Paudfip's Blog

KONSEP DASAR PAUD

Posted on: Juni 15, 2009

B A B I
P E N D A H U L U A N
1.1. LATAR BELAKANG
Hingga hari ini pun masih banyak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) diatas level normal (100). Syukur – syukur kalau bisa jadi anak superior dengan IQ diatas 130. Skor Tes IQ sering dilihat sebagai ukuran kecerdasan seorang anak . Padahal skor tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan pola asuh, hubungan anak dengan orang tua, kebiasaan belajar, dan factor lingkungan lainnya
Intelligence adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Dalam arti yang lebih luas, para ahli mengartikan intelligence sebagai suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berdikir secara rasional. Bukan semata- mata mencerminkan kecerdasan terbaik seseorang.
Harapan ini tentu syah-syah saja. Namun, dalam perjalanan berikutnya orang mengamati, dan pengalaman memperlihatkan, tidak sedikit orang dengan IQ tinggi , yang sukses dalam studi, tetapi kurang berhasil dalam karier dan pekerjaan. Dan dari realitas itu, lalu ada yang menyimpulkan, IQ penting untuk mendapatkan pekerjaan, namun tidak untuk peningkatan dalam karier.
Karena untuk menapaki tangga karier, ada sejumlah unsur lain yang lebih berperan. Misalnya saja yang terwujud dalam seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa bisa ia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes ia berkomunikasi dan menangkap bahsa tubuh orang lain.
Sebelumnya , para ahli juga telah memahami bahwa kecerdasan tidak semata-mata ada pada kemampuan dalam menjawab soal matematika atau fisika. Kecerdasan bisa ditemukan ketika seseorang mudah sekali mempelajari music dan alat-alatnya, bahkan juga pada seseorang yang pintar sekali memainkan raket atau menendang bola. Pertanyaan seputar ini kemudian terjawab keti Daniel Goleman menerbitkan buku Emotinal intelligence : Whay it can matter more than IQ (1995). Dan kemudian Howard Gardner yang mengemukakan teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence) dalam bukunya Frames of mind : The Theory of Multiple Intelligences (Baisc Book, 1983)
Buku Gardner tamp[ak berpengaruh besar karena setelah itu banyak pendidik yang mengubah cara mengajarnya. Teori Gardner juga mengubah cara orang memandang IQ, dan juga persepsi tentang “Menjadi Pintar”. Mungkin perubahan paling penting adalah pada caera pandang guru terhadap murid. Setelah mempelajari ini guru memberikan perhatian lebih besar terhadap apa yang bisa dikerjakan lebih baik oleh murid., dan bukan pada apa yang tidak bisa mereka kerjakan.
Walaupun istilah kecerdasan atau ketrampilan emotional relatif baru, namun haruslah disadari, bahwa saat ini mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi sama pentingnya dengan mempunyai IQ yang tingi. Pengkajian demi pengkajian telah menunjukan bahwa anak denga kecerdasan emosional yang baik, lebih berbahagia, lebih percaya diri, dan lebih sukses di sekolah. Yang penting juga, keterampilan ini menjadi fondasi bagi anak anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli kepada orang lain, dan produktif.
Dalam meningkatkan kecerdasan emosional, bisa dikatakan bahwa hal itu sama saja dengan mengubah struktur kimia otak anak. Atau tepatnya, mengajri mereka cara mengendalikan fungsi otak mereka. Mengapa? Karena emosi bukanlah gagasan abstrak yang telah diciptakan oleh para psikolog, melainkan sesuatu yang sangat nyata. Emosi tampil dalam wujud senyawa-senyawa biokimia khusus yang dihasilkanoleh otak dan menyebabkan tubuh bereaksi.
Contohnya adalah, makanan yang ‘terasa enak’ seperti coklat dan es krim memicu otak untuk melepaskan serotonin dan endorphin, denyawa biokimia yang oleh otak dihubungkan dengan perasaan sejahtera. Dengan ini kita dapat mengajari anak bagaimana cara mengubah biokimia emosi mereka, membantu mereka agar lebih adaptif, lebih mampu mengendalikan diri, dan merasakan kebahagiaan yang murni.
Namun selain kecerdasan emosi, ternyata masih ada satu intelligence atau kecerdasan yang harus dimiliki oleh manusia, jika ingin mencapai kebahagiaan, yaitu kecerdasan spiritual, yang pada kenyataannya bagi orang yang tidak mempercayai ada Hal yang lebih besar diluar dirinya, tak akan mempunyai kemampuan untuk mencerdaskan spiritualnya. Walaupun sesungguhnya spiritualitas tidaklah identik dengan religiusitas, sekalipun keduanya sangat berdekatan dan saling menopang.
Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, dan moral. Spiritual memberi arah dan arti pada kehidupan. H akan hidup menjadi indah karena diri manusia tidak dikurung oleh batas-batas fisik. Karena itu apakah makna sesungguhnya dari kecerdasan emosi dan spiritual itu ? akan kita temui dalam bab pembahasan, namun sebelumnya, didalan perumusan masalah kita melihat rincian apa sajakah yang akan kita bahas bersama.
1.1. PERUMUSAN MASALAH
Sebelum masuk kedalam bab pembahasan yang akan mengupas hal – hal yang berkaitan dengan kedua macam kecedasan yang akan berpengaruh bagi budi pekerti dan perilaku. Maka hal-hal berikut dibawah ini adalah yang jawabannya terdapat dalam bab pembahasan masalah, yaitu,
Pertama kali kita akan mencoba untuk mengenal makna dari kecerdasan emosi mudah dapat dan spiritual yang sudah barang tentu adalah hal yang berbeda. Kemudian bagaimana pula peran kecerdasan emosi dalam proses belajar mengajar, dan bagaimana mengajarkan kecerdasan emosi atau spiritual kepada anak sejak usia dini. Dan yang terakhir akan ditutup dengan kesimpulan dan saran –saran yang mudah dan dapat bermanfaat bagi semua orang.

B A B I I
K A J I A N T E O R I
2.1. PENTINGNYA PENDIDIKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Sejak kecil biasanya siswa diharapkan untuk mempunyai nilai yang bagus di sekolah. Setelah siswa lulus sekolah, mereka diharapkan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat membantunya meraih ‘masa depan yang cerah’ dan gaji yang tinggi. Banyak orang tua, bahkan para guru, berpikir bahwa nilai yang tinggi dan lulusan sekolah merupakan jaminan untuk mendaptakan pekerjaan dan kesuksesan dalam karier.
Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal. Kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu kesuksesan bagi seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajarmengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis, membuat tidak seorang individu atau institusi manapun yang dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus bekerja sama dalam tim karena setiap orang terpaksa harus dapat bekeja sama dengan orang lain.
George Lucas, chairman PBS Foundation, mencontohkan pekerjaannya dibidang film membutuhkan orang , selain berbakat dan berketerampilan teknis yang kuat , juga harus mampu berkomunikasi dengan dengan baik dan bekerjasama. Karena itu “salah satu hal yang perlu diajarkan di sekolah dalam mempersiakan anak didiknya ke dunia nyata adalah dengan mengajarkan kecerdasan emosi”
Lalu apakah kecerdasan emotional? Dapat dikenali melalui lima komponen dasar yaitu :
1. Self-awareness (pengenanalan diri)
2. Self-regulation (penguasaan diri)
3. Self-motivation (motivasi diri)
4. Empathy (empati)
5. Effective Relationship (hubungan yang efektif)
2.2. TEORI MENGENAI KECERDASAN SPIRITUAL
Pembicaraan mengenai SQ atau kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep filosofis yang menjadilatar belakangnya. Konsep mengenai SQ itu sendiri sebenarnya sudah lama diperbincangkan, hanya saja dengan kemasan yang berbeda.
Dalam aliran psikolog dikenal tiga aliran yang menjadi inspirasi bagi banyak aliran yang berkembang, adalah behaviourism, psikoanalisis, dan humanistis. Kecerdasan spiritual banyak mengembangkan konsep dari aliran humanistis. Aliarn humabistis ini mengembangkan sayapnya nmembentuk psikologi transpersonal, dengan landasan “keagamaan” sebagai peak experience, plateau dan fartherst of human nature. Menurut Maslow psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal .
SQ adalah pengetahuan dasar yang perlu difahami, tidak mesti berhubungan dengan agama.karena kecerdasan iniadalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang yang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya dan nilai. Tidak mengikuti nilai apa-apa, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai
Hidayah Nataatmadja memberikan elaborasi yang sangat menarik berkenaan dengan intelligence spiritual ini. Menurutnya intelligence manusia berlangsung melalui jalur iqra. QS Al Alaq :1-5. Teori ini diungkapkan pertama kali oleh Marsha Sinetar (thn 2000), Yang menemukan pentingnya peran kecerdasan Spiritual.
Menurut Dr Seto Mulyadi kecerdasan spiritual adalah bagaimana manusia dapat berhubunngan dengan Sang Pencipta. Dengan kata lain ‘Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk mengenal potensi fitrah dalam dirinya, serta kemampuan seseorang mengenali Tuhannnya, yang telah menciptakannya, sehingga dimanapun berada merasa dalam pengawasan Tuhannya

B A B III
P E M B A H A S A N
3.1. MAKNA KECERDASAN EMOSI ( EQ))
Akar kata dari emosi adalah Movere, kata kerja bahasa Latin yang berarti ‘menggerakan, bergerak’, ditambah awalan ‘e’ untuk member arti ‘bergerak jauh’, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Bahwasanya emosi memancing tindakan yang tidak rasional baik positif maupun negative.
“Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharan-Nya, ditaburi rahmat-Nya dan dimasukan ke dalam surge-Nya, yaitu apabila diberi, ia berterimakasih, apabila berkuasa ia memaafkan dan apabila marah ia menahan diri (mampu menguasai diri)” HR. Hakim dan Ibnu Hiban
Mencoba mengambil pemahaman dari hadits di atas, bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada proiduktifutas dan bukan konflik .
Ternyata hasil penelitian menyebutkan bahwa untuk sukses dalam hidup, peran IQ ternyata hanya 20 %. Selebihnya adalah kecerdasan emosi (EI/EQ). Di dunia IQ rata-rata meningkat menjadi lebih baik sebanyak 20 % . Namun kenaikan ini berbanding terbalik dengan moral manusia. Tanpa cinta, atensi, dan apresiasi dalam hidup, sebagaimana lazimnya dalam pola asuh yang keliru, melahirkan anak yang tidak cerdas emosinya, cebderung merusak diri dan lingkungannya.
Anak dengan kecerdasan emosi yang tinggi memiliki cirri-ciri :
• Mantap secara sosial, mudah bergaul
• Tidak lekas takut atau gelisah
• Mudah melibatkan diri dengan orang lain atau masalah
• Bersedia memikul tanggung jawab
• Kehidupan emosinya kaya
• Merasa nyaman dengan diri sendiri, oramng lain dan dunia pergaulannya
Dan seorang anak yang tidak cerdas memiliki cirri-ciri yang berlawanan dengan hal yang telah disebutkan di atas. Elemen emosi ini dapat ditingkatkan pada berbagai tingkat usia melalui pola asuh yang tepat . dan prinsip dasarnya adalah;
• Memotivasi diri
• Ketahanan menghadapi masalah
• Mengendalikan emosi
• Menunda kepuasan
• Mengatur kondisi jiwa
Untuk menungkatkan hal hal tersebut , sedikitnya perlu waktu satu jam penuh setiap hari ibu berdekatan dengan batitanya. Tidak kurang pentingnya peran ayah. Bermain dengan ayah merupakan kebutuhan yang tak tergantikan dengan cara apapun (Fatherhood project). Basic secure anak akan tumbuh bila pada waktu kecil anak memiliki pengalaman bermain dengan ayah .
3.1.1. Peranan Kecerdasan Emosi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar
Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran pikiran khasnya ( keadaan biologis atau psikisnya), serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ada ratusan emosi beragan campurannya, misalnya, Amarah; beringas mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung, bermusuhan dll. Rasa takut; cemas, gugup, khawatir, fobia, tidak tenang dll. Kenikmatan ; bahagia gembira, puas, bangga, terpesona dan senang. Cinta; kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat kasmaran dll.
Lima aspek kecerdasan emotional dapat mengahruskan guru yang ingin menjadi seorang profesionalisme tidak boleh mengabaikan kelima aspeh di atas untuk menjadi modal dalam membantu anak didik meraih kebahagiaan dan masa depan yang baik. Yaitu :
• Mengenali emosi diri , inti dan kecerdasan emosional adalah kesadaran akan perasaan diri sendiri yang timbul dalam diri sehingga dapat memahami dan menyikapinya dengan baik/positif
• Mengelola emosi , Emosi bukan untuk ditekan, karena setiap perasaan mempunyai nilai dan makna. Sebagaimana yang diamati Ariestoteles yang dikehendaki adalah ekspresi yang wajar, yakni adanya keselarasan antara perasaan dan lingkungan, sehingga dapat mengendalikan diri.
• Memotivasi diri sendiri, Kecerdasan emotional dapat menjadi kecerdasan yang utama apabila pengelolaan tingkat emosi dengan jalan mempertinggi kemampuan lainnya
• Mengenali emosi orang lain, akar permasalahan disini adalah empati yang artinya adalah ikut merasakan perasaan orang lain. Dan hal ini tumbuh sejak usia balita.
• Membina hubungan sosial , Salah satu kunci kecakapan sosial adalah seberapak baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaanya sendiri. Dalam bersosialisasi hendaknya kita mempunyai tampilan emosi yang baik.Karena kecerdasan emosi menyangkut dalam menangani hubungan sosial dan dapat menularkan emosi positif .
Sebagai pendidik yang terampil secara emosional dapat sangat membantu anak didik dengan memberikan ketrampilan emosional di sekolah. Dan hasil dari anak yang telah mendapatklan pendidikan EQ dengan baik mempunyai karakter sebagai berikut Lebih pintar menangani emosi dan lebih stabil, sehingga disukai banyak anak didik yang lain juga guru.
• Lebih dapat berkonsentrasi dalan kegiatan belajar Mengajar
• Lebih bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan dan lebih tegas (dalam menjauhi kecurangan-kecurangan dalan proses belajar mengajar)
• Lebih memahami orang lain
• Lebih terampil dalam menyeleseikan konflik (cerdas dalam pemecahan masalah)
• Berfikir dahulu sebelum bertindak, kematangan emosi membuat tenang alam bertindak dan mengambil keputusan.
• Lebih memahami akibat dari tindak tanduk mereka.
3.1.2. Macam Macam Stimulasi atau Optimalisasi Kecerdasan Emosi sejak usia dini
William Damon, seorang professor di Browrn University, pakar dalam perkembangan moralk anak, menyatkan bahwa anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional dan sosial sebagai berikut:
• Mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan anata perilaku ‘baik’ dan yang ‘buruk’ dan mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsistendengan sesuatu yang dianggap baik.
• Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian, dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain yang diungkapkan memlaui sikap peduli, dermawan, ramah, dan pemaaf.
• Mereka harus merasakan reaksi emosi negative seperti, malu, rasa bersalah, tajut, dan rendah bila menlanggar aturan moral.
Untuk menanamkan nilai-nilai di atas pada anak, (yang berupa kecerdaan emosi) maka orang tua sudah sepatutnya berusaha mencoba cara- cara menstimulasi atau mengembangkan potensi kecerdasan itu. Dimulai dari :
• Mengajarkan empati atau mengajari mereka peduli pada orang lain, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman, hal ini tidak cukup bila hanya dibicarakan, keterampilan EQ tertentu khususnya hubungan anak dengan orang lain, hanya dapat diajarkan dengan efektif me;lelui bagian otak emosional.
• Ajarkan nilai kejujuran pada anak sejak mereka masig muda dan konsisten dengan pesan anda pada waktu usia mereka bertambah. Pemahaman anak mengenai kejujuran bisa beruibah, tetapi pemahan orang tua tidak boleh berubah.
• Rasa malu dan rasa bersalah bukanlah aspek emosi yang harus dijauhi. Apabila digunakan dengan tepat, emosi-emosi ini penting bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anak.
• Berpikir realistis adalah lawan membohongi diri sendiri. Kisah-kisah keteladan bisa menjadi cara yang paling baik untuk mengajarkan keterampilan ini, entah dibacakan atau yang dikarang sendiri. Anak pada akhirnya akan berpikir realistis jika orang tua berbuat halyang serupa. Tidak boleh menyembunyikan kebenaran pada anak, walaupun itu menyakitkan
• Anak dapat diajari bersikap leboih optimis sebagai salah satu cara untuk bertahan terhadap depresi dan ancaman gangguan mental serta fisik. Dan optimism ini bersumber dari cara berfikir yang realistis serta dari kesempatan-kesempatan menghadapi tantangan yang sesuai dengan usia, kemudian menguasai cara-cara menghadapi tantangan itu.
• Anak yang masih kecil belajar menjadi pemecah masalah melalui penaglaman. Buat tantangan untuk mereka, alih alih campur tangan dan memecahkan masalah mereka.
• Keterampilan sosial dapat dan harus diajarkan. Ketrampilan bercakap-cakap membantuanak masuk kedalam pergaulan dengan seseorang atau kelompok.keterampilan ini meliputi informasi pribadi, mengajukan pertanyaan, mengekspresikan minat, dan mengekspresikan penerimaan.
• Humor juga termasuk salah satu keterampilan sosial yang penting. Juga termasuk bakat yang patut disyukur. Humor mempunyai tujuan yang berbeda pada usia yang berbeda pula,tetapi sepanjang hidup seseorang, hal ini dapat membantunya dalam berhubungan dengan orang laindan dalam mengatasi berbagai masalah.
• Mempunyai “teman yang akrab” adalah fase pertumbuhan yang penting yang dapat mempengaruhi cara anak menjalin hubungan saat mereka remaja atau dewasa.. Pastikan anak memperoleh kesempatan yang sesuai dengan usia untuk mendapatkan keterampilan mencari teman.
• Sopan santun adalah salah satu keterampilan emosi yang paling mudah diajarkan, tetapi pengaruhnya luar biasa pada keberhasilan mereka dalam pergaulan di kemudian hari.
• Keterampilan manajemen waktu merupakan kecerdasan emosi penting yang akan bermanfaat sampai seumur hidup anak. Tidak ada istilah terlalu diniuntuk mengajarkan keterampilan ini.
• Mempunyai hobi, adalah cara unik untuk mengajari anak menghargai usaha karena didalamnya tedapat unsur unsur baik dari bermain maupun bekerja.
• Ajarkan kepada anak bahwa keberhasilan sering dibangun diatas kegagalan. Dan bantu anak merasakan ganjaran dari suatu keberhasilan kerja sama yang tidak mungkin dicapai oleh satu orang saja.
• Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui kata-kata sebagai upaya untuk mengatasi konflik, dan kesusahan mereka, dan agar kebutuhan ,mereka terpenuhi.
• Ajari pula anak klemampuan mendengarkan aktif untuk membantu mereka mengembangkan hubungan yang secara emosional saling memberi saat sekarang dan kemudian hari.
• Juga orang tua harus memberikan pengajran terhadap pengendalian emosi, selain dengan teladan dari oarng tua, atau dengan keterampilan problem solving dan mencari solusi, juga banyak tehnik yang bermunculan dalam rangka mengajarkan anak mengendalikan emosinya.

3.2. MAKNA KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)
Kecerdasan Spiritual (SQ) metupakan kelanjutan mata rantai keilmuan dalam bidang psikologi, setelah keberadaan pengukuran kecerdasan melalui metode IQ dan EQ, semakin dpertanyakan. Dalam buku Menjadi Jenius seperti Leonardo davinci (2001) misalnya, diungklapkan kelemahan dasar dari konsep IQ dan skor IQ ternyata dapat ditingkatkan secara significant melalui pelatihan yang tepat.
Menurut Michal Kevin dalam Spiritual Intelligence, Awekening the power of your spirituality and intuition (2000) menyatakan bahwa pengetahuan spiritual perlu ditancapkan ke ranah kesadaran. Karena spiritualitas sebatas pengetahuan menjadi tidak bermakna. Orang yang cerdas secara spiritual bukan berarti kaya dengan pengetahuan spiritual, melainkan sudah merambah ke dalam kesadaram spiritual. Kesadaran ini terefleksikan ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sikap hidup yang arif dan bijak secara spiritual, toleran, terbuka, jujur, cinta kasih dan lain-lain.
Kgalil A khawari mengungkapkan perspektif kecerdasan spiritual adalah sebagai pembimbing untuk meraih kebahagiaan spiritual. Sebagai mahluk spiritual, kebahagiaan manusia tidak bisa lagi diukur dengan uang, kesuksessan, kepuasan seksual dan lain- lain, tetapi kebahagiaan yang diletakam pada wilayah spiritual .
Dengan demikian jika kecerdasan IQ bersandarkan pada nalar, rasio intelektual, sementara kecerdasan emosi (EQ) bersandar pada emosi, maka hakikat kecerdasan spiritual (SQ) disandarkan kepada kecerdasan jiwa, ruhani dan spiritual. SQ adalah kecerdasan generasi ketiga yang diyakini mampu melahirkan kembali manusia setelah sekian lama mengalami alienasi dan dioreientasi hidup.
Dan makna kecerdasan spiritual pada anak adalah, bukan berarti anak mampu melakukan ritual keagamaandengan baik, tetapi anak percaya ada kekuatan non fisikyang melebihi kekuatan manusia. Sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Tuhan lewat hati nurani.
Menurut prof. DR Komarudin Hidayat, Dirut eksekutif Pendidikan Madania, hakikat spiritual anak-anak tercermin dalam sikap spontan, imajinasi, dan kretifitas yang tidak terbatas, dan semua ini dilakukan dengan terbuka dan ceria.
Sesungguhnya kecerdasan spiritual tidak identik dengan religiusitas, sekalipun keduanya sangat berdekatan dan saling menopang. Spiritualitas adalah, dasar bagi tumbuhnya harga diri,nilai-nilai dan moral. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan.
3.2. 1. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini
Anak dilahirkan dengan kecerdasan spiritual yang tinggi, tetapi perlakuan orang tua dan lingkungan yang menyebabkan mereka kehilangan potensi spiritual tersebut. Padahal pengembangan kecerdasan spiritual sejak dini akan memberi dasar bagi terbentuknya kecerdasan kecerdasan intelektual dan emosional pada usia selanjutnya .
Krisis ahklak yang menimpa Indonesia, contohnya, berawal dari lemahnya penanaman nilai terhadap anak usia dini. Pembentukan akhlak terkait erat dengan emosi namun kecerdasan ini tidak berarti jika tidak ditopang oleh kecerdasan spiritual.
Pra sekolah atau balita adalah awal yang apling tepat untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anak di sekolah. Sementara itu, lingkungan keluarga dan masyarakat kurang memberikan dukungan terhadap pertumbuhan kecerdasan spiritual pada anak. Usia dini adalah usia emas pembentukan akhlak. Orang tua dan lembaga pendidikan tempat untuk mewujudkan anak yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi.
Dr Arief Rahman menggambarkan bahwa kecerdasan spiritual yang meyakini Tuhan sebagai penguasa, penentu, pelindung, pemaaf dan kita percaya atas keadilanNya. Cerdas tidaknya anak tergantung orang tua dan keluarga sebagai tempat belajar pertama, sekolah dan lingkungan adalah yang kedua.
A. Tingkatan spiritual pada anak :
• Pertama, spiritual yang hidup, untuk hal ini anak harus diajarkan mengenal Tuhannya.
• Kedua, spiritual yang sehat, orang tua harus mengajarkan anak cara untuk berkomunikasi yangbaik dengan Pencipta.misal dengan melatih mengerjakan ibadah wajib.
• Ketiga, bahagia secara spiritual , untuk hal ini anak harus dilatih mengerjakan sebagai tambahan (sunnah Rosul) .
• Keempat Damai secara spiritual, yaitu bentuk kecintaan yang ada di dunia tidak melebihi terhadap bentuk kecintan kepada Allah SWT.
• Kelima, arif secara spiritual. Seseorang aan membingkai segala aktrivitasnya adalah sebagai bagian ibadah kepada Allah.
Berdasarkan penelitian anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi , maka semakin tinggi pula rasa ingin tahunya, sehingga akan selalu memiliki dorongan untuk selalu belajar dan memiliki kretivitas yang tinggi. Dan untuk menumbuhkan kecerdasan ini, yang penting adalah membersihkan hatinya lebih dulu. Dengan hati yang bersih maka aktivitas yang lain akan menjadi lebih mudah.
B. Cara mengoptimalkan kecerdasan Spiritual anak adalah :
• Pertama, memberikan bantuan kepada anak untuk merumuskan tujuan hidupnya
• Kedua, sesering mungkin orang tua menceritakan kisah-kisah agung, menarik, mengesankan, seperti kisah para Rosul dalam Alquran, atau pahlawan lainnya.
• Ketiga, mendiskusikan segala persoalan dengan perspektif ruhaniyah.
• Keempat, sering melibatkan anak dalam ritual keagamaan
• Kelima, mengajak anak mengunjungi dan berempati apad orang yang menderita atau meninggal dunia
3.2.2. Sepuluh Panduan Bagi Orang Tua atau Pendidik Untuk menumbuhkan Kecerdasan Spiritual
1. Ajarkan kepada anak bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita. Melalui latihan berdoa dan pembiasaan ritual akan bisa memperhalus perasaan dan mencerdaskan spiritualnya. Dalam hal ini penting bagi orang tua untuk selau meberi contoh yang bagus bagi anak.
2. Ajarkan kepada anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan. Tidak mungkin kita hidup sendiri, mencukupi semua keperluan. Keterkaitan ini tidak saja sesama manusia, melainkan juga lingkunagn sekitarnya.
3. Jadilah pendengar yang baik untuk anak. Jangan memotong pembicaraannya. Dengar dan tatap matanya dengan antusias dan stimulatif, agar anak terlatih mengutarakan pikiran dan emosinya dengan lancer, tertib dan jernih. Ibarat sumur jika airnya sering ditimba maka akan jernih.
4. Ajarkan untuk menggunakan kata dan ungkapan yangbagus, indah dan mendorong imajinasi. Kalau sulit, bisa melaui bacaan yang bagus.
5. Dorong anak untuk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan. Imajinasi akan melatih anak untuk berfikir hal-hal yang melampaui batas materi dan ini akan mencerdaskan spiritualnya. Juga akan mengaktifkan otak kanan.
6. Temukan dan rayakan keajaiban setiap harinya atau minggu. Jangan sampai hidup dilalui dengan rutin dan mekanis. Melatih anak untuk bersyukur
7. Berikan ruang kepada anak untuk berrekreasi, menentukan program, dan jadwal kegiatan. Anak yang terlalu diatur akan menjadio pemberontak. Ajarkan untuk bisa memahami pilihannya.
8. Jadilah cermin positif bagi anak. Masing- masing harus dapat saling menghargai.
9. Sesekali ciptakan suasana santai, untuk melepas semua ketegangan. Relaksasi untuk menjernbihkan hati dan pikiran
10. Setiap hari adalah istimewa. Yang waqjib dihayati dan disyukuri. Ajak anak untuk melihat langit dan berterimakasih kepada Allah swt. Pujian dan terimakasih atas kebaikan dan keindahan yang diberikanNYa setiap hari tanpa harus membayar.
B A B IV
P E N U T U P
4.1. KESIMPULAN
Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika ia harus mengambil keputusan. Tidak jarang suatu keputusan diambil berdasarkan emosinya. Bukan dari pemikiran rasionya, karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.
Emosi yang begitu penting terkadang dilupakan oleh manusia, padahal terkadang kepada emosi itulah bergantung duka, sengsara, dan bahagianya manusia. Karena itulah Daniel Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak, juga harus memperhatikan kecerdasan emosi. Ia juga menyebutkan yang menentukan kesuksesan dalam kehidupan bukanlah rasio melainkan emosi.
Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan orang mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, disebut dengan sabar, orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan emosinya. Ia akan tabah dalam mengahdapi kesulitan, jika belajar ia akan tekun, juga akan berhasil mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan hawa nafsunya atau emosinya. Orang sabar sudah pasti dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Namun Kecerdasan emosi saja tidak cukup. Hidup ini tidak bisa hanya dengan mengenal diri sendiri atau mengenal pribadi orang lain, karena tentu ada sesuatu yang Maha Besar diluar kehidupan manusia, yang mebuat manusia berdaya upaya. Keyakinan dan ketertarikan akan hubungan dengan Yang Serba Maha ini lah yang disebut dengan kecerdasan Spiritual, kecerdasan yang harus dimiliki selain kecerdasan emosi dan intelektual.
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi akan meninggalkan bekas dihati orang lain, sebab orang ini akan menjaga amanah yang diberikan kepadanya.Tidak akan mencuri hak orang lain karena oranmg yang meyakini ada Yang Maha Kuasa yang senantiasa mengawasinya tidak akan berbuat zalim baik pada dirinya sendiri atau orang lain dan alam sekitarnya.
4.2. SARAN-SARAN
Sebagai mahasiswa yang mempelajari tumbuh kembang anak, dan bercita cita menjadi pendidik bagi Anak Usia Dini. Sudah selayaknya kita memahami setiap kecerdasan yang ada pada anak didik, sehingga dapat mengoptimalisasi seluruh kecerdasan itu.
Misalnya pada kecerdasan spiritual. Karena jiwa anak anak intuitif dan terbuka secara alami, maka kita sebagai pendidik hendaknya selalu memelihara dan memupuk spiritualitas anak, sumber keceriaan dan makna hidup. Caranya dengan melui perkatan, tindakan, dan perhatian pada indahnya alam. Bawalah anak anak memperhatikan perilaku alam yang akan mengundang ketakjuban anak terhadap keindahan alam itu. Dimana ada ketakjuban, disana ada spiritualitas.
Anak- anak yang memiliki hati yang polos dan bening, Segala yang tampak biasa akan menjadi indah dan mengundang ketakjuban, jika dilihat dari hati yang bening dan sikap santun, serta cinta pada alam dan kehidupan. Orang tua dan pendidik perlu belajar pada anak-anak bagaimana memperoleh kembali kesucian, keceriaan, spontanitas, dankedamaian dengan alam dan Allah SWT. Dengan merwat spiritualitas ana, orang tua akan membantu mereka menatap dan mendesain masa depan dengan tatapan bening, optimis dan yakin.
BY: Erie siti Syarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalenderku

Juni 2009
S S R K J S M
    Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Flickr Photos

More Photos

Arsipku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: