, sehingga akan selalu memiliki dorongan untuk selalu belajar dan memiliki kretivitas yang tinggi. Dan untuk menumbuhkan kecerdasan ini, yang penting adalah membersihkan hatinya lebih dulu. Dengan hati yang bersih maka aktivitas yang lain akan menjadi lebih mudah.
B. Cara mengoptimalkan kecerdasan Spiritual anak adalah :
• Pertama, memberikan bantuan kepada anak untuk merumuskan tujuan hidupnya
• Kedua, sesering mungkin orang tua menceritakan kisah-kisah agung, menarik, mengesankan, seperti kisah para Rosul dalam Alquran, atau pahlawan lainnya.
• Ketiga, mendiskusikan segala persoalan dengan perspektif ruhaniyah.
• Keempat, sering melibatkan anak dalam ritual keagamaan
• Kelima, mengajak anak mengunjungi dan berempati apad orang yang menderita atau meninggal dunia
3.2.2. Sepuluh Panduan Bagi Orang Tua atau Pendidik Untuk menumbuhkan Kecerdasan Spiritual
1. Ajarkan kepada anak bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita. Melalui latihan berdoa dan pembiasaan ritual akan bisa memperhalus perasaan dan mencerdaskan spiritualnya. Dalam hal ini penting bagi orang tua untuk selau meberi contoh yang bagus bagi anak.
2. Ajarkan kepada anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan. Tidak mungkin kita hidup sendiri, mencukupi semua keperluan. Keterkaitan ini tidak saja sesama manusia, melainkan juga lingkunagn sekitarnya.
3. Jadilah pendengar yang baik untuk anak. Jangan memotong pembicaraannya. Dengar dan tatap matanya dengan antusias dan stimulatif, agar anak terlatih mengutarakan pikiran dan emosinya dengan lancer, tertib dan jernih. Ibarat sumur jika airnya sering ditimba maka akan jernih.
4. Ajarkan untuk menggunakan kata dan ungkapan yangbagus, indah dan mendorong imajinasi. Kalau sulit, bisa melaui bacaan yang bagus.
5. Dorong anak untuk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan. Imajinasi akan melatih anak untuk berfikir hal-hal yang melampaui batas materi dan ini akan mencerdaskan spiritualnya. Juga akan mengaktifkan otak kanan.
6. Temukan dan rayakan keajaiban setiap harinya atau minggu. Jangan sampai hidup dilalui dengan rutin dan mekanis. Melatih anak untuk bersyukur
7. Berikan ruang kepada anak untuk berrekreasi, menentukan program, dan jadwal kegiatan. Anak yang terlalu diatur akan menjadio pemberontak. Ajarkan untuk bisa memahami pilihannya.
8. Jadilah cermin positif bagi anak. Masing- masing harus dapat saling menghargai.
9. Sesekali ciptakan suasana santai, untuk melepas semua ketegangan. Relaksasi untuk menjernbihkan hati dan pikiran
10. Setiap hari adalah istimewa. Yang waqjib dihayati dan disyukuri. Ajak anak untuk melihat langit dan berterimakasih kepada Allah swt. Pujian dan terimakasih atas kebaikan dan keindahan yang diberikanNYa setiap hari tanpa harus membayar.
B A B IV
P E N U T U P
4.1. KESIMPULAN
Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika ia harus mengambil keputusan. Tidak jarang suatu keputusan diambil berdasarkan emosinya. Bukan dari pemikiran rasionya, karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.
Emosi yang begitu penting terkadang dilupakan oleh manusia, padahal terkadang kepada emosi itulah bergantung duka, sengsara, dan bahagianya manusia. Karena itulah Daniel Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak, juga harus memperhatikan kecerdasan emosi. Ia juga menyebutkan yang menentukan kesuksesan dalam kehidupan bukanlah rasio melainkan emosi.
Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan orang mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, disebut dengan sabar, orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan emosinya. Ia akan tabah dalam mengahdapi kesulitan, jika belajar ia akan tekun, juga akan berhasil mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan hawa nafsunya atau emosinya. Orang sabar sudah pasti dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Namun Kecerdasan emosi saja tidak cukup. Hidup ini tidak bisa hanya dengan mengenal diri sendiri atau mengenal pribadi orang lain, karena tentu ada sesuatu yang Maha Besar diluar kehidupan manusia, yang mebuat manusia berdaya upaya. Keyakinan dan ketertarikan akan hubungan dengan Yang Serba Maha ini lah yang disebut dengan kecerdasan Spiritual, kecerdasan yang harus dimiliki selain kecerdasan emosi dan intelektual.
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi akan meninggalkan bekas dihati orang lain, sebab orang ini akan menjaga amanah yang diberikan kepadanya.Tidak akan mencuri hak orang lain karena oranmg yang meyakini ada Yang Maha Kuasa yang senantiasa mengawasinya tidak akan berbuat zalim baik pada dirinya sendiri atau orang lain dan alam sekitarnya.
4.2. SARAN-SARAN
Sebagai mahasiswa yang mempelajari tumbuh kembang anak, dan bercita cita menjadi pendidik bagi Anak Usia Dini. Sudah selayaknya kita memahami setiap kecerdasan yang ada pada anak didik, sehingga dapat mengoptimalisasi seluruh kecerdasan itu.
Misalnya pada kecerdasan spiritual. Karena jiwa anak anak intuitif dan terbuka secara alami, maka kita sebagai pendidik hendaknya selalu memelihara dan memupuk spiritualitas anak, sumber keceriaan dan makna hidup. Caranya dengan melui perkatan, tindakan, dan perhatian pada indahnya alam. Bawalah anak anak memperhatikan perilaku alam yang akan mengundang ketakjuban anak terhadap keindahan alam itu. Dimana ada ketakjuban, disana ada spiritualitas.
Anak- anak yang memiliki hati yang polos dan bening, Segala yang tampak biasa akan menjadi indah dan mengundang ketakjuban, jika dilihat dari hati yang bening dan sikap santun, serta cinta pada alam dan kehidupan. Orang tua dan pendidik perlu belajar pada anak-anak bagaimana memperoleh kembali kesucian, keceriaan, spontanitas, dankedamaian dengan alam dan Allah SWT. Dengan merwat spiritualitas ana, orang tua akan membantu mereka menatap dan mendesain masa depan dengan tatapan bening, optimis dan yakin.
BY: Erie siti Syarah

Kalenderku

Juli 2014
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Flickr Photos

More Photos

Arsipku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.