Paudfip's Blog

MENANAMKAN MORAL KEPADA ANAK USIA DINI

Posted on: Agustus 10, 2009

B A B I
P E N D A H U L U A N
1.1. LATAR BELAKANG
Kisah seorang raja yang hendak mendidik warganya agar dapat mendidik anaknya dengan baik, yaitu dengan cara menjanjikan akan mengadopsi dua orang anak (putera dan putri) yang akan dijadikan pangeran dan puteri raja kelak dari kalangan suatu desa terpencil, dengan memberi tenggang waktu satu tahun untuk mempersiapkan anak-anak tersebut. Dengan harapan akan bahwa anak mereka akan terpilih menjadi pangeran/puteri yang di janjikan sang raja, semua warga desa sibuk mempersiapkan anaknya dan serentak berlomba, lebih memperhatikan pendidikan, kesehatan dan penampilan anak-anak mereka. Yang jelas, sejak saat itu anak-anak di desa itu mendapatkan yang terbaik untuk kebutuhan mereka.
Satu tahun berlalu ketika sang raja kembali ke desa tersebut, Ketika semua rakyat berharap akan mendapatkan anaknya terpilih sebagai puteri/pangeran, Sang Raja berkata “Apa yang kalian lakukan selama setahun ini adalah memang selayaknya kalian lakukan sebagai orang tua….., Kalian memberikan yang terbaik bagi anak-anak kalian …Karena memang sebenarnya setiap anak adalah pangeran dan puteri yang berhak mendapat semua yang terbaik bagi kebutuhan mereka…! Selamat dan terima kasih aku ucapkan atas yang telah kalian lakukan bagi anak-anak kalian.Sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak-anak terbaik dan harapan terbaik bagi Negara ini.
Melihat kisah di atas, sebagai orang tua memang harus bersedia untuk selalu berbuat yang terbaik, dengan terus memperkaya diri kita demi anak-anak. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan mendorong perkembangan moral anak-anak kita agar bergerak kearah yang lebih baik.
Hubungan orang tua dengan anak, semestinya adalah sebuah hubungan yang manis, indah dan menyenangkan, sesuatu yang mampu membuat dada terasa lega dan senyum cerah tersungging dibibir saat megingatnya. Hubungan yang seharusnya mampu menyenangkan kedua belah pihak, baik orang tua maupun anak. Karena hubungan orang tua dan anak adalah hubungan kasih sayang, hubungan yang tidak terbatas.
Akan tetapi seringkali terjadi adalah kebalikan dari hal itu. Hubungan, kemudian seringkali diartikan sebagai ‘permasalahan’ orang tua dan anak. Adalah hubungan yang kenyataannya lebih sering memusingkan kepala, menambah beban yang ada, dan membuat orang tua seolah tidak berdaya karena ketidak mampuan orangtua untuk menyiasatinya.
Satu hal terberat saat menghadapi anak-anak adalah, seolah orang tua dihadapkan pada dirinya sendiri, karena anak-anak secara sederhana adalah merupakan cermin dari orang tua. Dengan segala pertanyaan besar di benak setiap orang tua, akan berhasilkah mereka mendidik anak-anaknya? Apakah hasil dari didikan mereka nantinya? Apalagi jika berpikir tentang pendidikan moral bagi anak-anak, seperti apakah yang terbaik?
Benar memang, tidak pernah ada sekolah khusus bagi untuk mendidik orang menjadi orang tua. Semuanya mesti dipelajari dengan berada ditengah- tengahnya( mengalami menjadi orang tua), dengan ditambah sedikit bekal dari pengalaman yang diberikan orang tua dulu. Oleh karena itu sudah selayaknya jika setiap orang tua selalu berupaya untuk belajar, belajar, dan belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

1.2. PERUMUSAN MASALAH
Melihat latar belakang permasalahan, bahwa setiap orang tua diharapkan banyak belajar demi keberhasilannya dalam mendidik putera-puterinya terutama dalam hal pendidikan moral bagi anak, maka, setiap orang tua hendaklah memahami hal hal seperti;
• Bagaimana anak belajar membedakan yang benar dan yang salah?
• Bagaimana cara mengajar anak menjadi manusia yang lebih enhance (meningkatkan kualitas kehidupan) daripada disminish (menurunkan) kualitas kehidupan dalam masyarakat?
• Bagaimanakah cara orang tua menyampaikan kepada mereka sebuah kepekaan moralitas, nilai, tanggung jawab social?
Untuk mejawab semua pertanyaan diatas, maka makalah ini akan mengawalinya dengan memahami makna moral terlebih dulu, yang akan di bahas dalam kajian teori, serta lebih lengkapnya akan dibahas dalam bab pembahasan masalah.

B A B I I
K A J I A N T E O R I
2.1. DEFINISI MORAL
Jika istilah moral didefinisikan akan berbunyi,” moral berkenaan dengan norma-norma umum, mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang.”
Ketika orang berbicara tentang nilai-nilai moral, pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain. Pada anak-anak, nilai-nilai moral akan terlihat dari mampu tidaknya seorang anak membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Jujur, baik hati, dapat dipercaya, ramah, setia kawan, dermawan, berempati, bersahabat, lembut, penuh kasih, ceria, menghargai orang lain, hanyalah beberapa ciri-ciri yang dapat ditemui pada orang-orang yang dianggap memiliki nilai-nilai moral yang baik.
2.3. TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL MANUSIA
Dan anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral ini secara perlahan dan melalui beberapa tahapan tertentu. Dibutuhkan kesabaran orangtua untuk memahami perkembangan moral sebagai proses panjang dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seorang manusia. Salah satu tokoh yang menekuni masalah perkembangan moral adalah Kohlberg. Menurut teorinya, ada (3) tingkatan perkembangan moral anak, dan masing-masing tingkatan memiliki (2) tahapan, yaitu;
• Tingkat pertama dikenal dengan Preconventional Morality
Tahap 1: Obedience and Punishment orientation
Dalam tingkat ini anak cenderung menghindari hukuman, maka anak akan terlihat sangat patuh dan berbuat baik untuk menghindari hukuman. Misalnya tidak akan bermain jauh karena akan dimarahi orang tua.
Tahap 2: Naïve Hedonistic and Instrumental Orientation
Dalam tahap ini, anak akan mulai dapat membedakan akibat fisik (Jika hukuman fisik terpaksa dilakukan orang tua, misal memukul pantatnya). Disini pemikiran anak mengenai benar atau salah belum jelas, tergantung apakah itu memuaskan keinginannya atau tidak. Misalnya, anak berkata,” Saya akan mengerjakan PR kalau nanti malam boleh nonton TV”. Biasanya tingkat dan tahapan ini ditemui pada usia anak dibawah 10 tahun.
• Tingkat kedua dikenal dengan Conventional
Tahap 3: Good Boy Nice Girl Morality
Dalam tingkat ini anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh orang lain (keluarga atau kelompok lain seperti sekolah). Dan dalam tahap ke 3 ini, anak akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan social yang ada di sekitarnya. Anak akan bertindak tertentu karena menganggap prilaku itu baik untuk keluaga atau kelompoknya. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak egosentris lagi.
Tahap 4: Authority and Morality
Dalam tahap ini, anak menganggap nilai moral baik atau buruk merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban masyarakat.
Tingkat dan tahapan ini terjadi pada anak usia 10-21 tahun.
• Tingkat ketiga disebut dengan Post Conventional
Dalam Tingkat ini anak sudah mengerti aturan social yang ada.
Tahap 5: Social Legality
Dalam tahapan ini, anak akan menentukan apakah aturan tersebut sesuai dengan moral atau tidak, jika sesuai ia akan mengikuti aturan tersebut dan sebaliknya.
Tahap 6: Morality of individual principles and Conscience
Dalam tahap terakhir ini, penalaran moral sudah merupakan kata hati/ rilekunya sehari hari. Tindakan dalam tahapan ini sebagai keputusan kata hatinya .
Namun teori Kohlberg diatas tentu bersifat dinamis, tidak statis dan tergantung pada banyak faktor. Dan peranan orang tua dalam setiap perkembangan moral anak tentu sangat penting karena anak akan selalu butuh bimbingan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Namun yang menjadi masalah adalah tidak setiap orang tua mampu atau mengetahui/memahami bagaimana cara mengkomunikasikan moral kepada anak. Maka berdasarkan teori perkembangan moral anak, dalam pembahasan akan dibahas mengenai bagaimana orang tua dapat mendidik anak dan dapat mengembangkan moral anak dengan baik.

B A B III
P E M B A H A S A N
3.1. PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG MORAL
Sebelum sampai pada cara-cara bagaimana mengajarkan moral kepada anak, terlebih dahulu yang harus dipahami adalah beberapa prinsip dasar tentang moral,yaitu;
3.1.1. Moralitas Adalah Penghargaan
Orang tua perlu menghargai anak dan mengharapkkan penghargaan yang serupa dari anak. Disiplin harus benar benar mendapat penghargaan dan merupakan contoh bentuk pengendalian, kelembutan, dan keadilan yang orang tua harapkan dari anak. Anak mengembangkan moralitas secara gradual dan bertahap. Tahap-tahap ini adalah perasaan yang baik dan buruk yang terus ada sejak masa anak-anak hingga dewasa. Masing-masing tahap membawa anak menjadi lebih dekat dengan kematangan perkembangan moralnya.
3.1.2. Menghargai Anak Dan Mengharapkan Penghargaan yang Serupa Dari Mereka.
Memperlakukan anak dengan penghargaan, berarti memperlakukan mereka sebagai seorang manusia, berlaku adil dengan anak. Dan menciptakan sejumlah penghargaan bagi tercapainya kematangan tahap perkembangan anak, ini berarti memberikan anak sebuah perasaan bahwa orang tua mempertimbangkan sudut pandang anak. Karena moralitas adalah jalan dua arah, jika orang tua mengharapkan penghargaan dari anak, maka orang tua harus sangat berhati-hati dalam menjalani kegiatan mereka sehari hari, karena anak selalu dapat belajar dari apapun yang orang tua lakukan.

3.1.3. Mengajarkan Dengan Contoh
Sebuah cara paling pasti untuk membantu anak mengubah pemikiran moral mereka ke arah prilaku moral yang positif adalah mengajari mereka dengan contoh. Orang tua mengajarkan penghargaan bagi semua orang dengan contoh-contoh langsung (dalam menghargai orang) yang orang tua berikan. Tidak ada hal lain yang lebih terpatri dan menggores lebih dalam di dalam benak anak-anak selain contoh perilaku orang tua atau orang dewasa lain disekelilingnya.
Mendengarkan pun adalah sebuah contohsalah satu cara menyampaikan nilai-nilai kepada anak-anak adalah dengan mendengarkan mereka. Maka anak-anak akan belajar mendengarkan pula.
3.1.4. Mengajarkan Dengan mengatakan
Meski penting mengajar anak dengan contoh, namun hal itu tidak cukup. Karena anak di kelilingi dengan contoh yang buruk juga, maka anak-anak membutuhkan kata-kata orang tua seperti halnya anak membutuhkan contoh dari orangtua.
Sempatkan waktu membacakan cerita-cerita rakyat yang dapat dijadikan ilustrasi suatu nilai moral. Bagi anak yang terpenting bukan ceritanya, namun kedekatan dengan orang tua. Hal ini akan sangat membantu anak untuk memahami prinsip-prinsip yang diajarkan melalui sikap-sikap dalam tokoh cerita. Jangan biarkan anak menonton film sendirian tanpa ada interaksi bertukar nilai-nilai, karena anak hanya akan menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa nilai.
3.1.5. Membantu Anak Belajar Berpikir.
Yaitu berpikir untuk mereka sendiri. Orang tua dapat membantu perkembangan moral anak dengan member mereka dorongan yang konstan untuk berhenti sejenak dan berpikir, dan untuk mengambil keadaan/kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan. Anak-anak yang lebih banyak berpikir akan lebih banyak mendiskusikan isu-isu moral, menciptakan jalan yang lebih baik melalui tahap-tahap pemikiran moral daripada anak-anak yang tidak banyak berpikir. Caranya, mintalah pada anak untuk berpikir dan merefleksikan diri. Tanyakan padanya bagaimana kalau hal ini terjadi padanya? Berikan anak wakt untuk merefleksikan diri atas perilakunya.
3.1.6. Membantu Anak Memikul Tanggung Jawab Nyata
Upayakan agar anak ikut memikul tanggung jawab tugas di rumah dan dorong mereka agar dapat menyelesaikanya. Biarkan mereka kerjakan sendiri tugas-tugas sekolahnya, atau menjaga adik, atau memelihara hewan peliharaan.
3.1.7. Seimbangkan Antara Kemandirian Dan Kontrol Yang di Berikan
Anak-anak membutuhkan batasan dalam kemandirian, antara tetap berpegang dengan sayap yang mereka miliki. Hal ini cukup rumit. Terlalu banyak kontrol dari orang tua menyebabkan anak berontak dan akan melakukan apa saja untuk mendapat sedikit kebebasan. Namun dengan kebabasan yang melimpah , membuat anak menjadi tidak disiplin.Jika orang tua bersikap lebih demokratis maka perkembangan moral anak akan terkontrol dengan lebih baik.
3.1.7. Cintailah Anak Dan Bantu Mereka Mengembangkan Konsep Diri Positif
Cinta dan kasih sayang orang tua membantu anak menangkap nilai-nilai dan peraturan orang tua. Orang tua yang melewatkan waktu bersama anak secara kuantitatif dan kualitatif sebaik mereka mencintai anak-anak mereka, akan memiliki anak-anak yang mempunyai level perkembangan moral yang tinggi. Membuat variasi kebersamaan dengan anak, atau menciptakan sesuatu yang membahagiakan keluarga, akan membuat anak-anak selalu teringat bahwa kebersamaan adalah bentuk cinta kasih. Mencintai anak-anak bukan berarti memanjakan mereka dan merusak konsep diri yang positif dari anak.
3.1.8. Memupuk Perkembangan Moral dan Menciptakan Keluarga Yang Bahagia
Membantu anak tumbuh dengan moral yang baik dan menciptakan keluarga yang baik adalah benar-benar hal yang sama. JIka orang tua melakukan salah satunya, berarti orang tua melakukan hal yang lainnya. Salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk anak, membuka mata hati dan telinga untuk anak, akan membuat anak mempercayai orang tua serta menjadikan orang tua sebagai satu-satunya tempat anak mencurahkan segalanya. Jika anak-anak merasa ‘terhubung’ dengan keluarga, mereka akan mendapatkan kemudi yang membantu mereka bertahan pada sebuah jalur yang bertanggung jawab dalam menghadapi tekanan dalam kehidupannya, misalnya dari teman sebaya.
3.2. KOMUNIKASI MORAL SEBAGAI PROSES MENGEMBANGKAN MORAL ANAK
Berbicara mengenai moral, pasti akan berpikir bagaiman cara menerangkannya pada anak-anak. Nilai-nilai moral untuk tingkatan anak-anak adalah membedakan baik dan buruk. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang abstrak utnuk dikatakan dengan cara apapun, dan anak biasanya belum mampu menterjemahkan kata-kata verbal.
Anak-anak melihat dan kemudian membuat imajinasi dalam pikirannya. Imajinasi dalam pikiran anak, bahwa suatu tindakan itu benar atau salah memerlukan suatu pengalaman langsung yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung, sehingga membantu proses kemampuan anak untuk mampu merenungkan dan mengolah sesuai dengan kemampuan penangkapannya.
Mengutip Robert Coles tentang kecerdasan moral “Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengingat kaidah dan aturan, hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau di dapur. Moral akan tumbuh dengan mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain, bagaimana berperilaku di dunia ini, pelajaran apa yang ditimbulkan oleh tindakan yang kita lihat dan kita dengar, dan diolah dalam hati mengenai baik buruknya”
Orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam member pemahaman kepada anak. Perlu diingat pembentukan watak memrlukan waktu bertahun-tahun. Dalam waktu tak terbatas orang akan selalu mengkomunikasikan moral, tidak melalui kata-kata namun dengan seluruh pengalaman hidupnya.
3.2.I. Memahami Makna Komunikasi
Komunikasi pada dasarnya adalah suatu proses saling berbagi informasi antar semua mahluk di dunia. Proses terjadi sejak pada linkungan terkecil, yaitu keluarga maupun lingkungan luas di sekitar. Interaksi atau hubungan timbale balik satu sama lain adalah kebutuhan hakiki manusia, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk social. Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya untuk mengisi dan melanjutkan hidupnya. Diperlukan tata cara hidup yang diperlukan agar tidak saling merugikan satu sama lain, tatacara ini diwujudakan dalam bentuk nilai-nilai yang disepakati bersama, yaitu nilai-nilai moral.
3.2.2. komunikasi Yang efektif
Komunikasi adalah kunci semua aspek dalam keluarga, termasuk dalam membangun moral. Ada beberapa hal mengenai cara berkomunikasi secara efektif dengan anak:
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang jelas
Orang tua terlebih dulu perlu untuk mendefinisikan harapan-harapan orang tua bagi anak anak. Dengan menetapkan hal-hal rutin atau prosedur spesifik bagi perilaku tertentu seperti mengerjakan tugas-tugas di rumah atau bersiap-siap untuk pergi tidur, akan membantu anak untuk mengingat perilaku yang orang tua harapkan. Selain itu menyusun sebuah aturan tentang perilaku yang diharapkan dan yang dilarang juga akan membantu anak. Hal-hal diatas merupakan komunikasi yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. Dan orang tua harus selalu ingat tingkat perkembangan anak agar tidak mengharapkan lebih dari kemampuan yang dimiliki anak atau membanjiri anak dengan daftar aturan yang panjang.
Komunikasi yang efektif adalah kooperatif
Lebih dari sekedar mendiktekan harapan yang ada kepada anak, aau menuntut hal-hal tertentu. Komunikasi efektif berarti Berbicara kepada anak, komunikasi yang bersifat dua arah adalah dengan membiarkan anak mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Misalnya menyusun tugas- tugas di rumah atau membuat aturan di rumah.
Komunikasi yang efektif harus konkret
Sampai menginjak masa remaja, anak sangat konkre dalam pemikiran. Mereka kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Oleh karena itu Orang tua harus menggunakan contoh konkret untuk memperjelas harapan orang tua kepada anak.
Komunikasi efektif harus lengkap
Lengkap dalam arti anak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukannya, akan tetapi juga alasan mengapa mereka melakukannya. Hal terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah pengkomunikasian alasan tentang perilaku yang diharapkan. Hal ini berarti orang tua tidak hanya mengatakan kepada anak tentang perilaku yang diharapkan akan tetapi juga mengapa perilaku tersebut penting.
3.2.3. Komunikasi Moral Yang Manusiawi
Setelah memahami makna komunikasi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah menggunakan pendekatan komunikasi yang manusiawi? Karena pada dasarnya orang tua dan anak mempunyai kedekatan yang sangat manusiawi.
Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya saling memberi informasi atau sekedar menceramahi nilai-nilai moral denga kata-kata. Sebenarnya proses komunikasi adalah proses berbagi nilai-nilai, sehingga makna yang dimiliki dapat dimaknai bersama. Ada umpan balik didalamnya yang saling berinteraksi antara orang tua dan anak.
Salah satu kegagalan dalam membagikan nilai-nilai moral adalah orang tua tidak memperhatikan unsur-unsur komunikasi, Yaitu orang tua mampu merendahkan hatinya untuk memahami pikiran anak? Pikiran anak kadang berbeda dengan apa yang orang tua bayangkan karena rentang usia dan pengalaman hidup. Orang tua harus meluangkan waktu untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari bersama anak.
Mengemas pesan moral dalam kalimat sederhana dan menarik perhatian anak, menggunakan media yang tepat, diantaranya adalah bahasa tubuh dan tatapan mata orang tua adalah media yang menarik perhatian anak, serta mencari media lain yang bervariasi, orang tua akan dapat menjadi komunikator yang baik, bersahabat tidak berjarak, seakan-akan orangtua adalah bagian dari pesan itu.
“Anak anak merupakan saksi; anak-anak adalah saksi yang selalu memperhatikan moralitas orang dewasa atau tiadanya moralitas orang dewasa; anak-anak melihat dan mencari isyarat bagaimana orang orang berperilaku” (Robert Coles)
3.2.4. Anak Bukan Obyek Tetapi Subyek
Anak bukan obyek sasaran yang dapat dicekoki dengan berbagai nasihat moral, dia adalah subyek yang sedang mencoba menghayati nilai-nilai, malaksanakannya dan meyakini hal itu sebagai hal yang baik dalam hidupnya. Dan dalam ini kebaikan hati orang dewasa cukup menentukan nasib mereka selanjutnya.
Komunikasi dua arah tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proses transformasi nilai apabila tidak terjadi proses dialog yang setara antara anak dengan orang tua. Moral tidak cukup hanya diinformasikan, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut didialogkan secara horizhontal seperti halnya dua teman yang saling berbagi. Bukan seperti hubungan yang atas dengan bawah atau vertical, tapi horizhontal dalam bentuk berbagi tentang suatu pengalaman hidup.
3.2.5. Mempertimbangkan Proses Menangkap Pesan Moral
Pada dasarnya suatu proses komunikasi moral bertujuan mengembangkan perilaku anak menjadi manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakatnya. Tujuan utama membentuk perilaku inilah yang paling sulit, karena pada dasarnya anak harus mengetahui terlebih dahulu atau berwawasan mengenai nilai-nilai moral. Wawasan ini akan masuk dalam pikirannya dan akhirnya menggerakan kesadaran dalam dirinya dan meyakini sebagai sikap yang benar. Setelah menyadari anak akan melakukan perbuatan tersebut. Lambat laun perilaku tersebut akan berubah menjadi adat kebiasaan. Proses ini berlangsung dalam kesatuan waktu dan saling melengkapi satu sama lain.
Perilaku yang terbentuk pada diri manusia mempunyai tahapan yang seharusnya mempertimbangkan aspek intelektual dan emosional anak secara utuh. Orang tua perlu mempertimbangkan tahapan dimana proses komunikasi moral sedang berlangsung. Komunikasi yang terjadi akan sekaligus mengarah pada proses penyadaran dalam diri anak. Pada tahapan dimana anak memahami nilai-nilai moral, apakah baru sampai tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku yang diharapkan.
• Pengetahuan
Pemahaman seseorang biasanya dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai sesuatu hal. Misal dalam nilai-nilai moral, anak biasanya mengetahui dari apa yang dia lihat dan dia dengar.
Sejak usia dini harus ditanamkan wawasan ini melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dan anak akan tertarik untuk mengembangkannya sejak mereka belajar bicara. Dengan tetap mempertimbangkan tingkatan usia anak. Mengembangkan wawasan kepada anak bukan hal yang mudah, perlu kehati-hatian dan kesabaran orang tua untuk mengembangkan wawasan mengenai anak dan pengembangan moralnya.
• Sikap
Setelah anak mempunyai wawasan yang cukup, maka akan berproses untuk mengolahnya sampai pada tahap menyadari dan meyakini sehingga membentuk suatu sikap. Pada awalnya anak baru sampai tahap meniru atau imitasi. Apabila orang tua menunjukkan sikap yang konsisten, anak-anak akan meyakininya bahwa tindakan itu baik dan pantas ditiru.
Pembentukan sikap ke arah nilai-nilai moral perlu melihat kecenderungan pada umur umur tertentu. Ada saat anak sangat bersifat egois, ada masa anak sangat ingin berinteraksi dan mulai bersikap social.
• Perilaku
Beranjak dari proses kesadaran, anak akan tergerak untuk melakukannya. Pada saat yang tepat hendaknya anak diajak melaksanakan nilai moral. Anak cenderung cepat frustasi bila merasa tidak bisa, maka orang tua harus sabar dalam mendampingi agar anak dapat melakukannya. Contoh-contoh konkret dari orang tua cara melakukannya untuk ditiru pada awalnya , akan sangat mempermudah. Lambat laun anak akan mampu membuat keputusan dan melakukan dengan caranya sendiri.
3.3. ACTION DO SPEAK LOUDER THAN WORDS
Memilih bagaimana harus berperilaku, sebagai orang tua, benar-benar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar jika kita mengucapkannya dalam kata-kata. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus disadari oleh orang tua:
Orang tua Adalah Guru Moral Pertama Bagi Anak
Keluarga adalah kunci pendidikan dasar bagi anak, terutama dalam mengembangkan nilai-nila moral yang menjadi penopang dalam keutuhan pribadinya. Pada awal kehidupannya anak telah dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Anak telah belajar banyak sejak awal, bahkan sebelum dilahirkan, tanpa disadari orang tua sudah mengungkapkan nilai mereka dengan cara mempengaruhi orang lain. Roberts Cole mengatakan bahwa “kehidupan moral anak mendahului kemampuan berbahasanya” Saat anak belum mempunyai kosakata untuk berbicara, ia telah belajar mengungkapkan lewat tindak-tanduknya.semua itu menunjukan ia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan terdekatnya.
Kekasaran dan pertengkaran yang terjadi di depan anak yang sedang belajar mengenai moral akan menjadi trauma negative yang akan merusak perkembangan jiwanya. Oleh karena itu orang tua harus dapat memastikan perilaku moral yang akan diambil oleh anak adalah perilaku moral terbaik yang diharapakan oleh orang tua dan orang tua inginkan sebagai contoh untuk anak.
Orang Tua Mencoba Menemukan Isu-isu Moral Untuk Dibicarakan (pada saat isu-isu itu timbul), Sehingga Anak Dapat Mendengar Keyakinan Moral Yang Orang tua Miliki
Bahan pembicaran yang menarik bagi banyak orang biasanya menarik perhatian anak. Lewat perbincangan dalam keluarga , Orang tua dapat menyimak pemikiran moral anak dan “menarik” anak ke tingkatan moral yang lebih tinggi.
Satu hal yang penting dari metode ini adalah anak belajar mengangkat pelajaran tentang nilai empati terhadap suatu peristiwa, (misalnya, kasus pemboman Bali) bagaimana ia berdoa agar orang yang jahat terhadap orang lain ditangkap. Orang tua harus menunjukan bahwa orang tua sependapat dengannya bahwa mencelakakan orang lain itu SALAH.
Ambilah Sikap Aktif Melawan “racun” Perkembangan Moral Anak
Banyak racun yang sering bertentangan dengan nilai moral seperti acara televisi tertentu, film,music,video game, dan situs internet. Orang tua harus mencoba menjelaskan tentang kekhawatiran tersebut kepada anak, dan menetapkan standar, serta bertahan pada apa yang telah ditetapkan.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa hampir semua orang tertarik pada televisi dan multi media. Terutama anak-anak, tayangan visual ini sangat berpengaruh pada jiwa anak, jika anak sudah menyukainya akan sulit orang tua memberitahu salah dan benar melalui kata-kata verbal, karena yang dapat merangsang pengaruh pada perasaan dan pikiran adalah image visual . Dan orang yang telah terbiasa hidup didalam image visual (kebudayaan citra dan virtual)akan sangat sulit tergerak oleh kata-kata.
Oleh karena itu orang tua haruslah bersikap tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan moral yang terlihat oleh anak di televisi atau dimanapun.Dengan kata-kata yang sederhana dan sikap konsisten yang meyakinkan bahwa semua penyimpangan itu bukanlah prinsip orang tuanya.
Mengunakan Pertanyaan Untuk Memperluas Kemampuan Anak dengan Menggambarkan perspektif Orang Lain
Menggunakan pertanyaan jauh lebih baik daripada sekedar pernyataan. Misalkan anak menyakiti adiknya, Sebaik tidak hanya sekedar mnenghardiknya dan mengatakanitu tidak baik, tetapi dengan mengembangkan pertanyaan yang harus dijawab oleh anak. Contoh,”Apa yang kamu rasakan jika orang lain memperlakukanmu seperti itu?.
Memperhatikan Anak dan “tangkap” Mereka ketika bertindak secara Moral yang Baik
Dengan memberitahukan kepada anak perilakunya yang baik, dengan menggambarkan apa yang telah dilakukannya dengan baik dan bagaimana orang tua menghargai hal itu.

B A B I V
P E N U T U P
4.1. KESIMPULAN
ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPAN YANG DIJALANINYA
Anak-anak kadang seperti tape perekam atau burung beo. Mereka mencontoh dan mengulang apa yang mereka dengar, dan lebih-lebih apa yang mereka lihat atau mereka amati. Hal ini benar untuk perilaku, sikap, dan pembentukan moral serta pilihan hidup. Ada sebuah tulisan yang dapat dijadikan pegangan oleh orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak agar perkembangan moral anak terjaga dengan baik, karenannya orang tua harus selalu menyadari bahwa mengajarkan sesuatu pada anak tidaklah cukup hanya secara verbal, namun juga non-verbal.
Jika anak hidup dengan kecaman, maka ia akan belajar untuk menyalahkan.
Jika anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar untuk berkelahi
Jika anak hidup dengan ejekan, ia akan belajar untuk selalu merasa malu
Jika anak hidup dengan rasa malu, ia akan belajar untuk merasa bersalah
Jika anak hidup dengan toleransi, ia akan belajar untuk bersabar
Jika anak hidup dalam dorongan dan semangat, ia akan belajar untuk percaya diri
Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai.
Jika anak hidup dengan kejujuran, ia akan belajar keadilan
Jika anak hidup dengan rasa aman. Ia akan belajar untuk memiliki keyakinan
Jika anak hidup dengan restu dan persetujuan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri
Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, mereka belajar untuk menemukan cinta di dunia ini.
Orang tua perlu membuktikan kepada anak bahwa dengan presepsi diri yang positif mereka akan mampu menghadapi apapun, baik keberhasilan maupunkekecewaan, tanpa harus merasa terlalu ‘tinggi’ atau terlalu ‘rendah’.
Serta perlu juga mengajarkan kepada anak dan menunjukkan kepada mereka, bahwa sekacau atau sejahat apapun dunia ini, masih selalu akan ada orang-orang yang berpikir positif, yang berhati baik. Masih selalu aka nada cinta dan sayang di dunia mereka.
4.2. SARAN-SARAN
SEPULUH TIPS YANG HARUS DIPEGANG TEGUH OLEH ORANG TUA MENGENAI PERKEMBANGAN MORAL ANAK
1. Membuat komitmen untuk meningkatkan moral anak
Jika orang tua benar-benar menginginkan untuk mningkatkan moral seorang anak, buatlah komitmen pribadi untuk mewujudkannya, dan jangan berhenti sampai itu terwujud. Komitmen membutuhkan semangat dari kedua orang tua. Meningkatkan moral anak adalah bagian dari suatu proses perkembangan orang tua juga.
2. Jadilah sebuah contoh moral yang kuat
Orang tua adalah guru pertama dan yang terkuat, karena itu pastikan perilaku moral yang diambil anak dari orang tua adalah perilaku yang orang tua pikirkan untuk mereka contoh.
3. Ketahui keyakinan sebagai orang tua dan bagilah pada anak-anak
Sediakan waktu untuk berpikir tentang nilai-nilai yang dimiliki. Selanjutnya bagilah kepada anak dengan teratur dan menjelaskan apa yang orang tua rasakan. Anak akan mendengarkan pesan-pesan tanpa akhir tentang keyakinan orang tuanya, oleh karena itu penting bagi anak untuk mendapatkan standar moral orang tua.
4. Menggunakan momen-momen untuk mengajarkan sesuatu/tindakan moral
Momen ini bukanlah suatu momen yang direncanakan, tetapi momen yang muncul secara tidak terduga. Dengan mengambil keuntungan dari momen tersebut, karena kesempatan seperti ini membantu anak untuk mengembangkan keyakinan yang solid dan akan membantu anak, membimbing perilakunya sepanjang hidup.
Prinsipnya adalah kepekaan dan kreativitas orang tua, bahwa apapun yang dialami setiap saat adalah momen bermakna bagi anak. Atau dengan menjadikan anak sebagai teman berbagi pendapat ketika melihat kejadian atau momen menarik yang ditemui.
5. Menggunakan disiplin sebagai pelajaran moral
Disiplin yang efektif memastikan bahwa anak tidak hanya mengenali mengapa perilakunya salah, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya pada lain waktu. Tegas dan konsisten adalah cara yang paling mudah untuk dipahami anak.
6. Miliki harapan perilaku moral
Penelitian menunjukan bahwa anak yang bertindak secara moral mempunyai orang tua yang memiliki harapan bagi mereka untuk melakukan hal tersebut. Hal ini mnyiapkan sebuah standar bagi perilaku anak.dan membuat mereka mengetahui dengan jelas nilai yang orang tua miliki.
Berikan standar moral di rumah, kemudian secara konsisten berikan dorongan sampai anak menginternalisasi hingga menjadi aturan mereka. Buat standar tersebut bersama dengan anak, dan sepakati aturan mainnya.
7. Refleksikan efek perilaku
Salah satu latihan pembentukan moral terbaik adalah dengan menunjukkan pengaruh perilaku anak terhadap orang lain. Cara ini meningkatkan pertumbuhan moral anak, membantu anak benar-benar membayangkan seperti apa berada di posisi korban, sehingga akan lebih sensitive terhadap bagaimana pengaruh perilakunya terhadap orang lain. Tunjukan dengan jelas akibat dari apa yang dilakukannya dan ajak anak untuk memperbaiki situasi.
8. Berilah dorongan/ penguatan pada perilaku moral
Salah satu cara paling sederhana untuk membantu anak mempelajari perilaku baru adalah dengan memberikan dorongan/penguatan pada perilaku tersebut begitu perilaku timbul. Jadi dengan sengaja ‘Tangkap’ saat anak bertindak secara morala dan beritahulah anak tentang perilaku baiknya tersebut dengan menggambarkan apa hal yang baik yang telah dilakukannya dan mengapa orang tua menghargainya.
9. Prioritaskan moral setiap hari
Anak tidak mempelajari bagaimana berperilaku moral dari membaca hal tersebut, namun dari melakukan hal-hal yang baik. Doronglah anak untuk melakukan suatu perubahan pada dunianya, dan bantu anak untuk mengenali efek positif pada ekspresi wajah orang yang ditujunya. Latihlah anak untuk peka terhadap bahasa tubuh orang lain. Bagaimana jika orang lain marah, kecewa, atau takut kalau anak berlaku tidak sopan. Kemudian tanyakan kepada anak bagaimana seharusnya ia bersikap pada orang lain. Anak akan semakin tidak tergantung pada bimbingan orang dewasa dengan memasukan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari hingga teradopsi menjadi perilaku mereka sendiri. Hal ini baru terjadi jika orang tua menekankan pada pentingnya kebajikan terus menerus kepada anak, berlatih berulang-ulang perilaku-perilaku moral tersebut.
10. The Golden Rule
Ajari anak aturan-aturan universal yang telah membimbing berbagai peradaban selama berabad-abad. Misalnya,”perlakukan orang lain seperti orang lain seperti kau ingin diperlakukan”. Ingatkan anak untuk bertanya pada dirinya sebelum ia bertindak. Hal ini membantu anak untuk berpikira tentang perilakunya dan konsekuensinya pada orang lain. Jadikan aturan aturan tersebut sebagai prinsip moral keluarga.
Perkembangan moral adalah sebuah proses yang berjalan secara bertahap dan perlahan, namun terus berlanjut untuk tumbuh. Kita hanya memastikan anak-anak tumbuh dijalur yang benar.
Apabila kita mau menyadari bahwa anak-anak sangat bergantung pada kita, bagaimana mereka melihat kita, tanggung jawab dipundak orang tua memanglah sangat besar. Kita berproses dan belajar bersama anak-anak, maka tidak ada salahnya kita mencoba banyak hal kreatif yang bisa kita lakukan sejak dini, sejak sekarang melalui kehidupan sehari-hari secara wajar dan menyenangkan.
By : erie siti syarah
(paudfip.umj cireundeu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalenderku

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jun   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Flickr Photos

More Photos

Arsipku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: